Perspektif Global & Regional

Krisis Kemanusiaan Gaza yang Berkepanjangan dan Implikasi Geopolitik bagi Diplomasi Timur Tengah Indonesia

03 Oktober 2026 Gaza, Israel, Timur Tengah 10 views

Krisis berkepanjangan di Gaza mempertegas ketimpangan kekuatan global dan menguji kapasitas diplomasi Indonesia sebagai anggota tidak tetap DK PBB. Indonesia menghadapi dilema antara solidaritas kemanusiaan dan pragmatisme ekonomi, sementara pergeseran aliansi regional melalui Abraham Accords mengancam solidaritas negara-negara Islam terhadap Palestina. Tanpa terobosan diplomatik, krisis ini akan terus mengikis multilateralisme dan menuntut Indonesia merekalibrasi strategi geopolitiknya.

Krisis Kemanusiaan Gaza yang Berkepanjangan dan Implikasi Geopolitik bagi Diplomasi Timur Tengah Indonesia

Krisis kemanusiaan di Gaza yang berkepanjangan hingga September 2026 tanpa resolusi permanen telah menempatkan Indonesia pada posisi diplomatik yang kian kompleks di panggung global. Data Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mencatat lebih dari 60.000 korban sipil sejak Oktober 2023, dengan kerusakan infrastruktur yang ekstensif—sebuah angka yang tidak hanya merefleksikan kegagalan mekanisme perdamaian internasional, tetapi juga mempertegas ketimpangan struktural dalam arsitektur global, khususnya dominasi veto Amerika Serikat di Dewan Keamanan PBB. Bagi Indonesia, sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia dan anggota tidak tetap Dewan Keamanan PBB pada periode 2025–2026, situasi ini menjadi ujian nyata bagi kapasitas diplomasi kemanusiaan dan geopolitiknya. Konflik Israel–Palestina di Gaza tidak lagi semata isu solidaritas keagamaan, melainkan indikator dari pergeseran tatanan global yang semakin multipolar, di mana negara-negara berkembang mulai menantang hegemoni Barat melalui forum alternatif dan aliansi strategis.

Diplomasi Indonesia di Tengah Ketimpangan Kekuatan Global

Indonesia terus mendorong resolusi yang mengutuk kejahatan perang dan mendukung solusi dua negara, namun upaya ini menghadapi tantangan berat akibat polarisasi di PBB dan dominasi veto Amerika Serikat. Dalam sejumlah sidang, Indonesia bersama Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) mengusulkan resolusi yang menyerukan pengiriman pasukan penjaga perdamaian internasional ke Gaza. Proposal tersebut ditolak oleh Amerika Serikat dan Israel, menunjukkan betapa tidak seimbangnya hubungan kekuatan di Dewan Keamanan. Langkah ini memperkuat erosi kepercayaan terhadap multilateralisme yang selama ini menjadi pilar diplomasi global. Sebagai respons, Indonesia memperkuat diplomasi publik dan kerja sama Selatan-Selatan dengan Brasil dan Afrika Selatan, membangun blok negara yang lebih vokal. Strategi ini merupakan upaya untuk mengurangi ketergantungan pada forum multilateral yang timpang, sekaligus memperluas basis legitimasi moral dan politik di kancah global. Dinamika aktor seperti Amerika Serikat, Israel, dan negara-negara Arab yang menjalin hubungan lebih erat melalui Abraham Accords menambah kompleksitas posisi Indonesia. Arab Saudi dan Uni Emirat Arab, misalnya, mulai mendekatkan diri dengan Israel demi kepentingan ekonomi dan keamanan regional, yang berpotensi menggeser solidaritas tradisional negara-negara Islam terhadap Palestina. Dalam konteks ini, diplomasi Indonesia harus cermat menjaga keseimbangan antara komitmen kemanusiaan dan pragmatisme ekonomi, terutama terkait investasi dan kerja sama energi dengan negara-negara Teluk.

Implikasi Strategis bagi Kepentingan Nasional Indonesia

Krisis Gaza memiliki dampak yang melampaui solidaritas moral. Bagi Indonesia, isu ini mempengaruhi citra di dunia Islam dan hubungan bilateral dengan negara-negara Arab. Dalam jangka pendek, Indonesia harus menghadapi dilema antara tetap vokal dalam isu kemanusiaan atau mengadopsi sikap yang lebih pragmatis untuk menjaga hubungan ekonomi dengan mitra-mitra strategis di kawasan. Tekanan dari dalam negeri—terutama dari kelompok masyarakat sipil dan partai politik berbasis Islam—juga membatasi ruang gerak pemerintah untuk melakukan penyesuaian diplomatik yang terlalu lunak terhadap Israel atau sekutunya. Di sisi lain, jika Indonesia terlalu vokal tanpa dukungan kekuatan nyata, risiko isolasi diplomatik di forum multilateral dapat meningkat. Dalam jangka menengah, krisis ini berpotensi mempercepat pergeseran aliansi regional: semakin eratnya kerja sama militer dan intelijen antara Israel dan negara-negara Teluk melalui Abraham Accords dapat mengubah peta kekuatan di Timur Tengah, yang pada akhirnya mempengaruhi stabilitas kawasan dan posisi Indonesia sebagai negara non-Arab dengan pengaruh signifikan di dunia Islam. Indonesia perlu mengantisipasi kemungkinan normalisasi hubungan yang lebih luas antara negara-negara Muslim dan Israel, yang dapat melemahkan solidaritas kolektif terhadap Palestina.

Potensi perkembangan ke depan menunjukkan bahwa tanpa adanya terobosan diplomatik yang signifikan, krisis Gaza akan terus menjadi batu uji bagi kredibilitas multilateralisme dan kemampuan Indonesia untuk memainkan peran sebagai jembatan antara dunia Islam dan Barat. Konsekuensi jangka panjang mencakup semakin terpecahnya blok negara berkembang, menguatnya realpolitik di kawasan, dan menurunnya efektivitas forum-forum tradisional seperti PBB. Bagi Indonesia, hal ini menuntut rekalibrasi strategi diplomasi yang tidak hanya mengedepankan prinsip kemanusiaan, tetapi juga mempertimbangkan dinamika keseimbangan kekuatan global dan regional. Krisis di Gaza telah menjadi cermin dari kegagalan tatanan dunia yang ada sekaligus momentum bagi negara-negara seperti Indonesia untuk mendorong lahirnya arsitektur global yang lebih inklusif dan adil—sebuah tugas yang tidak mudah namun krusial untuk menjaga relevansi diplomasi Indonesia di tengah dunia yang semakin fragmentasi.

Entitas yang disebut

Organisasi: PBB, OKI, Dewan Keamanan PBB

Lokasi: Gaza, Indonesia, Timur Tengah, Amerika Serikat, Israel, Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Mindanao, Aceh, Brasil, Afrika Selatan