Geo-Politik

The New Scramble for the Pacific: Why Global Powers Are Courting Island Nations

01 Juni 2026 Samudra Pasifik, Negara-negara Kepulauan Pasifik 3 views

Persaingan geopolitik AS, Tiongkok, Australia, dan Jepang di kawasan kepulauan Pasifik meningkat drastis, berfokus pada akses strategis, sumber daya maritim, dan proyeksi kekuatan. Dinamika ini menguji diplomasi negara-negara kepulauan di Forum Kepulauan Pasifik dan menimbulkan implikasi keamanan langsung bagi Indonesia di perbatasan timurnya. Keberhasilan Indonesia dalam meningkatkan pengawasan dan menawarkan kemitraan alternatif yang netral akan menentukan sejauh mana ruang strategisnya terlindungi dari konsolidasi blok pengaruh asing.

The New Scramble for the Pacific: Why Global Powers Are Courting Island Nations

Dalam beberapa tahun terakhir, kawasan Samudra Pasifik telah berubah menjadi kawasan dengan kompetisi geopolitik yang paling intens di dunia, menggeser fokus dari lautan lainnya. Dinamika ini, yang kerap disebut sebagai 'Perebutan Baru untuk Pasifik', bukanlah fenomena spontan, melainkan konsekuensi logis dari pertarungan pengaruh strategis jangka panjang di jantung kawasan Indo-Pasifik. Aktivitas diplomasi dan keamanan kekuatan besar—terutama Amerika Serikat, Tiongkok, Australia, dan Jepang—terhadap negara-negara kepulauan seperti Kepulauan Solomon, Kiribati, Vanuatu, dan Fiji, meningkat drastis dalam 12 bulan terakhir. Peningkatan ini berpusat pada tiga kepentingan inti: akses ke Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) yang luas, penguasaan sumber daya maritim yang belum tergarap, dan yang terpenting, pengamanan posisi geografis untuk proyeksi kekuatan militer dan pengawasan jalur pelayaran global.

Dinamika Aktor dan Peran Forum Kepulauan Pasifik

Persaingan di kawasan ini dicirikan oleh interaksi kompleks antara aktor negara dan organisasi regional. Di satu sisi, Tiongkok secara agresif memperluas pengaruhnya melalui pendekatan ekonomi dan keamanan terintegrasi, yang berhasil diwujudkan dalam pembaruan pakta keamanan dengan Kepulauan Solomon dan jaringan investasi infrastruktur. Di sisi lain, AS dan sekutu tradisionalnya, Australia, membalas dengan memperkuat komitmen keamanan, seperti Perjanjian Asosiasi Strategis dengan Papua Nugini dan pembukaan kembali kedutaan di Tonga. Forum Kepulauan Pasifik (PIF) kini menjadi arena diplomasi yang diperebutkan, mencerminkan perpecahan internal di antara negara-negara anggota antara daya tarik bantuan pembangunan Tiongkok yang tanpa syarat dan jaminan keamanan tradisional dari poros AS-Australia. Negara-negara kepulauan sendiri, meski sering dianggap sebagai pion dalam permainan kekuatan besar, menunjukkan kecanggihan yang meningkat dalam memanfaatkan persaingan ini untuk memaksimalkan konsesi politik, ekonomi, dan pembangunan bagi kepentingan domestik mereka.

Implikasi Strategis dan Langkah Antisipatif bagi Indonesia

Bagi Indonesia, yang berbatasan langsung dengan kawasan Pasifik Barat melalui Provinsi Papua dan Papua Barat, dinamika geopolitik ini bukan sekadar berita dari kejauhan, melainkan tantangan keamanan langsung yang berdimensi kedaulatan. Peningkatan aktivitas militer asing, latihan bersama, dan kemungkinan pendirian fasilitas logistik di perairan sekitar dapat mengganggu stabilitas dan menguji ketahanan di perbatasan timur negara. Dalam jangka pendek hingga menengah, imperatif strategis bagi Indonesia adalah meningkatkan secara signifikan kapasitas pengawasan, kehadiran, dan penegakan kedaulatan di wilayah perbatasan laut yang berbatasan dengan zona konflik kepentingan ini. Penguatan Armada Timur TNI AL dan peningkatan infrastruktur pengawasan di pulau-pulau terluar menjadi suatu keharusan operasional.

Secara jangka panjang, Indonesia dituntut untuk merumuskan postur diplomasi dan keamanan yang lebih aktif dan visioner. Salah satu opsi strategis adalah memposisikan diri sebagai mitra pembangunan alternatif yang netral dan stabil bagi negara-negara Pasifik, mungkin dengan memperluas cakupan kerja sama melalui kerangka Dewan Negara-negara Samudra Hindia (IORA) atau mempromosikan pendekatan kolektif melalui ASEAN. Ketidakaktifan atau keterlambatan Indonesia dalam terlibat secara berarti dapat berakibat fatal: terkonsolidasinya blok pengaruh asing yang solid di ambang pintu timur nusantara. Hal ini akan secara signifikan membatasi ruang gerak strategis Indonesia, mempersempit opsi kebijakan luar negeri yang bebas-aktif, dan berpotensi mengubah keseimbangan kekuatan (balance of power) regional yang selama ini menguntungkan stabilitas kawasan.

Perebutan pengaruh di Samudra Pasifik pada dasarnya adalah perlombaan untuk mendefinisikan ulang tatanan regional abad ke-21. Bagi kekuatan besar, kawasan ini adalah papan catur geopolitik; bagi negara-negara kepulauan, ini adalah peluang untuk mobilisasi sumber daya; bagi Indonesia, ini adalah ujian nyata terhadap ketangguhan strategi maritim dan visi porosnya. Kegagalan untuk membaca dinamika ini bukan hanya akan membuat Indonesia menjadi penonton, tetapi berpotensi mengubah perairan di sekitarnya dari zona penyangga menjadi zona konflik kepentingan asing yang berhadap-hadapan, dengan segala risiko ketidakstabilan yang menyertainya.

Entitas yang disebut

Organisasi: Forum Kepulauan Pasifik (PIF), Dewan Negara-negara Samudra Hindia (IORA), ASEAN

Lokasi: AS, China, Australia, Jepang, Solomon Islands, Kiribati, Vanuatu, Fiji, Papua Nugini, Tonga, Papua, Indonesia, Pasifik, Samudra Hindia