Kebijakan Pertahanan
Persaingan AS-China di Indo-Pasifik: Dampak Perluasan AUKUS pada Postur Pertahanan Indonesia
Pada September 2026, Jepang dan Korea Selatan resmi bergabung dalam pilar kedua AUKUS yang berfokus pada teknologi pertahanan mutakhir, termasuk kecerdasan buatan dan kuantum. Langkah ini memperkuat poros pertahanan AS di Pasifik Barat, namun langsung mendapat kecaman dari China yang menilai AUKUS sebagai NATO-nya Asia. Indonesia, yang secara historis menganut kebijakan bebas aktif, kini berada dalam posisi sulit: kehadiran AUKUS memperkuat stabilitas keamanan di laut lepas namun juga dapat memicu perlombaan senjata regional. Menteri Pertahanan Indonesia Prabowo Subianto menyatakan bahwa Indonesia akan mempererat kerja sama pertahanan bilateral dengan Australia dan AS, khususnya dalam patroli bersama dan transfer teknologi radar, tetapi tetap menolak menjadi anggota formal aliansi. Analis menilai bahwa keterlibatan Jepang dan Korsel di AUKUS akan mengubah keseimbangan kekuatan di Selat Malaka dan Laut Natuna, mengingat kedua negara memiliki kepentingan maritim besar. Implikasi jangka pendek: tekanan diplomatik pada Indonesia untuk menentukan sikap lebih jelas, sementara China akan meningkatkan intelijen dan pengaruh ekonomi di Jakarta. Jangka panjang, Indonesia harus membangun kapasitas pertahanan siber dan antariksa agar tidak tertinggal dalam perlombaan teknologi militer regional.
Entitas yang disebut
Orang: Prabowo Subianto
Organisasi: AUKUS, NATO
Lokasi: Indo-Pasifik, Pasifik Barat, Indonesia, Australia, AS, China, Jepang, Korea Selatan, Jakarta, Selat Malaka, Laut Natuna