Perspektif Global & Regional
Pergeseran Aliansi di Pasifik Selatan: Kepulauan Solomon dan Kompetisi Pengaruh
Penandatanganan perjanjian kerangka kerja sama keamanan antara China dan Kepulauan Solomon pada 2025 telah menjadi katalis bagi pergeseran geopolitik dramatis di Pasifik Selatan. Analisis [lowyinstitute.org](https://www.lowyinstitute.org/publications/security-shifts-pacific-solomon-islands-china-australia) menunjukkan bahwa perjanjian ini, meskipun kontennya tidak sepenuhnya transparan, melambangkan erosi pengaruh tradisional Australia dan Selandia Baru serta kemampuan China untuk menawarkan pakta keamanan alternatif. Dinamika aktor ini memicu reaksi keras dari blok 'Blue Pacific' (AS, Australia, Jepang, Selandia Baru) yang meningkatkan engagement diplomatik dan bantuan pembangunan. Implikasi jangka pendek adalah meningkatnya ketegangan dan potensi militerisasi di kawasan yang relatif damai. Jangka panjang, Pasifik Selatan bisa menjadi proxy baru dalam persaingan strategis, dengan negara-negara kepulauan kecil memanfaatkan persaingan untuk meningkatkan posisi tawar mereka. Bagi Indonesia, yang berbatasan langsung dengan Papua Nugini di Pulau Papua, ketidakstabilan dan meningkatnya pengaruh militer asing di Pasifik Selatan merupakan ancaman keamanan langsung di flank timur. Situasi ini memaksa Indonesia untuk lebih aktif secara diplomatik di forum seperti Melanesian Spearhead Group dan meningkatkan pengawasan perbatasan lautnya.
Entitas yang disebut
Organisasi: China, Australia, Selandia Baru, AS, Jepang, Indonesia, Papua Nugini, Melanesian Spearhead Group, Lowy Institute
Lokasi: Kepulauan Solomon, Pasifik Selatan, Papua, Indonesia