Perspektif Global & Regional

ASEAN di Tengah Tekanan Rivalitas AS-China: Mencari Jalan Tengah Antara Kemitraan dan Otonomi

03 September 2026 ASEAN, Laos 14 views

Pertemuan ASEAN ke-43 di Laos pada 2026 mencerminkan tekanan rivalitas AS-China yang memperdalam perbedaan orientasi antar anggota. Indonesia berperan sebagai mediator de facto, namun ancaman fragmentasi tetap nyata jika tidak ada solusi atas sengketa Laut China Selatan dan penetrasi pengaruh. Stabilitas kawasan bergantung pada kemampuan ASEAN mempertahankan otonomi strategisnya, dengan Indonesia sebagai poros diplomasi.

ASEAN di Tengah Tekanan Rivalitas AS-China: Mencari Jalan Tengah Antara Kemitraan dan Otonomi

Pertemuan tingkat tinggi ASEAN ke-43 yang berlangsung di Laos pada bulan Agustus 2026 menjadi cermin nyata dari tekanan struktural yang dihadapi kawasan Indo-Pasifik akibat rivalitas antara Amerika Serikat dan Tiongkok. Deklarasi yang dihasilkan kembali menegaskan sentralitas ASEAN sebagai fondasi arsitektur kawasan, namun di balik konsensus tersebut tersimpan dinamika internal yang semakin tajam. Perbedaan orientasi geopolitik antar negara anggota—antara yang condong ke Beijing seperti Kamboja dan Laos, serta yang lebih dekat ke Washington seperti Filipina dan Vietnam—menunjukkan bahwa blok ini berada di persimpangan antara solidaritas regional dan tekanan eksternal yang terus meningkat. Dalam konteks ini, diplomasi ASEAN menghadapi ujian berat untuk mempertahankan otonomi strategisnya tanpa harus kehilangan akses terhadap manfaat ekonomi yang ditawarkan kedua kekuatan besar tersebut.

Dinamika Internal ASEAN dan Peran Mediasi Indonesia

Indonesia, sebagai negara anggota terbesar dengan bobot ekonomi dan demografis yang dominan, memainkan peran sebagai mediator de facto di tengah rivalitas AS-China. Posisi ini tidak hanya mencerminkan komitmen Jakarta terhadap multilateralisme, tetapi juga menjadi instrumen untuk menjaga keseimbangan kekuatan di kawasan. Keberhasilan diplomasi Indonesia dalam mengelola perbedaan internal akan sangat menentukan apakah ASEAN mampu bertahan sebagai aktor relevan atau justru terpecah belah oleh persaingan pengaruh yang semakin asimetris. Sumber mencatat bahwa perbedaan orientasi antara negara-negara anggota menjadi tantangan nyata, dan Indonesia harus mampu menjembatani kepentingan yang saling bertentangan tersebut. Momentum kepresidenan ASEAN yang akan dipegang Indonesia pada tahun 2027 memberikan peluang strategis untuk mempromosikan arsitektur kawasan yang inklusif dan berlandaskan hukum internasional, terutama dalam kerangka ASEAN Outlook on the Indo-Pacific (AOIP).

Implikasi Geopolitik Rivalitas AS-China bagi Kawasan

Dalam jangka pendek, tekanan dari rivalitas AS-China memang menguntungkan ASEAN melalui peningkatan bantuan ekonomi dan investasi dari kedua pihak. Namun, jangka panjang, ancaman fragmentasi menjadi sangat nyata jika tidak ada solusi konkret atas sengketa Laut China Selatan dan upaya penetrasi pengaruh ideologis. Implementasi AOIP menjadi ujian krusial: apakah kerangka ini hanya sekadar dokumen retoris atau benar-benar mampu menjadi pedoman aksi kolektif. Tanpa langkah-langkah preventif yang solid, ASEAN berpotensi kehilangan otonomi dan jatuh ke dalam orbit kekuatan mana pun yang dominan—sebuah skenario yang secara fundamental akan mengubah lanskap geopolitik Indo-Pasifik dan merugikan posisi Indonesia sebagai negara poros maritim. Stabilitas kawasan bergantung pada kemampuan ASEAN untuk mengelola divergensi kepentingan di tengah realpolitik yang keras, dan Indonesia dengan kekuatan diplomatiknya harus memimpin proses transformasi ini.

Refleksi akhir yang patut ditekankan adalah bahwa solidaritas internal ASEAN tidak boleh dikorbankan demi keuntungan jangka pendek dari persaingan kekuatan besar. ASEAN perlu memperkuat mekanisme konsultasi dan confidence-building measures untuk mencegah polarisasi lebih lanjut. Jika Indonesia berhasil memanfaatkan momentum kepresidenannya pada 2027 untuk memperdalam implementasi AOIP, maka blok ini memiliki peluang untuk tetap menjadi pusat gravitasi diplomasi kawasan. Namun, kegagalan dalam mengelola perbedaan akan membuka celah bagi aktor eksternal untuk memperlemah kohesi ASEAN, yang pada akhirnya mengancam stabilitas Indo-Pasifik secara keseluruhan.

Entitas yang disebut

Organisasi: ASEAN

Lokasi: Laos, Indo-Pasifik, Kamboja, Filipina, Vietnam, Indonesia, Laut China Selatan, China, AS