Perspektif Global & Regional

Pemilu AS 2024 dan Dampaknya terhadap Strategi Indo-Pasifik: Kontinuitas atau Perubahan?

22 Agustus 2026 Amerika Serikat, Indo-Pasifik 17 views

Kembalinya Donald Trump ke Gedung Putih melalui Pemilu AS 2024 menghadirkan ambivalensi dalam strategi Indo-Pasifik, dengan kontinuitas di Quad namun pendekatan transaksional yang meningkatkan ketidakpastian keamanan kawasan. Bagi Indonesia, situasi ini memperkuat urgensi untuk mempertegas diplomasi bebas-aktif dengan memperkuat peran ASEAN sambil menjalin kemitraan pragmatis dengan China, sehingga dapat menavigasi persaingan AS-China tanpa kehilangan otonomi strategis. Dalam jangka panjang, ketidakstabilan ini justru menjadi momentum bagi kawasan untuk merumuskan arsitektur keamanan yang lebih mandiri dan inklusif.

Pemilu AS 2024 dan Dampaknya terhadap Strategi Indo-Pasifik: Kontinuitas atau Perubahan?

Kembalinya Donald Trump ke Gedung Putih melalui Pemilu AS November 2024 telah mengguncang lanskap politik domestik dan memicu analisis ulang terhadap arsitektur keamanan kawasan Indo-Pasifik. Doktrin America First yang menjadi ciri khas kepemimpinannya membawa implikasi mendalam bagi negara-negara di kawasan, termasuk Indonesia, yang selama ini mengandalkan keterlibatan Amerika Serikat sebagai penyeimbang strategis terhadap pengaruh China. Pertanyaan mendasar yang mengemuka adalah apakah kembalinya Trump menandai kontinuitas atau perubahan fundamental dalam strategi Indo-Pasifik Washington, dan bagaimana hal ini memengaruhi keseimbangan kekuatan (balance of power) yang rapuh di kawasan. Dalam konteks ini, Pemilu AS tidak sekadar memilih pemimpin, melainkan menentukan arah kebijakan luar negeri yang lebih pragmatis dan kurang prediktabel.

Kontinuitas di Tengah Ketidakpastian: Quad dan Pendekatan Transaksional Trump

Meskipun retorika America First kerap diartikan sebagai potensi penarikan diri AS dari komitmen multilateral, data menunjukkan bahwa Trump tetap mempertahankan kerja sama Quad—aliansi kuadrilateral antara AS, Jepang, Australia, dan India—serta memperkuat penjualan senjata ke Australia dan Jepang. Langkah ini menandakan adanya kontinuitas dalam aspek militer dan teknologi pertahanan. Namun, pendekatan transaksional yang dianut Trump terhadap aliansi—di mana dukungan keamanan dikaitkan secara langsung dengan kontribusi finansial dan kepatuhan politik—menciptakan ambivalensi. Negara-negara seperti Korea Selatan dan Jepang dihadapkan pada tekanan untuk meningkatkan belanja pertahanan secara signifikan. Konsekuensi dari pendekatan transaksional ini langsung terasa di Laut China Selatan, di mana ketidakpastian meningkat. Dengan berkurangnya jaminan keamanan otomatis dari AS, negara-negara ASEAN—khususnya Filipina dan Vietnam—harus menghadapi kemungkinan bahwa Washington akan lebih selektif dalam merespons klaim-klaim maritim Beijing. Bagi ASEAN sebagai organisasi regional, situasi ini memperkuat urgensi untuk memperdalam kohesi internal dan mengembangkan arsitektur keamanan yang tidak sepenuhnya bergantung pada kekuatan eksternal. Ironisnya, meskipun Trump tetap mempertahankan Quad, format ini lebih berfungsi sebagai instrumen penyekatan strategis daripada sebagai wadah kerja sama inklusif—sebuah pendekatan yang berpotensi mempolarisasi kawasan.

Implikasi bagi Indonesia: Antara Otonomi Strategis dan Pragmatisme

Konsep Indo-Pasifik sebagai kerangka geopolitik kini berada di persimpangan jalan. Bagi Indonesia, kembalinya Trump menghadirkan tantangan sekaligus peluang untuk mempertegas arah diplomasi bebas-aktif. Di masa depan, Indonesia perlu menyesuaikan strateginya: lebih aktif dalam memperkuat peran ASEAN sebagai pusat pertumbuhan dan stabilitas, sambil menjalin kemitraan pragmatis dengan China di bidang ekonomi dan infrastruktur. Ketidakpastian yang dihasilkan oleh pendekatan transaksional Trump justru membuka ruang bagi Indonesia untuk menavigasi persaingan AS-China tanpa harus terikat secara eksklusif pada salah satu pihak. Negara-negara kecil dan menengah di kawasan kini dihadapkan pada dilema: apakah akan tetap bergantung pada jaminan keamanan AS yang tidak lagi otomatis, atau justru mempercepat diversifikasi kemitraan strategis. Bagi Indonesia, pilihan yang paling rasional adalah memperkuat omni-directional balancing—sebuah pendekatan yang memungkinkan Jakarta untuk menjaga hubungan baik dengan semua kekuatan besar sambil mempertahankan otonomi strategisnya.

Secara jangka panjang, dampak dari kebijakan luar negeri Trump terhadap keseimbangan kekuatan Indo-Pasifik akan bergantung pada sejauh mana negara-negara di kawasan mampu merespons ketidakpastian ini. Jika AS terus menerapkan pendekatan transaksional, maka kohesi aliansi tradisionalnya—termasuk Quad—akan semakin bersifat ad hoc dan kurang terprediksi. Sebaliknya, China kemungkinan akan memanfaatkan situasi ini untuk memperkuat pengaruhnya melalui jalur ekonomi dan diplomasi bilateral. Refleksi yang perlu diambil adalah bahwa ketidakstabilan yang muncul bukanlah ancaman semata, melainkan juga momentum bagi Indonesia dan ASEAN untuk merumuskan kembali arsitektur keamanan kawasan yang lebih mandiri, inklusif, dan berkelanjutan. Dalam konteks ini, kontinuitas atau perubahan dalam strategi Indo-Pasifik AS bukanlah satu-satunya variabel yang menentukan—respons kolektif negara-negara kawasanlah yang pada akhirnya akan membentuk tatanan regional baru.

Entitas yang disebut

Orang: Donald Trump

Organisasi: Quad, ASEAN

Lokasi: Amerika Serikat, Gedung Putih, Indo-Pasifik, Indonesia, Australia, Jepang, China, Laut China Selatan, Eropa, Timur Tengah