Kebijakan Pertahanan
Kenaikan Pengeluaran Pertahanan Asia Tenggara: Perlombaan Senjata atau Modernisasi Necessity?
Data SIPRI 2026 menunjukkan tren kenaikan berkelanjutan anggaran pertahanan negara-negara ASEAN, dengan Vietnam, Filipina, dan Singapura memimpin persentase kenaikan. Analisis mempertanyakan narasi 'perlombaan senjata' yang sederhana, dengan mengungkap dinamika yang lebih kompleks. Peningkatan anggaran didorong oleh faktor internal (modernisasi alutsista usang, penegakan kedaulatan maritim) dan eksternal (ketegangan di Laut China Selatan, ketidakpastian komitmen AS). Aktor seperti Tiongkok dengan klaim maritimnya, dan AS melalui penguatan kemitraan seperti dengan Filipina, menjadi katalis. Bagi Indonesia, tren ini menciptakan lingkungan keamanan regional yang lebih kompetitif dan termiliterisasi. Implikasi jangka pendek adalah kebutuhan Indonesia untuk menjaga keseimbangan kekuatan relatif, agar tidak tertinggal dalam kapabilitas. Jangka panjangnya, hal ini menguji efektivitas mekanisme keamanan ASEAN sentris seperti ADMM-Plus dalam mengelola kepercayaan dan mencegah eskalasi. Pilihan Indonesia bukan sekadar menaikkan anggaran, tetapi melakukan modernisasi yang cerdas dan terfokus pada kebutuhan doktrin pertahanan kewilayahan, sambil tetap mendorong diplomasi untuk menjaga stabilitas kolektif di kawasan.
Entitas yang disebut
Organisasi: SIPRI, ASEAN, ADMM-Plus
Lokasi: Vietnam, Filipina, Singapura, Indonesia, Tiongkok, AS, Laut China Selatan, Asia Tenggara