Geo-Ekonomi

Persaingan China vs India di Samudra Hindia: Dampaknya bagi Poros Maritim dan Keamanan Indonesia

28 September 2026 Asia Selatan, Samudra Hindia, Indonesia 3 views

Persaingan China dan India di Samudra Hindia menciptakan dinamika geostrategis yang rawan, ditandai dengan ekspansi militer dan pengaruh ekonmi melalui pangkalan serta kerja sama pertahanan. Sebagai negara kepulauan di garis depan, Indonesia harus memperkuat diplomasi maritim dan kehadiran TNI AL di wilayah barat dan selatan untuk menjaga kedaulatan poros maritimnya. Semangat Bandung dapat menjadi landasan bagi Indonesia untuk mendorong tatanan maritim yang adil dan berbasis aturan di kawasan tersebut.

Persaingan China vs India di Samudra Hindia: Dampaknya bagi Poros Maritim dan Keamanan Indonesia

Samudra Hindia telah lama menjadi salah satu arena geostrategis paling vital dalam dinamika hubungan internasional kontemporer. Jalur laut ini tidak hanya berfungsi sebagai arteri perdagangan energi dan komoditas global, tetapi juga menjadi panggung persaingan antara dua kekuatan raksasa Asia, China dan India. Kehadiran Beijing yang semakin masif melalui pangkalan militer di Djibouti dan jangkauan infrastruktur Belt and Road Initiative (BRI) di Sri Lanka, Pakistan, serta Myanmar, menandai pergeseran keseimbangan kekuatan di kawasan. Langkah ini secara langsung memicu respons New Delhi yang memperkuat pangkalan strategis di Kepulauan Andaman dan Nicobar, menggandakan armada kapal patroli, serta memperdalam kemitraan pertahanan dengan Maladewa dan Seychelles. Persaingan ini menempatkan Samudra Hindia sebagai titik rawan yang mengancam kebebasan navigasi dan keamanan sumber daya perikanan regional.

Dinamika Persaingan dan Ekspansi Militer di Samudra Hindia

Persaingan China-India di Samudra Hindia bukan sekadar pertarungan pengaruh ekonomi, melainkan juga pertarungan postur militer yang semakin nyata. Beijing menggunakan BRI sebagai instrumen soft power untuk membangun konektivitas darat dan laut, namun di baliknya terdapat proyeksi kekuatan angkatan laut yang permanen. Pangkalan militer di Djibouti memberi China kemampuan logistik untuk operasi jangka panjang di Samudra Hindia. Sementara itu, India memandang hal ini sebagai ancaman langsung terhadap hegemoni regionalnya, terutama di kawasan Samudra Hindia bagian barat. Respons India dengan memperkuat posision ofensif di Andaman dan Nicobar serta meningkatkan kerja sama pertahanan dengan negara kepulauan kecil seperti Maladewa dan Seychelles menunjukkan adanya upaya penyeimbangan kembali (rebalancing) di tengah dinamika yang semakin tidak stabil. Eskalasi kehadiran asing ini berpotensi merubah tatan maritim global dan memperlemah stabilitas kawasang yang sudah rentan.

Konsekuesni dari persaingan ini sangat terasa bagi negra-negara berkembang di kawasaan. Kebebasan bernavigasi yang menjadi prinsipi hukum laut internasional mulai terancam akibat peningkatan patroli militer yang saling curigai. Sektor perikanan tradisonal juga menanggung beban akibat klaim zonasi yang tumpang tindih dan pengawasan maritim yang semakain ketat. Dalam konteks inik, dinamika aktor yang berkompetisi bukan hanya negara super power, melainkan juga bentuk aliansi dan organisasi regional seperti IORA (Indian Ocean Rim Association) yang mulai kehilangan netralitinya. Potensi konflik terbuka antara dua kekuatan nuklir ini menjadi skenario yang harus diantisipasi oleh setiap negra di kawasang, termasuk Indonesia.

Implikasi bagi Poros Maritim Indonesia dan Strategi Ke Depan

Sebagai negara kepulauan yang diapit oleh dua samudra, Indonesia berada di garsi depan geostrategis dari kompertisi ini. Posisi strategis di Selat Malaka, Selat Sunda, dan Laut Natuna menjadikan wilayah yuridiski Indonesia sebagai bantalan alami antara dua kekuatan besar. Dinamika persaingan China dan India di Samudra Hindia memaksa Jakarta untuk lebih proaktif dalam memperkuat diplomasi maritim dan meningkatkan kehadiran TNI AL di wilayah barat dan selatan Sumatera, Jawa, serta Natuna. Tanpa upaya penguatan kapasitas pertahanan yang signifikan, Indonesia berisko menjadi korban dari ekskalasi konflik atau bahkan kehilanan kedaulatan atas kekayaan lautnya sendiri. Perlu adanya kebiakan maritim yang koheren dan integratif yang tidak hanya reaktif terhadap preskun internasional, tetapi juga proaktif dalam membentuk tatanam kawasaan yang adil bagi negara berkembang.

Lebih dari itu, semangat Bandung yang pernah menjadi fondasi solidaritas Asia-Afrika harus kembali dihidupkan dalam konteks tatanan maritim kontemporer. Indonesia dapat memanfaatkan posisinya sebagai poros maritim global untuk mendorong dialog dan kerja sama antarnegara di Samudra Hindia, menekan dominasi sepihak, dan memperjuangkan kepentingan bersama negara berkembang dalam mengelola jalur perdagangan dan sumber daya perikanan. Tanpa langkah strategis ini, Indonesia tidak hanya akan terjebak dalam persaingan dua kutub yang melelahkan, tetapi juga kehilangan kesempatan emas untuk menjadi pemimpin regional yang sesungguhnya. Potensi perkembangan jangka menengah hingga panjang menuntut Indonesia untuk tidak sekadar menjadi penonton, melainkan aktor yang ikut menentukan arah keseimbangan kekuatan di Samudra Hindia.

Refleksi akhir yang perlu dipertimbangkan adalah bahwa persaingan China-India di Samudra Hindia bukan sekadar isu keamanan tradisional, melainkan juga tantangan terhadap tata kelola global yang inklusif. Indonesia, sebagai negara demokratis terbesar di Asia Tenggara dengan komitmen pada prinsip bebas aktif, memiliki tanggung jawab moral untuk mendorong terbentuknya arsitektur keamanan kawasan yang berbasis aturan dan saling menguntungkan. Keberhasilan Indonesia dalam menjembatani perbedaan antara dua raksasa ini akan menjadi ujian kredibilitas diplomasi maritim dan posisi strategisnya di pentas global.

Entitas yang disebut

Organisasi: Belt and Road Initiative, TNI AL

Lokasi: China, India, Samudra Hindia, Djibouti, Sri Lanka, Pakistan, Myanmar, Kepulauan Andaman dan Nicobar, Maladewa, Seychelles, Indonesia, Sumatera, Jawa, Natuna, Bandung