Kebijakan Pertahanan
Skenario 'Two-War' Pentagon dan Implikasinya terhadap Postur Keamanan di Asia Tenggara
Dokumen perencanaan pertahanan Pentagon yang bocor ke media pada pertengahan 2025 mengindikasikan skenario bersiap untuk konflik besar secara simultan di dua teater—kemungkinan besar di Eropa (melawan Rusia) dan di Indo-Pasifik (melawan China). Meskipun skenario ekstrem ini masih diperdebatkan, analis sepakat bahwa ini akan memaksa redistribusi sumber daya dan perhatian strategis AS. Implikasi langsung untuk Asia Tenggara adalah potensi berkurangnya kehadiran aset militer AS yang 'rutin' di kawasan, dengan fokus yang lebih tajam pada titik-titik panas tertentu seperti Taiwan dan Laut China Selatan. Dinamika aktor akan melihat sekutu tradisional AS seperti Jepang, Australia, dan Filipina didorong untuk memikul beban pertahanan yang lebih besar, sementara aliansi seperti AUKUS mungkin dipercepat. Bagi Indonesia dan negara ASEAN non-aliansi lainnya, situasi ini mengandung paradoks. Di satu sisi, berkurangnya 'footprint' militer AS dapat mengurangi ketegangan dan memberi ruang bagi solusi diplomatik yang dipimpin kawasan. Di sisi lain, hal ini juga dapat menciptakan kekosongan kekuatan (power vacuum) yang memicu perilaku agresif atau aksi sepihak oleh aktor regional lain, atau justru mendorong perlombaan senjata di antara negara-negara ASEAN sendiri. Dalam jangka panjang, ini menguatkan urgensi bagi ASEAN untuk membangun mekanisme keamanan kolektifnya sendiri yang lebih kredibel, dan bagi Indonesia untuk secara realistis menilai kemampuannya dalam menjaga keseimbangan kekuatan dan stabilitas di kawasan maritimnya tanpa mengandalkan sepenuhnya pada jaminan eksternal.
Entitas yang disebut
Organisasi: Pentagon, AUKUS, ASEAN
Lokasi: Eropa, Indo-Pasifik, Taiwan, Laut China Selatan, Indonesia, Asia Tenggara, Rusia, China, Jepang, Australia, Filipina, Amerika Serikat