Perspektif Global & Regional

Peran BRICS+ yang Meluas: Menantang Tata Kelola Ekonomi Global dan Pilihan Strategis Indonesia

11 September 2026 Global (BRICS negara-negara) 16 views

Ekspansi BRICS+ menjadi blok ekonomi-politik yang kohesif menantang tata kelola global yang didominasi Barat, menghadirkan dilema strategis bagi Indonesia. Keputusan bergabung atau tidak akan mempengaruhi posisi Indonesia di tengah persaingan kekuatan global dan stabilitas kawasan Indo-Pasifik. Analisis ini menyoroti perlunya kalkulasi pragmatis yang mendalam terkait manfaat nyata keanggotaan terhadap kemandirian ekonomi dan fleksibilitas diplomasi bebas aktif Indonesia.

Peran BRICS+ yang Meluas: Menantang Tata Kelola Ekonomi Global dan Pilihan Strategis Indonesia

Transformasi BRICS dari forum dialog longgar menjadi blok ekonomi-politik yang lebih kohesif—ditandai dengan masuknya Arab Saudi, Iran, Mesir, Ethiopia, dan Argentina—telah memicu perdebatan serius mengenai masa depan tata kelola global. Ekspansi ini tidak sekadar penambahan anggota, melainkan sebuah pernyataan strategis dari negara-negara 'Blok Selatan' untuk mereformasi institusi Bretton Woods yang selama ini didominasi oleh kekuatan Barat. Analisis Chatham House mengindikasikan bahwa BRICS+ kini menguasai porsi signifikan dari produksi energi global, cadangan mineral strategis, dan hampir separuh populasi dunia. Akumulasi sumber daya ini memberikan daya tawar kolektif yang belum pernah terjadi sebelumnya, menantang hegemoni IMF dan Bank Dunia dalam arsitektur keuangan global. Bagi Indonesia, fenomena ini menghadirkan pilihan strategis yang rumit: bergabung dapat memperkuat posisi sebagai juru bicara negara berkembang, namun berpotensi memicu persepsi keberpihakan yang dapat mengundang tekanan diplomatik dan ekonomi dari Amerika Serikat serta sekutunya.

Dinamika Multilateralisme dan Dilema 'Non-Blok'

Perluasan BRICS terjadi di tengah krisis multilateralisme yang semakin dalam. Ketidakpuasan terhadap ketidakseimbangan dalam sistem kuota IMF, hambatan akses pembiayaan pembangunan, serta dominasi dolar AS dalam perdagangan internasional telah mendorong negara-negara emerging economy untuk mencari alternatif. BRICS+ hadir sebagai platform yang menawarkan prinsip 'multilateralisme inklusif' yang lebih berpihak pada kepentingan negara berkembang. Namun, tantangan internal blok ini tidak bisa diabaikan. Dominasi potensial Tiongkok—sebagai ekonomi terbesar dan kreditur utama—menimbulkan kekhawatiran akan terulangnya pola ketergantungan baru, mirip dengan yang dikritik dari institusi Barat. Bagi Indonesia yang menganut prinsip bebas aktif, kalkulasi bergabung dengan BRICS+ harus mempertimbangkan apakah keanggotaan benar-benar memberikan akses pembiayaan dan perdagangan yang lebih adil, atau justru menjebak dalam hierarki baru di dalam Blok Selatan.

Implikasi Terhadap Stabilitas Kawasan dan Posisi Indonesia

Dari perspektif geopolitik kawasan, keputusan Indonesia bergabung atau tidak akan memberikan sinyal kuat kepada aktor regional dan global. Bergabung dengan BRICS+ berarti memperkuat poros 'Global South' yang kerap berseberangan dengan narasi liberal internasional yang didorong AS dan sekutunya. Hal ini dapat mempengaruhi dinamika di Indo-Pasifik, terutama mengingat meningkatnya kompetisi antara Tiongkok dan AS. Di sisi lain, tetap di luar BRICS+ memungkinkan Indonesia untuk mempertahankan fleksibilitas diplomasi, namun berisiko kehilangan pengaruh dalam pembentukan norma baru tata kelola global. Stabilitas kawasan juga bergantung pada kemampuan Indonesia untuk mengelola hubungan dengan kedua kutub kekuatan. Jika BRICS+ berhasil menciptakan mekanisme pembiayaan alternatif yang kredibel, Indonesia bisa memperoleh keuntungan diversifikasi mitra ekonomi. Namun, jika blok ini gagal mengelola perbedaan internal, khususnya antara Arab Saudi dan Iran, Indonesia justru bisa terseret dalam persaingan blok yang kontraproduktif.

Konsekuensi jangka menengah dan panjang dari perluasan BRICS akan sangat bergantung pada kapasitas institusional blok tersebut untuk bertransformasi menjadi kendaraan reformasi yang efektif. Indonesia perlu mencermati apakah BRICS+ mampu mengatasi hambatan struktural seperti disparitas ekonomi antaranggota, kepentingan geopolitik yang berbeda, serta kurangnya mekanisme pengambilan keputusan yang demokratis. Pilihan strategis Indonesia harus didasarkan pada evaluasi pragmatis: sejauh mana keanggotaan dapat memperkuat kemandirian ekonomi nasional, bukan justru menciptakan ketergantungan baru. Refleksi kritis yang muncul adalah bahwa masa depan tata kelola global tidak hanya ditentukan oleh blok mana yang dipilih, tetapi oleh kemampuan Indonesia untuk membangun jembatan dialog dan menavigasi kompleksitas multipolaritas yang semakin tajam.

Entitas yang disebut

Organisasi: BRICS+, Chatham House, IMF, Bank Dunia

Lokasi: Arab Saudi, Iran, Mesir, Ethiopia, Argentina, Indonesia, AS, Tiongkok