Kebijakan Pertahanan

Southeast Asia's Defense Spending Dilemma: Balancing Sovereignty Amid Great Power Competition

01 Juni 2026 ASEAN, Asia Tenggara 2 views

Peningkatan belanja pertahanan ASEAN menembus $50 miliar merefleksikan respons strategis terhadap ketidakpastian kawasan dan persaingan kekuatan besar. Negara-negara anggota, termasuk Indonesia, berusaha menjaga otonomi melalui diversifikasi pemasok sambil menghadapi dilema antara kebutuhan modernisasi militer dan tekanan fiskal serta risiko eskalasi. Keberhasilan jangka panjang akan ditentukan oleh kemampuan mengubah pengeluaran militer menjadi kapabilitas mandiri dan memperkuat diplomasi kolektif untuk menjaga stabilitas dan keseimbangan kekuatan di kawasan.

Southeast Asia's Defense Spending Dilemma: Balancing Sovereignty Amid Great Power Competition

Data terbaru dari Stockholm International Peace Research Institute (SIPRI) mengonfirmasi sebuah tren geopolitik yang signifikan di Asia Tenggara: kolektif belanja pertahanan negara-negara ASEAN diproyeksikan mencapai rekor tertinggi, menembus angka $50 miliar pada tahun 2026. Lonjakan anggaran ini bukanlah fenomena yang terjadi dalam ruang hampa, melainkan respons langsung terhadap lingkungan keamanan yang semakin kompleks dan volatil. Ketidakpastian strategis di Laut China Selatan, eskalasi ketegangan di sekitar Selat Taiwan, dan tekanan internal untuk memodernisasi kekuatan militer yang dianggap ketinggalan zaman menjadi pendorong utama. Filipina dan Vietnam, sebagai negara garis depan dalam sengketa maritim, mencatat peningkatan anggaran dua digit, dengan fokus pada penguatan kemampuan maritim dan sistem pertahanan rudal pesisir. Indonesia turut merespons dengan mengalokasikan tambahan dana sebesar Rp 15 triliun khusus untuk penguatan armada kapal selam dan kapal perang ringan di wilayah Natuna, sebuah langkah yang mencerminkan perhatian strategis terhadap kedaulatan wilayah dan Zona Ekonomi Eksklusifnya.

Dinamika Aktor dan Pola Aliansi dalam Ajang Persaingan

Peningkatan belanja pertahanan di kawasan ini kerap disederhanakan sebagai reaksi terhadap 'ancaman China'. Namun, analisis yang lebih mendalam mengungkapkan dinamika aktor yang jauh lebih berlapis dan kompleks. Negara-negara ASEAN menunjukkan tingkat kehati-hatian strategis yang tinggi dengan sengaja mendiversifikasi sumber pasokan alutsista. Thailand dan Indonesia, misalnya, tidak bergantung pada satu pemasok, melainkan melakukan pembelian dari berbagai sumber seperti Rusia, Korea Selatan, serta menggenjot pengembangan industri pertahanan dalam negeri. Pola ini mengindikasikan keinginan kuat untuk mempertahankan otonomi dan kebebasan bertindak dalam politik luar negeri, prinsip yang menjadi inti dari free and active foreign policy. Di sisi lain, persaingan kekuatan besar antara Amerika Serikat dan China semakin intens, dimanifestasikan melalui penawaran agresif paket teknologi militer, pelatihan, dan bantuan keamanan. Kawasan Asia Tenggara dengan demikian telah menjadi ajang genting dalam kompetisi pengaruh global, dengan Jepang dan Korea Selatan muncul sebagai pemasok alternatif yang relatif lebih netral secara geopolitik, memberikan pilihan yang amat diperlukan oleh negara-negara ASEAN.

Implikasi Strategis dan Dilema Bagi Poros Maritim Indonesia

Bagi Indonesia, sebagai negara terbesar di ASEAN dan pengklaim poros maritim dunia, implikasi dari tren ini bersifat multidimensi dan penuh dilema. Dalam jangka pendek, lonjakan alokasi anggaran untuk sektor keamanan berpotensi menciptakan tekanan fiskal yang signifikan, dengan risiko menggeser prioritas pendanaan untuk pembangunan infrastruktur, kesehatan, dan pendidikan. Namun, dalam perspektif jangka panjang, modernisasi Tentara Nasional Indonesia (TNI) yang tepat sasaran—terutama di domain maritim—dapat memperkuat fondasi kedaulatan dan posisi tawar Indonesia di panggung internasional. Kapabilitas pertahanan yang kuat merupakan prasyarat bagi Indonesia untuk mewujudkan visi poros maritim dunia dan menegaskan perannya sebagai pemain sentral yang menjaga keseimbangan di ASEAN. Tantangan terbesar terletak pada kemampuan Indonesia untuk mengelola modernisasi militer tanpa terjerumus ke dalam logika eksklusif persaingan kekuatan besar. Keterjeratan dalam dinamika ini berpotensi mengikis prinsip politik luar negeri bebas-aktif dan secara tidak langsung memicu perlombaan senjata regional yang bersifat reaktif dan tidak stabil.

Keberhasilan strategis Indonesia, dan ASEAN secara kolektif, tidak akan semata-mata diukur dari besarnya angka belanja pertahanan, melainkan dari efektivitas transformasi pengeluaran militer tersebut menjadi kapabilitas yang benar-benar mandiri dan interoperable. Ini memerlukan strategi industrialisasi pertahanan yang berkelanjutan, penguatan sinergi penelitian dan pengembangan, serta peningkatan kapasitas sumber daya manusia. Lebih penting lagi, peningkatan kapabilitas keras (hard power) harus berjalan beriringan dengan penguatan soft power melalui diplomasi kolektif ASEAN. Mekanisme seperti ASEAN Outlook on the Indo-Pacific (AOIP) dan upaya menjaga sentralitas ASEAN dalam arsitektur keamanan regional harus tetap menjadi prioritas utama. Tujuannya adalah untuk menciptakan lingkungan strategis di mana persaingan kekuatan besar dapat dikelola dan diimbangi, bukan menjadi kekuatan destruktif yang memecah-belah kawasan. Pada akhirnya, peningkatan belanja pertahanan di Asia Tenggara adalah cermin dari sebuah kawasan yang sedang berusaha menemukan keseimbangan baru di tengah turbulensi geopolitik global, sebuah upaya yang penuh risiko namun tak terelakkan dalam mempertahankan kedaulatan dan stabilitas.