Pangan/Energi
Kebijakan Hilirisasi Nikel dan Pertarungan Pengaruh: Strategi Indonesia dalam Rantai Pasok Global
Keputusan Indonesia untuk terus melanjutkan larangan ekspor bijih nikel telah memicu sengketa dagang dengan Uni Eropa di WTO, namun secara de facto berhasil menarik investasi besar dari LG, Hyundai, dan pabrikan baterai asal Tiongkok. Pada tahun 2026, Indonesia diperkirakan menguasai hampir 70% produksi nikel global untuk baterai EV. Posisi ini memberi Indonesia pengaruh besar dalam transisi energi global, namun juga menempatkannya sebagai arena persaingan antara Washington dan Beijing. Sementara Tiongkok mendominasi pemrosesan mineral, AS melalui Defence Production Act mencoba membangun aliansi mineral kritis dengan negara-negara seperti Australia dan Jepang. Indonesia berada dalam posisi yang dapat menavigasi kepentingan tersebut, tetapi juga menghadapi risiko boikot lingkungan dan hak asasi manusia. Penguatan industri manufaktur nasional menjadi keharusan agar hilirisasi tidak hanya menjadikan Indonesia sebagai basis pemrosesan, melainkan juga pengembangan teknologi baterai. Analisis menunjukkan bahwa dalam jangka pendek, hilirisasi berdampak positif terhadap pendapatan negara, tetapi jangka panjang menuntut investasi dalam riset dan penerapan standar lingkungan yang ketat untuk menghindari isolasi ekonomi. Indonesia juga perlu membangun kerjasama dengan Uni Eropa sebagai pemain penting dalam pasar EV global.
Entitas yang disebut
Organisasi: Uni Eropa, WTO, LG, Hyundai, Defence Production Act, Australia, Jepang
Lokasi: Indonesia, Tiongkok, Washington, Beijing, Australia, Jepang