Teknologi
Teknologi Hypersonic dan Redefinisi Deterrence dalam Arsitektur Keamanan Indo-Pasifik
Pengujian dan penyebaran rudal hypersonic oleh Tiongkok, Rusia, dan AS dalam tahun terakhir telah menggeser paradigma penangkalan (deterrence) dan kalkulasi pertahanan di kawasan Indo-Pasifik. Kecepatan dan kemampuan manuver rudal jenis ini menembus sistem pertahanan udara dan misil tradisional, membuat asumsi lama tentang stabilitas berbasis mutually assured destruction (MAD) menjadi usang. Negara-negara seperti Australia, Jepang, dan Korea Selatan kini berinvestasi besar-besaran dalam sistem peringatan dini berbasis satelit dan senjata penghancur rudal berkecepatan tinggi. Dinamika ini menciptakan dilema keamanan klasik, di mana upaya satu negara untuk meningkatkan keamanannya dipersepsikan sebagai ancaman oleh pihak lain, memicu spiral perlombaan senjata. Bagi Indonesia, yang wilayah udaranya luas dan rentan terhadap pelintasan aset strategis semacam ini, perkembangan teknologi hypersonic menuntut evaluasi ulang terhadap doktrin pertahanan udara dan sistem pengawasan wilayah kedaulatan. Implikasi jangka pendek adalah kebutuhan mendesak untuk memodernisasi radar dan sistem identifikasi. Jangka panjang, Indonesia harus terlibat dalam dialog internasional untuk membangun norma dan pembatasan senjata hypersonic, atau risiko menjadi wilayah yang 'terlalu tembus' dalam konflik hipotetis antara kekuatan besar, merusak netralitasnya.
Entitas yang disebut
Lokasi: Tiongkok, Rusia, AS, Indo-Pasifik, Australia, Jepang, Korea Selatan, Indonesia