Lingkungan

Perubahan Iklim dan Keamanan Maritim: Ancaman Kenaikan Air Laut terhadap Pangkalan TNI AL

29 September 2026 Indonesia, Asia Tenggara 15 views

Perubahan iklim mengancam keamanan maritim Indonesia dengan potensi genangan di pangkalan utama TNI AL di Surabaya, Jakarta, dan Ambon, yang dapat menghambat mobilitas armada dan logistik militer. Secara geopolitik, kelemahan ini dapat dimanfaatkan oleh kekuatan global seperti Tiongkok dan AS untuk memperkuat pengaruh di kawasan, sehingga Indonesia perlu mengintegrasikan risiko iklim ke dalam doktrin pertahanan. Respons strategis yang adaptif dapat memperkuat kedaulatan dan membangun citra Indonesia sebagai pemimpin dalam mitigasi risiko iklim di kawasan Indo-Pasifik.

Perubahan Iklim dan Keamanan Maritim: Ancaman Kenaikan Air Laut terhadap Pangkalan TNI AL

Perubahan iklim telah berevolusi dari sekadar isu lingkungan menjadi ancaman eksistensial bagi arsitektur keamanan global, terutama bagi negara kepulauan seperti Indonesia. Kenaikan permukaan air laut yang dipicu oleh pemanasan global tidak hanya mengancam ekosistem pesisir dan permukiman warga, tetapi secara langsung menggerus kapasitas pertahanan maritim nasional. Fakta bahwa pangkalan utama Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut (TNI AL) di Surabaya, Jakarta, dan Ambon diprediksi akan mengalami genangan dalam satu dekade mendatang menempatkan isu perubahan iklim pada posisi strategis dalam perencanaan pertahanan negara. Kondisi ini menghadirkan dilema ganda: di satu sisi, mobilitas armada dan rantai logistik militer terhambat; di sisi lain, biaya adaptasi infrastruktur menjadi beban baru bagi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Dari perspektif geopolitik, fenomena ini bukan lagi soal teknis, melainkan menyangkut kedaulatan dan daya tangkal Indonesia di kawasan.

Ancaman Kenaikan Air Laut terhadap Infrastruktur Pertahanan: Dimensi Operasional dan Geopolitik

Keputusan Kementerian Pertahanan untuk mengalokasikan anggaran relokasi dan pembangunan tanggul di ketiga pangkalan tersebut menunjukkan kesadaran akan urgensi ancaman ini. Namun, langkah adaptif jangka pendek ini belum sepenuhnya menjawab kebutuhan strategis jangka panjang. Genangan di pangkalan tidak semata-mata soal fisik bangunan, melainkan berdampak langsung pada kesiapan operasional armada TNI AL. Jika dermaga dan gudang amunisi terendam, maka waktu reaksi kapal perang dalam menghadapi ancaman keamanan maritim di perairan strategis seperti Selat Malaka, Laut Jawa, dan Laut Banda akan berkurang signifikan. Dari perspektif keseimbangan kekuatan di kawasan, potensi kelemahan pada titik-titik vital pertahanan Indonesia dapat mengubah dinamika strategis. Negara-negara dengan kepentingan di wilayah tersebut, seperti Tiongkok dan Amerika Serikat, dapat mengeksploitasi kerentanan ini untuk memperkuat posisi mereka melalui aliansi atau kehadiran militer yang lebih intensif. Hal ini menempatkan Indonesia dalam posisi yang rentan, di tengah persaingan ketat antara kekuatan global di Indo-Pasifik.

Implikasi Geopolitik dan Kebutuhan Adaptasi Strategis: Menuju Doktrin Pertahanan yang Tangguh terhadap Iklim

Dalam konteks hubungan internasional, ancaman perubahan iklim terhadap keamanan maritim Indonesia membuka dua dimensi penting. Pertama, secara internal, Indonesia dituntut untuk mengintegrasikan isu iklim ke dalam doktrin pertahanan nasional. Doktrin pertahanan yang selama ini berfokus pada ancaman militer konvensional harus diperluas untuk mencakup risiko lingkungan yang berdampak sistemik pada logistik, mobilitas, dan postur kekuatan. Ini memerlukan pergeseran paradigma di tubuh TNI AL, dari sekadar respons terhadap ancaman tradisional menjadi manajemen risiko multidimensi yang mencakup bencana iklim. Kedua, secara eksternal, isu ini menjadi pintu masuk bagi penguatan kerja sama regional, khususnya dengan negara-negara Pasifik yang juga rentan terhadap kenaikan air laut. Forum seperti Pacific Islands Forum (PIF) atau ASEAN Maritime Forum dapat menjadi wahana bagi Indonesia untuk memimpin inisiatif mitigasi bersama, sekaligus membangun citra sebagai middle power yang proaktif dalam menghadapi tantangan global. Namun, kerja sama ini tidak lepas dari dinamika persaingan global. Negara besar seperti Tiongkok dan Amerika Serikat sering menggunakan isu iklim sebagai alat diplomasi untuk memperluas pengaruh di kawasan Pasifik. Indonesia harus cermat dalam memilih mitra kerja sama agar tidak terjebak dalam politik identitas yang dapat merugikan kepentingan strategis nasional.

Dalam jangka menengah hingga panjang, Indonesia perlu mulai memikirkan relokasi tidak hanya pangkalan, tetapi juga aset-aset pertahanan vital lainnya. Ini bukan sekadar reaksi terhadap ancaman fisik, melainkan langkah antisipatif yang harus diintegrasikan ke dalam Rencana Induk Pertahanan Negara. Lebih dari itu, perubahan iklim harus diinternalisasi sebagai variabel dalam pengambilan keputusan strategis, mulai dari alokasi anggaran hingga pengembangan kapabilitas militer. Jika Indonesia mampu mengubah ancaman ini menjadi peluang untuk melakukan modernisasi pertahanan yang adaptif dan berkelanjutan, maka negara ini tidak hanya akan memperkuat kedaulatannya sendiri, tetapi juga menjadi model bagi negara-negara kepulauan lain di dunia. Refleksi akhirnya adalah bahwa perubahan iklim bukan lagi sekadar isu lingkungan, melainkan test-case bagi ketahanan negara dan kecerdasan geopolitik para pemimpinnya. Kegagalan beradaptasi berarti bukan hanya kerugian infrastruktur, tetapi juga pengurangan signifikan terhadap posisi strategis Indonesia di panggung global.

Entitas yang disebut

Organisasi: TNI AL, Kemhan

Lokasi: Surabaya, Jakarta, Ambon, Indonesia, Pasifik