Modernisasi dan ekspansi China Coast Guard (CCG) tidak semata-mata merupakan pembangunan kapasitas penegakan hukum maritim biasa, melainkan bagian integral dari strategi geopolitik Tiongkok yang lebih luas untuk menegaskan dominasi regional. Program ini mencerminkan pergeseran dari diplomasi konvensional menuju praktik gray-zone yang dirancang untuk mengubah status quo tanpa memicu konflik terbuka. Dalam konteks persaingan kekuatan besar global, penjaga pantai China berfungsi sebagai instrumen diplomasi coercive yang efektif, memungkinkan Beijing untuk menetapkan norma dan fakta di lapangan sambil menjaga ruang manuver politik.
Penjaga Pantai sebagai Ujung Tombak Strategi Maritim Abu-abu
Konsep diplomasi coercive atau taktik zona abu-abu (gray-zone tactics) menemukan ekspresi fisiknya dalam armada CCG yang besar dan modern. Dengan mengerahkan kapal berukuran besar dan berpersenjata—sering kali lebih kuat daripada kapal perang ringan beberapa negara tetangga—China mampu mempertahankan kehadiran permanen di sekitar fitur-fitur yang disengketakan di Laut China Selatan. Operasi seperti pengawalan kapal penangkap ikan, pemblokiran manuver militer asing, dan patroli agresif berfungsi untuk menormalisasi klaim maritimnya. Pergeseran dari Angkatan Laut (PLAN) ke CCG dalam operasi sehari-hari ini adalah pilihan strategis yang cerdik; interaksi antar penjaga pantai dikategorikan sebagai 'penegakan hukum', sehingga menurunkan ambang eskalasi dan membuat respons militer dari negara lain tampak sebagai provokasi yang tidak proporsional.
Implikasi terhadap Stabilitas Kawasan dan Respons ASEAN
Strategi ini secara langsung menantang kapasitas dan kohesi ASEAN. Negara-negara anggota, dengan armada penjaga pantai yang umumnya lebih kecil dan terbatas daya jelajahnya, menghadapi kesulitan dalam menandingi kehadiran CCG yang terus-menerus dan agresif. Ketimpangan kekuatan ini secara gradual menggeser keseimbangan kekuatan (balance of power) maritim di kawasan, mengikis kedaulatan negara-negara pantai dan menguji efektivitas mekanisme konsensus ASEAN. Pengalaman Filipina di Mischief Reef atau Shoal atau Vietnam di sekitar rig minyaknya menyediakan studi kasus tentang bagaimana taktik ini mengikis kendali operasional. Ketidakmampuan kolektif ASEAN untuk menghasilkan respons maritim yang terpadu dan kuat semakin memperlebar ruang manuver strategis Beijing, yang berpotensi memicu perlombaan senjata maritim (naval arms race) di tingkat regional sebagai bentuk kompensasi.
Bagi Indonesia, perkembangan ini bukan sekadar isu keamanan maritim periferal, melainkan tantangan langsung terhadap kepentingan strategis nasional. Insiden di sekitar Kepulauan Natuna, di mana kapal CCG dan kapal ikan China beroperasi di dalam Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia (ZEEI), menunjukkan bahwa tekanan diplomasi coercive tidak mengenal batas klaim tradisional 'sembilan-dash line'. Hal ini menuntut respons yang multidimensi dan sepadan. Penguatan Bakamla tidak lagi menjadi pilihan, melainkan sebuah keharusan, dengan fokus pada peningkatan kapasitas pemantauan, akuisisi kapal berdaya jelajah jauh, dan penyempurnaan kerangka hukum untuk penegakan kedaulatan di ZEEI. Selain itu, Indonesia perlu memimpin upaya di dalam ASEAN untuk membangun sinergi operasional antar penjaga pantai negara anggota, berbagi intelijen maritim, dan mungkin mengoordinasikan patroli bersama di area-area sensitif untuk menunjukkan kesatuan dan meningkatkan biaya (cost) bagi aksi unilateral.
Dalam perspektif jangka panjang, keberhasilan taktik CCG dapat mendorong normalisasi penggunaan instrumen 'semi-militer' dalam sengketa maritim secara global, menginspirasi aktor lain untuk mengadopsi metode serupa. Hal ini akan semakin mengaburkan garis antara penegakan hukum dan agresi militer, memperumit rezim hukum internasional yang ada. Untuk menjaga stabilitas kawasan, diperlukan tidak hanya peningkatan kemampuan nasional negara-negara ASEAN, tetapi juga keterlibatan dan penegakan komitmen dari mitra dialog seperti Amerika Serikat, Jepang, Australia, dan India untuk memastikan bahwa keseimbangan kekuatan di Laut China Selatan tidak sepenuhnya bergeser. Refleksi mendalam diperlukan: dunia menyaksikan evolusi bentuk baru kompetisi kekuatan, di mana kapal penjaga pantai bisa sama menentukan dengan kapal perang dalam membentuk tatanan geopolitik masa depan.