Pangan/Energi

Krisis Pangan Global Akibat Perang Ukraina dan El Nino: Strategi Ketahanan Pangan Indonesia

25 September 2026 Indonesia, global 16 views

Perang Rusia-Ukraina yang diperparah El Nino menyebabkan lonjakan harga pangan global, mengancam ketahanan pangan Indonesia yang bergantung pada impor. Jakarta merespons dengan perluasan areal tanam, substitusi impor sagu dan singkong, serta perjanjian bilateral dengan India dan Thailand untuk jaminan pasokan beras. Krisis ini mendorong pergeseran strategi menuju kemandirian pangan sebagai prioritas keamanan nasional, dengan implikasi geopolitik terhadap stabilitas kawasan dan posisi Indonesia dalam rantai pasok global.

Krisis Pangan Global Akibat Perang Ukraina dan El Nino: Strategi Ketahanan Pangan Indonesia

Krisis pangan global yang dipicu oleh perang Rusia-Ukraina yang berkepanjangan sejak 2022 mengalami eskalasi signifikan akibat fenomena El Nino pada periode 2025-2026. Kombinasi ini tidak hanya mengganggu rantai pasok gandum dan jagung dari kawasan Laut Hitam, tetapi juga memperparah gagal panen di berbagai negara produsen utama. Dalam konteks geopolitik, situasi ini mencerminkan kerentanan fundamental sistem pangan global yang sangat bergantung pada beberapa titik produksi strategis. Kenaikan harga gandum dan jagung global hingga 30% dalam satu tahun terakhir menjadi sinyal alarm bagi negara-negara importir, termasuk Indonesia, yang harus merancang ulang strategi ketahanan pangan nasional di tengah ketidakpastian internasional.

Dinamika Geopolitik Rantai Pasok Pangan Global

Perang Ukraina telah mengubah peta produksi pangan dunia secara drastis. Sebagai salah satu lumbung gandum dunia, Ukraina kehilangan akses ke pelabuhan ekspor utama akibat blokade dan konflik, sementara Rusia menggunakan pasokan pangannya sebagai alat diplomasi dan tekanan politik. Di sisi lain, El Nino memperkuat gangguan ini dengan menimbulkan kekeringan ekstrem di Australia, Amerika Selatan, dan sebagian Asia Tenggara, yang merupakan sentra produksi beras dan jagung. Ketergantungan global pada beberapa aktor—seperti Ukraina, Rusia, dan India—menciptakan balance of power yang rapuh, di mana krisis iklim dan perang dapat saling memperburuk. Organisasi internasional seperti FAO dan WTO telah memperingatkan potensi kelaparan massal jika koordinasi multilateral tidak segera diperkuat, namun kepentingan nasional masing-masing negara seringkali menghambat terbentuknya solusi kolektif yang efektif.

Strategi Indonesia: Dari Ketergantungan Menuju Kemandirian Pangan

Bagi Indonesia, krisis pangan ini memiliki dimensi ganda: ancaman langsung terhadap stabilitas harga domestik dan peluang untuk mempercepat transformasi struktural. Badan Pangan Nasional melaporkan penurunan impor gandum hingga 15% yang memicu kenaikan harga tepung dan pakan ternak, sehingga berdampak pada industri pangan dan peternakan nasional. Dalam merespons, pemerintah tidak hanya mengambil langkah jangka pendek seperti perluasan areal tanam padi dan pengembangan substitusi impor berbasis sagu serta singkong, tetapi juga menjalin perjanjian bilateral dengan India dan Thailand untuk menjamin pasokan beras. Langkah ini menunjukkan pergeseran strategi dari sekadar mencari sumber alternatif menuju pengurangan ketergantungan pada pasar global yang tidak stabil. Secara geopolitik, perjanjian dengan India dan Thailand tidak hanya bersifat komersial, tetapi juga merupakan upaya memperkuat posisi tawar Indonesia dalam arsitektur keamanan pangan regional ASEAN.

Implikasi jangka panjang dari krisis ini mendorong Indonesia untuk mempercepat program food estate sebagai proyek strategis nasional. Konsep ini, meskipun kontroversial dalam implementasinya, merepresentasikan kesadaran baru bahwa ketahanan pangan merupakan elemen integral dari kedaulatan nasional dan stabilitas kawasan. Diversifikasi pangan, yang sebelumnya dipandang sebagai opsi ekonomi, kini menjadi prioritas keamanan nasional. Jika berhasil, Indonesia dapat mengurangi tekanan dari fluktuasi harga global dan memperkuat posisinya sebagai aktor yang tidak hanya reaktif, tetapi juga transformatif dalam merespons krisis. Kegagalan, di sisi lain, akan membuat Indonesia semakin terombang-ambing dalam pusaran konflik dan perubahan iklim, dengan risiko instabilitas sosial-politik yang mengancam daya saing regional. Oleh karena itu, krisis ini harus dimaknai sebagai momentum reflektif: sejauh mana Indonesia mampu mendesain ulang tata kelola pangan yang mandiri dan tangguh, sekaligus berkontribusi pada penataan tatanan pangan global yang lebih adil dan berkelanjutan.

Entitas yang disebut

Organisasi: Badan Pangan Nasional

Lokasi: Rusia, Ukraina, Indonesia, India, Thailand