Perspektif Global & Regional

Kerja Sama Indo-Pasifik: Indonesia di Tengah Kompetisi AS-China

04 September 2026 Indonesia, Indo-Pasifik, AS, China 22 views

Indonesia berhasil menyeimbangkan tawaran kerja sama dari AS dan China dalam KTT Indo-Pasifik 2025 dengan tetap berpegang pada prinsip bebas aktif. Namun, risiko utang dan ketergantungan teknologi menuntut penguatan lembaga pengawas agar proyek asing benar-benar menguntungkan nasional. Keberhasilan model Indonesia akan menjadi contoh bagi negara berkembang lain di kawasan Indo-Pasifik.

Kerja Sama Indo-Pasifik: Indonesia di Tengah Kompetisi AS-China

Konstelasi geopolitik kawasan Indo-Pasifik pada penghujung 2025 menunjukkan eskalasi kompetisi antara Amerika Serikat dan Republik Rakyat China yang semakin terstruktur. Dalam dinamika ini, penyelenggaraan KTT Indo-Pasifik di Jakarta pada Desember 2025 menjadi panggung penting bagi Indonesia untuk menegaskan kembali komitmennya terhadap prinsip bebas aktif. Langkah ini bukan sekadar retorika diplomatik, melainkan respons strategis terhadap tekanan sistemik yang mengharuskan negara-negara di kawasan untuk menentukan posisi di tengah rivalitas dua kekuatan besar. Kehadiran tawaran kerja sama dari kedua pihak secara simultan mengonfirmasi bahwa Indonesia berada di titik episentrum persaingan pengaruh global, sekaligus membuka peluang bagi negara berkembang untuk merumuskan strategi adaptif dalam kerja sama regional.

Dinamika Persaingan Tawaran Kerja Sama di Indo-Pasifik

Dalam forum tersebut, Amerika Serikat mengajukan paket kerja sama yang mencakup infrastruktur dan keamanan siber melalui kerangka Quad Plus. Tawaran ini memiliki dimensi strategis yang jelas: membangun arsitektur keamanan non-tradisional yang dapat mengurangi ketergantungan mitra terhadap infrastruktur digital China. Di sisi lain, China mempromosikan versi baru Belt and Road Initiative (BRI) yang lebih menekankan pada konektivitas hijau dan digital. Persaingan ini menampilkan pertarungan model tata kelola dan standar teknologi di Indo-Pasifik. Data dari Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi menunjukkan bahwa Indonesia menerima kedua kerja sama tersebut secara terpisah: proyek dengan AS difokuskan pada ekonomi digital, sementara dengan China pada sektor energi hijau. Penerimaan ganda ini mencerminkan keberhasilan taktis Indonesia untuk tidak terjebak dalam dikotomi eksklusif, namun juga mengandung risiko laten, terutama terkait akumulasi utang dan ketergantungan teknologi yang dapat memengaruhi kedaulatan pengambilan keputusan nasional dalam jangka panjang.

Implikasi bagi Posisi Strategis Indonesia dan Stabilitas Kawasan

Kemampuan Indonesia memainkan peran sebagai poros maritim global di tengah rivalitas ini tidak terlepas dari fondasi politik luar negeri yang konsisten. Akan tetapi, analis mengingatkan bahwa tanpa penguatan lembaga pengawas, proyek-proyek asing berpotensi menguntungkan pihak eksternal lebih daripada kepentingan nasional. Implikasi terhadap stabilitas kawasan sangat bergantung pada apakah Indonesia mampu mempertahankan keseimbangan antara penerimaan investasi dan pengawasan terhadap dampak geopolitiknya. Keberhasilan Indonesia dalam menjaga keseimbangan ini tidak hanya akan memperkuat posisinya sebagai mediator kredibel di Indo-Pasifik, tetapi juga menjadi model bagi negara berkembang lain yang menghadapi dilema serupa. Dalam konteks yang lebih luas, dinamika ini turut memengaruhi arsitektur keamanan regional, di mana setiap kerja sama yang dijalin Indonesia memiliki efek riak terhadap persepsi aktor-aktor lain seperti Jepang, India, dan Australia yang juga aktif membangun koalisi kepentingan di kawasan.

Pada akhirnya, tantangan terbesar Indonesia bukanlah pada bagaimana menerima tawaran kerja sama dari AS dan China, melainkan pada bagaimana mengonversi fleksibilitas diplomatik menjadi kemandirian ekonomi dan ketahanan nasional. Lembaga pengawas yang kuat dan transparan menjadi prasyarat mutlak agar proyek-proyek asing tidak menjerat Indonesia dalam lingkaran ketergantungan struktural. Jika Indonesia mampu membangun institusi yang kredibel dalam mengelola investasi asing di era kompetisi Indo-Pasifik, maka posisinya sebagai kekuatan menengah yang otonom akan semakin kokoh. Kegagalan dalam aspek ini justru dapat mengubah Indonesia dari poros maritim menjadi ajang proksi persaingan yang melemahkan stabilitas domestik. Oleh karena itu, arah kebijakan Indonesia dalam beberapa tahun ke depan akan menjadi barometer bagi efektivitas strategi bebas aktif di tengah dunia yang kian bipolar.

Entitas yang disebut

Organisasi: Kemenko Maritim, Quad Plus, Belt and Road Initiative

Lokasi: Jakarta, Indonesia, AS, China, Indo-Pasifik