Sosial Budaya

Perubahan Sosial Budaya Akibat Digitalisasi: Generasi Z dan Identitas Nasional di Era AI

27 Agustus 2026 Indonesia, global 26 views

Digitalisasi dan AI telah menggeser preferensi generasi Z Indonesia ke konten global, mengancam identitas nasional dan kohesi sosial. Dalam konteks geopolitik, erosi identitas ini membuka celah bagi aktor asing untuk melakukan destabilisasi melalui disinformasi, sehingga memerlukan strategi kebudayaan yang terintegrasi dengan pertahanan negara. Tanpa revitalisasi konten lokal dan pengelolaan AI yang tepat, posisi strategis Indonesia di kawasan dapat melemah.

Perubahan Sosial Budaya Akibat Digitalisasi: Generasi Z dan Identitas Nasional di Era AI

Digitalisasi dan penetrasi kecerdasan buatan (AI) telah mengubah lanskap sosial budaya secara fundamental, terutama di kalangan generasi Z. Survei nasional yang dirilis oleh Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) pada Mei 2026 mengungkapkan bahwa 78% generasi Z Indonesia (usia 15–25) lebih sering mengonsumsi konten budaya global—seperti K-pop, film Hollywood, dan gim—dibandingkan konten lokal. Fenomena ini bukan sekadar perubahan preferensi konsumsi, melainkan sinyal erosi identitas nasional yang berpotensi mengancam kohesi sosial dan ketahanan budaya. Dalam perspektif geopolitik, melemahnya ikatan identitas dapat menciptakan celah bagi aktor asing untuk memanfaatkan disinformasi dan fragmentasi sosial sebagai alat destabilisasi, yang secara langsung berdampak pada keamanan nasional Indonesia.

Digitalisasi dan Erosi Identitas Nasional: Ancaman Keamanan Lunak (Soft Security)

Penggunaan AI generatif yang semakin masif untuk menciptakan lagu, tari, dan cerita telah mempercepat pergeseran minat dari kesenian tradisional ke produk budaya global. Analisis sosiologis menunjukkan bahwa digitalisasi mengancam ketahanan budaya nasional, terutama di daerah perkotaan yang menjadi pusat penetrasi teknologi. Bagi Indonesia, negara dengan keragaman etnis dan bahasa terbesar di dunia, erosi identitas ini mengikis modal sosial yang diperlukan untuk stabilitas nasional. Dari sudut pandang hubungan internasional, fenomena ini menempatkan Indonesia dalam posisi rentan terhadap persaingan soft power antarnegara besar. Korea Selatan, Amerika Serikat, dan China secara aktif mempromosikan konten budaya mereka sebagai alat diplomasi, sementara konten lokal Indonesia belum mampu bersaing secara setara di platform digital. Jika tidak dikelola, penurunan sense of belonging pada bangsa dapat menjadi faktor yang memperlemah daya tahan nasional dalam menghadapi tekanan geopolitik.

Implikasi terhadap Stabilitas Kawasan dan Posisi Strategis Indonesia

Erosi identitas nasional yang dipicu digitalisasi dan AI memiliki implikasi langsung terhadap stabilitas regional. Indonesia sebagai negara dengan populasi terbesar di ASEAN dan poros maritim global membutuhkan kohesi sosial yang kuat untuk menjaga stabilitas politik dalam negeri, yang pada gilirannya mempengaruhi keseimbangan kekuatan di kawasan. Dalam jangka pendek, munculnya generasi yang kurang memiliki ikatan emosional dengan bangsa dapat memicu fragmentasi sosial dan menurunnya partisipasi dalam pembangunan nasional. Dalam jangka panjang, pemerintah perlu merevitalisasi kurikulum pendidikan kewarganegaraan dan seni budaya, mendorong produksi konten lokal berkualitas di platform digital, serta mengelola AI sebagai alat preservasi budaya, bukan substitusi. Isu ini juga terkait erat dengan keamanan nasional, karena erosi identitas dapat dieksploitasi oleh aktor asing melalui kampanye disinformasi yang menargetkan generasi muda. Tanpa strategi kebudayaan yang komprehensif, Indonesia berisiko kehilangan leverage dalam diplomasi budaya dan melemahkan posisi tawar di forum internasional.

Pada akhirnya, digitalisasi dan AI adalah alat yang netral, namun dampaknya terhadap identitas nasional sangat bergantung pada kebijakan dan respons strategis negara. Indonesia harus memandang ketahanan budaya sebagai bagian integral dari pertahanan negara, bukan sekadar urusan kementerian pendidikan atau kebudayaan. Revitalisasi konten lokal, penguatan literasi digital, dan diplomasi budaya yang agresif menjadi langkah krusial untuk menjaga identitas di tengah arus globalisasi. Kegagalan dalam mengelola transformasi sosial budaya ini tidak hanya akan mengancam kohesi internal, tetapi juga mengurangi kapasitas Indonesia untuk memproyeksikan pengaruh di kawasan. Oleh karena itu, integrasi antara kebijakan kebudayaan dan strategi keamanan nasional menjadi sebuah keniscayaan di era AI.

Entitas yang disebut

Organisasi: Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN)

Lokasi: Indonesia, Hollywood