Geo-Politik

Strategi Poros Tengah (Zhongyuan) China dan Perluasan Pengaruh Ekonomi-Security di Asia Tengah

06 Agustus 2026 China, Asia Tengah 12 views

Strategi Poros Tengah China di Asia Tengah, yang mengintegrasikan Belt and Road Initiative dengan platform keamanan Shanghai Cooperation Organisation, merekonfigurasi keseimbangan kekuatan kawasan dan menggeser pengaruh Rusia. Pendekatan Keamanan Ekonomi ini tidak hanya mengamankan kepentingan strategis Beijing tetapi juga memiliki implikasi global, termasuk bagi Indonesia dalam mengelola hubungan dengan kekuatan besar dan mempertahankan posisi dalam arsitektur geopolitik yang semakin multipolar.

Strategi Poros Tengah (Zhongyuan) China dan Perluasan Pengaruh Ekonomi-Security di Asia Tengah

Strategi geopolitik China di kawasan Asia Tengah, yang sering disebut sebagai poros tengah atau Zhongyuan, telah berkembang menjadi kerangka kerja yang kompleks dan multidimensi, mengintegrasikan secara mendalam kepentingan ekonomi dengan imperatif keamanan. Pendekatan ini tidak muncul dalam ruang hampa; ia merupakan respons strategis terhadap kerentanan rute maritim China yang menghadap Laut Cina Selatan dan Selat Malaka, serta upaya untuk mengkonsolidasikan posisinya di jantung benua Eurasia. Melalui kombinasi inisiatif ekonomi masif di bawah payung Belt and Road Initiative (BRI) dan mekanisme kerja sama keamanan yang difasilitasi Shanghai Cooperation Organisation (SCO), Beijing berupaya mentransformasi kawasan ini menjadi koridor energi dan perdagangan yang aman sekaligus sabuk pengaman geopolitik di perbatasan baratnya yang rawan. Pergeseran ini merepresentasikan rekonfigurasi signifikan terhadap tata kelola kawasan yang selama ini didominasi pengaruh Rusia, sehingga menyuntikkan dinamika baru dalam persaingan kekuatan besar.

Dinamika Multipolar dan Perubahan Keseimbangan Kekuatan di Asia Tengah

Ekspansi pengaruh ekonomi dan keamanan China di Asia Tengah telah mengganggu status quo geopolitik yang relatif stabil pasca-Soviet. Kawasan yang dulu dianggap sebagai 'halaman belakang' Moskwa kini menjadi arena persaingan halus antara dua kekuatan Eurasia. Peningkatan investasi China dalam infrastruktur transportasi, logistik, dan energi—seperti jalur pipa gas alam China-Turkmenistan dan jaringan kereta api menuju Eropa—tidak hanya mengamankan jalur pasokan alternatif bagi Beijing tetapi juga meningkatkan leverage ekonomi dan politiknya terhadap negara-negara seperti Kazakhstan, Uzbekistan, dan Turkmenistan. Paralel dengan itu, melalui Shanghai Cooperation Organisation, China secara sistematis memperkuat kerja sama kontra-terorisme, keamanan perbatasan, dan transfer peralatan serta pelatihan militer. Integrasi domain ekonomi dan keamanan ini menciptakan model Keamanan Ekonomi yang kohesif, di mana stabilitas politik dipandang sebagai prasyarat bagi keberlanjutan investasi, dan sebaliknya, kemakmuran ekonomi diharapkan dapat meredam akar konflik.

Implikasi dari konsolidasi pengaruh China ini bersifat multidimensional. Di tingkat regional, ia mengubah persepsi keamanan dan kalkulus aliansi negara-negara Asia Tengah, yang kini dapat memanfaatkan opsi diplomatik dan ekonomi yang lebih luas di antara Beijing dan Moskwa. Namun, ketergantungan ekonomi yang dalam pada China juga menimbulkan risiko bagi kedaulatan kebijakan negara-negara tersebut. Di tingkat global, keberhasilan strategi poros tengah akan semakin mengurangi ketergantungan Beijing pada jalur maritim yang diawasi oleh Angkatan Laut AS, sehingga mengubah kalkulasi strategis dalam persaingan AS-China. Situasi di Afghanistan pasca-penarikan AS menambah lapisan kompleksitas, di mana China, melalui SCO, berusaha memainkan peran yang lebih besar dalam mengelola risiko keamanan transnasional yang berasal dari negara tersebut, sekaligus mengamankan potensi akses ke sumber daya mineralnya.

Relevansi Strategis bagi Indonesia dan ASEAN dalam Arsitektur Geopolitik yang Berubah

Perkembangan di Asia Tengah bukanlah fenomena yang terisolasi bagi Indonesia dan negara-negara ASEAN. Sebagai Mitra Dialog dalam Shanghai Cooperation Organisation, Indonesia memiliki posisi unik untuk mengamati dan terlibat dalam evolusi organisasi yang semakin dipengaruhi oleh agenda China. Pergeseran pusat gravitasi dalam SCO dari fokus awal pada keamanan tradisional menjadi platform yang juga mendorong integrasi ekonomi di bawah koridor Belt and Road Initiative dapat menawarkan wawasan bagi ASEAN mengenai model kerja sama keamanan-ekonomi yang terintegrasi. Lebih jauh, diversifikasi jalur energi dan perdagangan darat China melalui Asia Tengah dapat secara tidak langsung mempengaruhi dinamika Laut Cina Selatan. Jika tekanan pada rute maritim berkurang, Beijing mungkin akan memiliki ruang manuver yang berbeda dalam negosiasi terkait kawasan tersebut, meskipun hal ini tidak serta merta mengurangi kepentingannya di perairan lepas Indonesia.

Model Keamanan Ekonomi yang diterapkan China di Asia Tengah juga menyajikan studi kasus yang berharga bagi negara berkembang seperti Indonesia dalam mengelola hubungan dengan kekuatan besar. Pendekatan China yang menolak pemisahan ketat antara bantuan pembangunan dan kerja sama keamanan—berbeda dengan model Barat yang sering mengaitkannya dengan kondisi governance dan hak asasi manusia—menawarkan alternatif pragmatis, meskipun penuh dengan pertimbangan mengenai hutang dan ketergantungan strategis. Bagi Indonesia, pembelajaran kunci terletak pada pentingnya menjaga keseimbangan dan diversifikasi dalam keterlibatan eksternal, memastikan bahwa kerja sama dengan satu kekuatan besar tidak mengorbankan kedaulatan atau membatasi opsi strategis dengan mitra lainnya. Dalam jangka panjang, konsolidasi blok geopolitik Eurasia yang dipimpin China dapat mendorong terbentuknya arsitektur global yang lebih multipolar, di mana ASEAN perlu terus memperkuat sentralitas dan ketahanan kolektifnya untuk tetap menjadi aktor yang relevan.

Entitas yang disebut

Organisasi: Shanghai Cooperation Organisation (SCO), ASEAN

Lokasi: China, Asia Tengah, Rusia, Afghanistan, Indonesia