Geo-Ekonomi

Ekspansi BRICS+ dan Pencarian Alternatif Tata Kelola Ekonomi Global oleh Global South

08 Agustus 2026 Global (BRICS negara), Global South 14 views

Ekspansi BRICS+ merefleksikan upaya kolektif Global South untuk membentuk tatanan ekonomi global yang lebih multipolar dan mengurangi dominasi Barat, meski diwarnai persaingan internal India-Tiongkok. Bagi Indonesia, fenomena ini menawarkan peluang diversifikasi dan pembiayaan alternatif, tetapi juga tantangan kompleks dalam menghindari tarik-ulur persaingan kekuatan besar. Posisi strategis Indonesia adalah menjaga status sebagai negara poros non-blok, terlibat konstruktif dengan semua kekuatan sambil mendorong reformasi tata kelola global ke arah yang lebih inklusif.

Ekspansi BRICS+ dan Pencarian Alternatif Tata Kelola Ekonomi Global oleh Global South

Percepatan ekspansi keanggotaan BRICS, yang kemudian dikenal sebagai BRICS+, merepresentasikan salah satu dinamika geopolitik paling signifikan dalam dekade ini. Gerakan ini tidak hanya sekadar penambahan anggota baru, melainkan manifestasi struktural dari gelombang ketidakpuasan yang meluas di kalangan Global South terhadap arsitektur tata kelola ekonomi dan politik global pasca-Perang Dingin yang dinilai masih didominasi oleh negara-negara Barat. Dipimpin oleh India dengan dukungan kuat dari Tiongkok, ekspansi strategis ini bertujuan mengakumulasi bobot geopolitik dan ekonomi kolektif untuk secara aktif membentuk dunia multipolar. Upaya konkretnya tercermin dalam pengembangan alternatif institusional, seperti New Development Bank (NDB) dan berbagai inisiatif de-dolarisasi, yang secara langsung menantang monopoli lembaga keuangan internasional tradisional seperti IMF dan Bank Dunia.

Dinamika Internal dan Tarik-Ulur Visi dalam BRICS+

Di balik front persatuan melawan dominasi Barat, kompleksitas internal BRICS mengungkapkan realitas geopolitik yang lebih bernuansa. Kelompok ini digerakkan oleh persaingan pengaruh yang tak terhindarkan antara dua kekuatan pendorong utamanya: India dan Tiongkok. Persaingan ini tidak hanya bersifat geopolitik di kawasan Indo-Pasifik, tetapi juga menyangkut perbedaan visi mengenai seberapa konfrontatif kelompok ini seharusnya terhadap institusi Barat yang mapan. Sementara beberapa anggota mungkin menginginkan pendekatan yang lebih radikal dan substitutif, lainnya lebih memilih strategi reformis dari dalam. Namun, benang merah yang menyatukan adalah kesamaan tujuan mendasar: memperjuangkan redistribusi suara dan pengaruh dalam tata kelola global, serta mewujudkan tatanan dunia yang lebih seimbang dan multipolar. Kohesi inilah yang menjadi daya tarik bagi negara-negara ekonomi menengah yang mencari ruang manuver di luar polarisasi tradisional.

Implikasi Strategis dan Dilema Bagi Indonesia

Kebangkitan BRICS+ menempatkan Indonesia pada posisi strategis sekaligus penuh pertimbangan. Sebagai ekonomi terbesar di Asia Tenggara dan anggota G20, Indonesia mewakili suara penting dari Global South. Kelompok BRICS menawarkan peluang nyata: akses ke sumber pembiayaan pembangunan alternatif untuk infrastruktur melalui NDB, platform untuk mengadvokasi kepentingan negara berkembang secara lebih vokal, dan ruang diplomatik tambahan untuk mendiversifikasi kemitraan. Namun, peluang ini datang beriringan dengan tantangan kompleks. Tantangan terbesar adalah navigasi yang cermat dalam persaingan pengaruh India-Tiongkok di dalam blok, mengingat kedua negara adalah mitra strategis dan investasi vital Indonesia. Terjerat dalam persaingan internal blok baru ini dapat membahayakan prinsip politik luar negeri bebas-aktif dan merusak keseimbangan yang teliti yang telah Jakarta pertahankan.

Implikasi jangka panjang dari fenomena ini adalah percepatan fragmentasi atau 'blokisasi' tata kelola global. Dunia tidak lagi bergerak menuju bipolaritas baru, melainkan mosaik kompleks dari blok-blok ekonomi, keuangan, dan keamanan yang tumpang tindih dan terkadang bersaing. Dalam konteks ini, posisi optimal Indonesia adalah memperkuat statusnya sebagai non-aligned pivotal state. Strateginya haruslah keterlibatan konstruktif dengan semua poros kekuatan—BRICS+, G7, dan tentu saja melalui ASEAN sebagai home base—tanpa terikat secara eksklusif pada satu blok. Secara paralel, Indonesia harus tetap aktif mereformasi sistem global dari dalam forum seperti G20 dan PBB, mendorong inklusivitas dan representasi yang lebih adil. Pilihan ini bukanlah netralitas pasif, melainkan strategi aktif untuk mempertahankan kedaulatan dan memaksimalkan kepentingan nasional di tengah turbulensi geopolitik.

Ekspansi BRICS+ pada akhirnya adalah gejala dari pergeseran kekuatan global yang lebih dalam. Ini menandai era dimana negara-negara Global South tidak lagi sekadar menjadi objek kebijakan global, tetapi semakin berani menjadi subjek yang membentuk aturan main. Keberhasilan atau kegagalan kelompok ini dalam menciptakan alternatif yang koheren dan stabil akan sangat menentukan kontur tatanan internasional abad ke-21. Bagi Indonesia, momen ini adalah ujian ketajaman diplomasi dan visi strategis untuk memastikan bahwa arus perubahan ini mengarah pada tata dunia yang lebih stabil, adil, dan menguntungkan bagi kepentingan nasional serta perdamaian kawasan.