Geo-Ekonomi

Kebangkitan Blok BRICS+ dan Tantangan terhadap Hegemoni Keuangan Barat

24 September 2026 Global (BRICS+) 12 views
Kebangkitan Blok BRICS+ dan Tantangan terhadap Hegemoni Keuangan Barat
Ekspansi keanggotaan Blok BRICS, yang kini mencakup negara-negara seperti Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Iran, Mesir, dan Ethiopia, menandai titik balik signifikan dalam arsitektur tata kelola ekonomi global. Blok yang diperluas ini mewakili porsi yang jauh lebih besar dari populasi, cadangan energi, dan PDB global, mengubahnya dari forum dialog menjadi kekuatan kohesif dengan ambisi sistemik. Agenda intinya meliputi penguatan mekanisme pembayaran lintas mata uang nasional, perluasan penggunaan mata uang lokal dalam perdagangan, dan pengembangan alternatif untuk institusi keuangan Barat seperti IMF dan Bank Dunia. Gerakan ini merupakan respons terhadap ketergantungan historis pada dolar AS dan persepesan terhadap penggunaan sistem keuangan global sebagai alat politik (financial weaponization) oleh negara-negara Barat, terutama pasca sanksi terhadap Rusia. Dinamika aktor dalam BRICS+ dicirikan oleh keragaman kepentingan yang harus diselaraskan. China mendorong agenda de-dolarisasi yang ambisius dengan yuan digitalnya, sementara Rusia melihatnya sebagai jalan keluar dari isolasi finansial. Negara-negara produsen energi Timur Tengah berusaha mendiversifikasi aset dan meningkatkan pengaruh geopolitik mereka. India, dengan hati-hati, menjaga kemitraan strategis dengan Barat sambil mendukung multipolaritas. Kohesi internal blok ini akan terus diuji oleh perbedaan politik dan konflik regional di antara anggotanya, seperti antara Iran dan Arab Saudi. Keberhasilan atau kegagalan mereka dalam menciptakan institusi dan mekanisme yang fungsional akan menentukan apakah ini merupakan pergeseran paradigma atau sekadar eksperimen geopolitik. Bagi Indonesia, yang telah menyatakan minat untuk bergabung dengan BRICS, perkembangan ini membawa peluang dan tantangan strategis. Di satu sisi, ini menawarkan alternatif untuk mendiversifikasi pembiayaan pembangunan, mengurangi kerentanan terhadap fluktuasi dolar, dan memperkuat suara 'Global South' dalam tata kelola global. Di sisi lain, Indonesia harus menimbang risiko geopolitik dari keterkaitan yang lebih erat dengan blok yang mencakup negara-negara yang sering berselisih dengan Barat, dan mempertimbangkan dampaknya terhadap hubungan ekonomi dengan AS, UE, dan Jepang. Keputusan Jakarta akan menjadi cerminan dari perhitungan strategis yang lebih luas: apakah lebih menguntungkan untuk tetap sebagai mitra dari berbagai blok, atau secara aktif membentuk alternatif sistemik baru. Pilihan ini akan mendefinisikan ulang posisi Indonesia dalam tatanan ekonomi global yang sedang mengalami fragmentasi.

Entitas yang disebut

Organisasi: BRICS, IMF, Bank Dunia

Lokasi: Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Iran, Mesir, Ethiopia, Indonesia, Rusia, China, India