Perspektif Global & Regional
Peralihan Strategi AS di Timur Tengah: Penarikan Pasukan dari Suriah dan Dampaknya bagi Stabilitas Regional
Pemerintahan AS pada awal September 2026 mengumumkan penarikan penuh pasukan tempur dari Suriah dalam waktu 90 hari, mengakhiri kehadiran militer yang telah berlangsung lebih dari satu dekade. Langkah ini didorong oleh prioritas domestik dan pergeseran fokus strategis ke Indo-Pasifik. Penarikan meninggalkan kekosongan keamanan yang segera dimanfaatkan oleh berbagai aktor. Iran mempercepat pengiriman milisi Syiah ke wilayah timur Suriah, sementara Turki memperluas operasi lintas batas melawan kelompok Kurdi di utara. Bagi Indonesia, meskipun tidak memiliki kepentingan langsung di Suriah, stabilitas Timur Tengah sangat relevan karena kawasan ini adalah sumber utama minyak dan gas serta jalur ibadah haji. Kenaikan harga minyak akibat ketidakpastian baru di Suriah berpotensi membebani APBN dan subsidi energi Indonesia. Dalam konteks pertahanan, Indonesia perlu mengantisipasi kemungkinan peningkatan aktivitas radikalisme transnasional yang memanfaatkan kekosongan di Suriah sebagai basis pelatihan. Koordinasi intelijen dengan Interpol dan ASEAN menjadi krusial untuk mencegah dampak sekunder. Secara jangka panjang, realignment kekuatan di Timur Tengah dapat mengubah keseimbangan OPEC dan mempengaruhi posisi Indonesia sebagai importir minyak.
Entitas yang disebut
Organisasi: Interpol, ASEAN, OPEC
Lokasi: AS, Suriah, Iran, Turki, Indonesia, Timur Tengah, Indo-Pasifik