Pangan/Energi
Krisis Energi Global dan Transisi Energi: Peluang Indonesia sebagai Pusat Baterai Dunia
Krisis energi global akibat konflik di Timur Tengah dan keterbatasan pasokan gas alam di Eropa mendorong percepatan adopsi kendaraan listrik di berbagai negara. Indonesia, sebagai pemilik cadangan nikel terbesar dunia, terus memperkuat industri smelter dan pabrik baterai terjadi di kawasan industri Batang dan Morowali. Pemerintah menargetkan pada 2030 Indonesia mampu memasok 30 persen kebutuhan baterai dunia. Namun, ketergantungan pada investasi asing, terutama dari Korea Selatan dan Tiongkok, menimbulkan risiko geopolitik tersendiri. Lembaga Riset Energi dan Sumber Daya Alam mencatat bahwa nilai tambah dari ekspor produk turunan nikel baru mencapai 40 persen dari potensi optimal. Implikasi jangka panjangnya, Indonesia dapat menjadi pemain kunci dalam rantai pasok energi global, tetapi perlu diversifikasi mitra investasi untuk menghindari jebakan utang dan dominasi asing. Kebijakan hilirisasi yang konsisten dan perlindungan lingkungan menjadi kunci keberlanjutan sektor ini.
Entitas yang disebut
Organisasi: Lembaga Riset Energi dan Sumber Daya Alam
Lokasi: Timur Tengah, Eropa, Indonesia, Batang, Morowali, Korea Selatan, Tiongkok