Perspektif Global & Regional

Indonesia dan BRICS: Peluang dan Tantangan dalam Tata Dunia Multipolar

25 September 2026 Indonesia, BRICS, Global 11 views

Artikel ini menganalisis keanggotaan penuh Indonesia dalam BRICS sebagai langkah strategis dalam politik luar negeri bebas aktif yang merespons pergeseran menuju tatanan global multipolar. Meskipun menawarkan peluang diversifikasi pasar dan penguatan kerja sama selatan-selatan, Indonesia harus cermat mengelola ketimpangan internal BRICS, terutama dominasi China dan ketegangan antaranggota, agar tetap menjaga kemandirian diplomasi dan kepentingan nasional. Pada akhirnya, BRICS merupakan instrumen pragmatis dalam navigasi geopolitik Indonesia di tengah fragmentasi kekuatan global.

Indonesia dan BRICS: Peluang dan Tantangan dalam Tata Dunia Multipolar

Peresmian keanggotaan penuh Indonesia dalam BRICS pada awal 2026 bukan sekadar catatan administratif diplomatik, melainkan sebuah transformasi strategis dalam politik luar negeri bebas aktif yang selama ini menjadi landasan orientasi Jakarta. Dalam lanskap tatanan global yang kian terfragmentasi, keputusan ini menempatkan Indonesia pada arus utama arsitektur kekuatan dunia yang sedang bergeser menuju multipolar. BRICS yang secara kolektif mewakili lebih dari 35 persen PDB global kini menjelma menjadi salah satu pilar ekonomi politik alternatif di tengah dominasi institusi Bretton Woods. Bagi Indonesia, keanggotaan ini bukan semata peluang diversifikasi pasar, melainkan juga pernyataan posisi bahwa negara berkembang tidak lagi bisa dipinggirkan dalam pengambilan keputusan global.

Dinamika Multipolar dan Pergeseran Peta Kekuatan Global

Kehadiran BRICS dalam percaturan dunia yang sedang berubah harus dibaca dalam kerangka yang lebih besar, yaitu proses disintermediasi terhadap monopoli kekuatan Barat dalam lembaga keuangan internasional dan forum politik global. Ketika AS dan sekutunya masih memegang kendali atas IMF dan Bank Dunia, BRICS menawarkan institusi paralel seperti New Development Bank yang menjadi instrumen penting bagi negara berkembang untuk mengakses pembiayaan pembangunan tanpa syarat politik yang sering kali menyertai program penyesuaian struktural. Indonesia secara cerdas memanfaatkan ruang ini untuk memperluas opsi kebijakan ekonomi luar negerinya. Namun, harus dipahami pula bahwa multipolaritas bukan ruang hampa yang bebas konflik; ia adalah arena tarik-menarik kepentingan antara aktor-aktor besar yang sedang mencari format keseimbangan baru. Dalam konteks ini, posisi Indonesia menjadi unik sekaligus kompleks. Sebagai negara dengan penduduk terbesar keempat di dunia dan pemilik ekonomi terbesar di Asia Tenggara, Indonesia tidak bisa diperlakukan sebagai minor actor murni. Jakarta dapat mendorong agenda kerja sama selatan-selatan yang lebih konkret dan berkeadilan, terutama dalam isu transfer teknologi, ketahanan pangan dan energi, hingga tata kelola digital.

Menyikapi Ketimpangan Aktor: China, Rusia, dan Tantangan Politik Internal BRICS

Ketimpangan kapasitas ekonomi dan politik di antara anggota BRICS merupakan salah satu fakta yang harus dihadapi Indonesia. China mendominasi lebih dari separuh PDB gabungan BRICS, sebuah kenyataan yang secara langsung mempengaruhi arah kebijakan internal blok. Bila tidak dikelola dengan cermat, dominasi ini dapat menimbulkan ketidakseimbangan yang justru merugikan negara-negara anggota yang lebih kecil. Ketegangan antara Tiongkok dan India di perbatasan Himalaya, hegemoni ekonomi Beijing yang makin dominan di kawasan Indo-Pasifik, serta posisi Rusia yang menghadapi sanksi Barat pasca-invasi Ukraina, merupakan variabel yang akan terus mewarnai efektivitas BRICS sebagai institusi yang kohesif. Bagi Indonesia, menghadapi dinamika ini membutuhkan ketajaman diplomasi dan manajemen strategis yang cermat. Kemandirian politik dan fleksibilitas aliansi menjadi kunci agar Jakarta tidak terseret ke dalam polarisasi yang dapat mengorbankan kepentingan nasional. Dalam jangka menengah, keanggotaan BRICS dapat memperkuat posisi tawar Indonesia dalam forum-forum multilateral, namun dalam jangka panjang, tantangan terletak pada kemampuan Indonesia untuk tetap menjadi jembatan antara blok-blok yang bersaing, tanpa kehilangan identitas sebagai negara non-blok yang konsisten dengan prinsip bebas aktif.

Refleksi akhirnya, keputusan Indonesia bergabung dengan BRICS harus dipahami sebagai langkah pragmatis dalam navigasi tatanan global yang sedang bergerak menuju multipolar. Ini bukan sekadar pilihan ideologis, melainkan respons rasional terhadap realitas geopolitik di mana pusat-pusat kekuatan baru bermunculan dan institusi warisan Perang Dingin mulai kehilangan relevansinya. Keberhasilan Indonesia tidak hanya diukur dari manfaat ekonomi jangka pendek, tetapi dari kemampuannya memanfaatkan platform BRICS untuk memproyeksikan kepentingan nasional secara lebih efektif, sambil tetap menjaga keseimbangan hubungan dengan mitra-mitra tradisional di Barat. Pada akhirnya, BRICS adalah alat—bukan tujuan—dalam upaya Indonesia membangun tatanan dunia yang lebih adil, inklusif, dan sesuai dengan aspirasi negara berkembang.

Entitas yang disebut

Organisasi: BRICS, New Development Bank

Lokasi: Indonesia, Rusia, China