Perspektif Global & Regional

ASEAN Outlook on the Indo-Pacific dalam Pusaran Kompetisi AS-China

13 September 2026 ASEAN/Kawasan Indo-Pasifik 18 views

Implementasi ASEAN Outlook on the Indo-Pacific (AOIP) menghadapi tekanan kritis akibat kompetisi strategis AS-Tiongkok, yang berupaya menyelaraskan inisiatif mereka dengan prinsip AOIP. Strategi hedging negara-negara ASEAN menyebabkan fragmentasi sikap terhadap isu Laut China Selatan, menguji sentralitas ASEAN sebagai poros kawasan. Bagi Indonesia, keberhasilan AOIP menentukan posisinya sebagai middle power yang berpengaruh dalam membentuk tatanan regional Indo-Pasifik.

ASEAN Outlook on the Indo-Pacific dalam Pusaran Kompetisi AS-China

Implementasi ASEAN Outlook on the Indo-Pacific (AOIP) kini memasuki fase kritis di tengah eskalasi kompetisi strategis antara Amerika Serikat dan Tiongkok. Sebagai kerangka kerja yang dirancang untuk mempromosikan inklusivitas, transparansi, dan sentralitas ASEAN di kawasan Indo-Pasifik, AOIP menghadapi ujian berat ketika kedua negara adidaya berusaha menyelaraskan inisiatif mereka masing-masing—Indo-Pacific Strategy milik AS dan Global Security Initiative milik Tiongkok—dengan prinsip-prinsip AOIP. Sumber dari CSIS menyoroti bahwa dinamika ini tidak hanya menguji ketahanan ASEAN sebagai ‘poros’ kawasan, tetapi juga memaksa negara-negara anggota untuk terus menerapkan strategi hedging yang semakin kompleks guna mempertahankan otonomi strategis di tengah tekanan untuk memihak.

Dinamika Kompetisi dan Upaya Penyelarasan Inisiatif

Persaingan AS-Tiongkok di Indo-Pasifik telah menciptakan tekanan ganda terhadap ASEAN. Di satu sisi, Washington melalui Indo-Pacific Strategy-nya menekankan kemitraan keamanan, aliansi militer, dan tatanan berbasis aturan yang kerap bertentangan dengan kepentingan Tiongkok. Di sisi lain, Beijing menawarkan Global Security Initiative yang menonjolkan konsep keamanan bersama serta kerja sama maritim yang lebih kooperatif, namun tetap menolak mekanisme multilateral yang dapat membatasi ambisi hegemoniknya. Kedua kekuatan besar ini berupaya mengkooptasi narasi AOIP agar selaras dengan agenda geopolitik mereka sendiri, sehingga menggerogoti prinsip inklusivitas yang menjadi fondasi AOIP. Akibatnya, posisi ASEAN sebagai aktor netral yang mampu menjembatani perbedaan justru terancam tergerus oleh polarisasi yang semakin tajam.

Hedging dan Fragmentasi Sikap Negara Anggota

Dalam konteks ini, negara-negara ASEAN menghadapi dilema klasik antara menjaga hubungan baik dengan Tiongkok sebagai mitra dagang utama dan memperkuat kerja sama keamanan dengan AS yang dianggap sebagai penyeimbang militer di kawasan. Strategi hedging—yang mencakup diversifikasi kemitraan, pengelolaan risiko, dan penghindaran keterikatan mutlak—menjadi pilihan rasional bagi sebagian besar anggota. Namun, sumber menyebutkan bahwa pendekatan ini menghasilkan fragmentasi sikap, terutama dalam isu-isu sensitif seperti Laut China Selatan dan keamanan maritim. Negara-negara seperti Vietnam dan Filipina cenderung lebih vokal menentang klaim Tiongkok, sementara Kamboja dan Laos lebih mendekat ke Beijing. Perbedaan ini mengancam kohesi internal ASEAN dan melemahkan kemampuan organisasi untuk merumuskan respons kolektif yang kredibel di hadapan kekuatan besar.

Implikasi bagi Indonesia dan Masa Depan Tatanan Regional

Bagi Indonesia, selaku salah satu penggagas utama AOIP, efektivitas implementasi kerangka ini memiliki konsekuensi strategis yang langsung. Keberhasilan AOIP dalam mempertahankan ASEAN Centrality akan memperkuat posisi diplomatik Indonesia sebagai middle power yang berpengaruh, mampu membentuk norma-norma kawasan tanpa harus tunduk pada tekanan baik dari Washington maupun Beijing. Sebaliknya, kegagalan AOIP—misalnya karena terkikisnya prinsip inklusivitas atau fragmentasi internal ASEAN—akan mengurangi kemampuan Jakarta untuk memengaruhi arsitektur keamanan dan ekonomi di Indo-Pasifik. Dengan demikian, keseimbangan kekuatan (balance of power) di kawasan sangat bergantung pada kemampuan ASEAN untuk tetap menjadi arsitek utama tatanan regional, bukan sekadar arena tempat dua kekuatan besar berlomba memperluas pengaruh.

Dalam perspektif jangka panjang, efektivitas AOIP akan menentukan apakah Indo-Pasifik akan diatur oleh tatanan yang inklusif dan berbasis konsensus ASEAN, atau justru terbelah menjadi dua blok yang saling bersaing. Dinamika yang terjadi saat ini menunjukkan bahwa hedging bukanlah strategi yang permanen; negara-negara anggota ASEAN mungkin akan terpaksa membuat pilihan yang lebih jelas jika tekanan dari AS dan Tiongkok terus meningkat. Bagi Indonesia, tantangan utamanya adalah mempertahankan relevansi AOIP sambil mengelola perbedaan internal dan eksternal agar kawasan tetap stabil. Refleksi kritis ini mengingatkan bahwa kekuatan ASEAN justru terletak pada kemampuannya untuk menjadi jembatan, bukan panggung bagi rivalitas kekuatan besar—sebuah peran yang kini sedang diuji secara fundamental.

Entitas yang disebut

Organisasi: ASEAN, CSIS

Lokasi: Indo-Pacific, Laut China Selatan, Jakarta, Indonesia