Perspektif Global & Regional

Kebangkitan Blok BRICS+ dan Reformasi Tata Kelola Global: Peluang dan Tantangan bagi Indonesia

10 Agustus 2026 Global 13 views

Ekspansi BRICS+ merepresentasikan dorongan kuat Global South menuju multipolaritas dan reformasi tata kelola global, namun dibebani kompleksitas internal dari rivalitas antaranggota. Bagi Indonesia, blok ini menawarkan peluang strategis dan finansial, namun juga risiko keterjeratan dalam polarisasi geopolitik baru yang dapat menguji konsistensi diplomasi bebas-aktif. Evolusi BRICS+ akan menjadi penentu kunci dalam pembentukan arsitektur kekuatan global yang baru dan dampaknya terhadap stabilitas kawasan.

Kebangkitan Blok BRICS+ dan Reformasi Tata Kelola Global: Peluang dan Tantangan bagi Indonesia

Arsitektur kekuatan global sedang mengalami rekonfigurasi mendasar, dengan konsolidasi dan ekspansi blok BRICS+ berfungsi sebagai episentrum dari pergeseran ini. Keanggotaan baru Arab Saudi, Iran, Mesir, dan Ethiopia bukan sekadar penambahan jumlah, melainkan merupakan deklarasi geopolitik yang memperkuat posisi blok sebagai artikulator utama aspirasi Global South. Pergeseran ini lahir dari kekecewaan yang mengkristal terhadap institusi tata kelola global pascaperang—terutama Dana Moneter Internasional (IMF), Bank Dunia, dan dominasi dolar AS. Dalam konteks ini, BRICS+ muncul sebagai katalis utama bagi narasi multipolaritas, secara aktif menantang struktur unipolar dengan membangun arsitektur keuangan alternatif berbasis mata uang lokal dan lembaga seperti New Development Bank (NDB).

Dinamika Internal BRICS+: Ujian Kedaulatan Multipolaritas

Ekspansi yang meningkatkan bobot demografis, ekonomi, dan strategis BRICS+ justru memperlihatkan kompleksitas internal yang menjadi tantangan bagi kohesi jangka panjangnya. Penyertaan aktor dengan kepentingan keamanan yang saling bersaing, bahkan bertentangan secara geopolitik—seperti rivalitas regional antara Iran dan Arab Saudi—menciptakan medan diplomasi yang rentan dengan friksi laten. Dinamika ini mengonfirmasi karakter blok yang lebih merupakan konvergensi kepentingan taktis dan strategis menengah dalam menghadapi sistem yang dianggap timpang, daripada sebuah aliansi dengan visi ideologis yang tunggal dan padu. Kapasitas untuk mengelola rivalitas internal dan mentransformasi diri dari forum dialog menjadi aktor kolektif yang solid akan menjadi ujian kredibilitas bagi proyeksi multipolaritas yang diusung. Efektivitasnya dalam merumuskan kebijakan kolektif pada isu-isu sensitif, seperti reformasi Dewan Keamanan PBB, akan sangat bergantung pada kemampuan mengatasi divergensi kepentingan ini.

Implikasi Strategis bagi Indonesia: Diplomasi Bebas-Aktif di Persimpangan Jalan

Sebagai kekuatan ekonomi utama Asia Tenggara, anggota G20, dan suara berpengaruh di Global South, Indonesia menempati posisi strategis sekaligus kompleks dalam merespons perkembangan BRICS+. Perubahan lanskap geopolitik ini menawarkan palet peluang dan risiko yang harus ditimbang dengan presisi tinggi dalam bingkai politik luar negeri bebas-aktif. Di satu sisi, BRICS+ berpotensi menjadi platform ampuh untuk mengadvokasi kepentingan Indonesia dalam mendorong reformasi tata kelola global yang lebih representatif dan adil. Akses terhadap sumber pembiayaan pembangunan alternatif melalui NDB dapat membantu mendiversifikasi opsi pendanaan infrastruktur dan proyek strategis, mengurangi ketergantungan eksklusif pada lembaga keuangan Barat. Namun, di sisi lain, keterlibatan yang terlalu dalam tanpa pemetaan kepentingan yang jelas dan strategi keluar (exit strategy) berisiko menjerat Indonesia dalam polarisasi geopolitik baru antara blok Barat dan blok Timur. Lebih lanjut, Indonesia dapat terseret ke dalam dinamika dan rivalitas internal BRICS+ itu sendiri, yang berpotensi membebani dan mengaburkan diplomasi bebas-aktif yang menjadi fondasi identitas strategis negara.

Perkembangan BRICS+ memiliki implikasi langsung terhadap keseimbangan kekuatan (balance of power) di kawasan Indo-Pasifik dan global. Kemunculan struktur keuangan dan perdagangan paralel berpotensi menciptakan fragmentasi dalam sistem internasional, yang dapat mempersulit koordinasi kebijakan global dalam menangani krisis seperti perubahan iklim atau pandemi. Bagi Indonesia dan ASEAN, fragmentasi ini berpotensi memicu persaingan pengaruh yang lebih intensif di kawasan, mengharuskan diplomasi yang lebih lincah untuk menjaga sentralitas dan netralitas ASEAN. Dalam jangka panjang, keberhasilan atau kegagalan BRICS+ dalam mewujudkan tata kelola alternatif yang efektif akan sangat menentukan bentuk akhir dari dunia multipolar. Apakah multipolaritas akan menghasilkan tatanan yang lebih kooperatif dan terinstitusionalisasi, atau justru menciptakan kompetisi blok yang keras dan tidak stabil, masih menjadi pertanyaan terbuka yang akan membentuk masa depan hubungan internasional.

Entitas yang disebut

Organisasi: BRICS, BRICS+, IMF, Bank Dunia, G20

Lokasi: Indonesia, Arab Saudi, Iran, Mesir, Ethiopia, Global South, Barat