Keketuaan Indonesia di ASEAN pada 2026 akan berlangsung di tengah rivalitas struktural antara Amerika Serikat dan Tiongkok yang mencapai titik kritis. Persaingan kedua kekuatan besar ini tidak lagi terbatas pada ranah militer dan ekonomi, melainkan telah merambah ke pengaruh normatif dan aliansi teknologi, seperti dominasi 5G dan kecerdasan buatan. Di Laut China Selatan, sengketa klaim maritim terus memanas, memaksa negara-negara ASEAN untuk mengambil posisi yang semakin sulit untuk dihindari. Dalam konteks ini, ASEAN sebagai organisasi regional menghadapi ujian terberat: menjaga relevansi sambil merawat kohesi internal yang rapuh. Bagi Indonesia, momentum ini sekaligus menjadi batu ujian bagi kepemimpinan regional yang selama ini dibangun di atas prinsip netralitas dan non-intervensi. Inisiatif ASEAN Outward Looking yang diusung Indonesia menjadi strategi untuk tetap netral namun proaktif sebagai fasilitator dialog, bukan sebagai medan pertarungan pengaruh.
Fragmentasi Internal dan Tantangan Konsensus ASEAN
Kelemahan mendasar ASEAN dalam menjembatani rivalitas AS-China terletak pada konsensus internal yang rapuh. Setiap negara anggota memiliki kepentingan strategis yang berbeda-beda terhadap Washington dan Beijing. Myanmar condong ke Tiongkok, Filipina mendekati Amerika Serikat, sementara Singapura dan Vietnam berusaha menjaga keseimbangan yang presisi. Perbedaan ini tercermin dalam respons atas isu Laut China Selatan serta kebijakan investasi teknologi. Fragmentasi internal diperparah oleh kepentingan ekonomi yang saling bertabrakan: beberapa negara sangat bergantung pada investasi infrastruktur Tiongkok melalui Belt and Road Initiative, sementara yang lain mengandalkan kerja sama keamanan dengan Amerika Serikat. Analis menilai bahwa efektivitas ASEAN dalam menjembatani rivalitas sangat bergantung pada kemampuannya menjaga konsensus di tengah tarik-menarik kepentingan. Jika fragmentasi terus berlanjut, ASEAN berisiko menjadi organisasi yang hanya seremonial, tanpa kekuatan untuk mempengaruhi dinamika kawasan.
Implikasi bagi Kepemimpinan Regional Indonesia dan Keseimbangan Kekuatan Kawasan
Bagi Indonesia, tantangan utamanya adalah menjaga kredibilitas sebagai pemimpin regional yang tidak memihak, sambil tetap mengamankan kepentingan nasional di bidang ekonomi dan keamanan. Sebagai negara dengan posisi geografis strategis dan populasi terbesar di ASEAN, Indonesia memiliki modal diplomasi yang kuat. Namun, tekanan untuk memilih salah satu kubu semakin nyata, terutama terkait investasi infrastruktur dari Tiongkok dan kerja sama pertahanan dengan Amerika Serikat. Ketidakmampuan ASEAN untuk menyatukan suara akan mengurangi daya tawar organisasi dalam percaturan global, sekaligus memperlemah posisi Indonesia sebagai pemimpin regional. Dalam jangka menengah dan panjang, stabilitas kawasan dan keseimbangan kekuatan (balance of power) di Asia Tenggara akan sangat dipengaruhi oleh sejauh mana ASEAN mampu bertindak sebagai jembatan yang kredibel, bukan sebagai medan pertarungan pengaruh. Refleksi kritis perlu diarahkan pada perlunya memperkuat mekanisme konsensus dan diplomasi preventif agar ASEAN tetap relevan di tengah polarisasi global yang semakin tajam.