Perspektif Global & Regional

Pergeseran Aliansi di Pasifik: Analisis atas Meningkatnya Kerja Sama Keamanan Fiji dengan Amerika Serikat dan Australia

30 April 2026 Kawasan Pasifik, Fiji 10 views

Keputusan Fiji memperdalam kerja sama keamanan dengan AS dan Australia menandai pergeseran aliansi strategis di Pasifik, sebagai respons terhadap ekspansi pengaruh China. Dinamika ini memiliki implikasi langsung bagi keamanan perbatasan timur Indonesia dan menawarkan pelajaran tentang pemanfaatan persaingan kekuatan besar oleh negara-negara kecil. Indonesia perlu memperkuat diplomasi Pasifiknya dengan menawarkan kemitraan pembangunan yang non-eksploitatif, sambil mengantisipasi potensi kristalisasi blok pengaruh dan meningkatnya tensi di kawasan.

Pergeseran Aliansi di Pasifik: Analisis atas Meningkatnya Kerja Sama Keamanan Fiji dengan Amerika Serikat dan Australia

Kawasan Pasifik, yang selama beberapa dekade beroperasi dalam kerangka stabilitas relatif di bawah pengaruh tradisional Australia dan Selandia Baru, kini mengalami transformasi geopolitik yang mendasar. Pergeseran ini dipicu oleh masuknya China sebagai aktor strategis utama, yang melalui diplomasi ekonomi dan keamanan yang agresif telah mengubah kalkulus keamanan negara-negara kepulauan. Keputusan Fiji untuk memperdalam kerja sama keamanan dengan Amerika Serikat dan Australia—meliputi akses fasilitas dan latihan militer yang lebih luas—bukan sekadar perkembangan bilateral, melainkan indikator nyata dari realignment atau penataan ulang aliansi di jantung kawasan Indo-Pasifik. Langkah ini merepresentasikan respons strategis terhadap apa yang dianggap sebagai perluasan pengaruh Beijing yang mengganggu status quo regional, sekaligus upaya Suva untuk memanfaatkan persaingan kekuatan besar guna memaksimalkan keuntungan keamanan dan pembangunannya sendiri.

Dinamika Kekuatan Besar dan Respon Negara Kepulauan

Peningkatan diplomasi pertahanan AS dan Australia di kawasan Pasifik merupakan bagian integral dari strategi Indo-Pasifik yang lebih luas, yang dirancang untuk menangkal hegemoni regional dan memastikan akses strategis. Inisiatif seperti pakta AUKUS dan revitalisasi Forum Kepulauan Pasifik (PIF) berfungsi sebagai instrumen untuk memulihkan pengaruh dan menawarkan alternatif strategis yang bersaing dengan model yang diusung China. Bagi negara-negara seperti Fiji, persaingan ini menciptakan ruang manuver yang sebelumnya tidak ada. Mereka tidak lagi sekadar objek kebijakan luar negeri kekuatan besar, tetapi menjadi aktor yang secara aktif membentuk lingkungan keamanan mereka melalui pilihan aliansi yang kalkulatif. Pilihan Suva untuk condong ke Washington dan Canberra mencerminkan penilaian pragmatis terhadap risiko dan manfaat, di mana jaminan keamanan konvensional dan kerja sama kapasitas dinilai lebih dapat diprediksi dibandingkan dengan keterlibatan yang lebih dalam dengan Beijing, yang seringkali disertai dengan beban utang dan ketergantungan strategis.

Implikasi Strategis Langsung bagi Indonesia

Dinamika di atas memiliki resonansi keamanan yang langsung dan mendalam bagi Indonesia. Sebagai negara kepulauan terbesar yang berbatasan langsung dengan kawasan Pasifik melalui Provinsi Papua dan Papua Barat, setiap perubahan dalam keseimbangan kekuatan atau peningkatan tensi militer di perairan tersebut berpotensi mempengaruhi stabilitas kawasan perbatasan timur Indonesia. Peningkatan kehadiran militer AS dan Australia di Fiji dapat mengubah persamaan keamanan di Laut Karang dan Samudra Pasifik barat daya, yang berdekatan dengan Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia. Lebih dari itu, situasi ini menawarkan pelajaran penting tentang diplomasi pertahanan bagi Jakarta: negara-negara kecil hingga menengah di Pasifik secara cerdik memanfaatkan persaingan geopolitik untuk meningkatkan posisi tawar mereka. Indonesia, dengan statusnya sebagai kekuatan menengah dan ketua ASEAN, perlu merancang ulang pendekatannya. Diplomasi Pasifik Indonesia harus melampaui narasi tetangga yang berkepentingan, dan berkembang menjadi kemitraan pembangunan yang substantif, menawarkan kerja sama teknis, pembangunan kapasitas maritim, dan keamanan non-tradisional yang bersifat non-eksploitatif dan selaras dengan kepentingan kedaulatan negara-negara pulau.

Dalam jangka menengah hingga panjang, realignment di Pasifik ini berpotensi mengkristalkan blok-blok pengaruh yang lebih tegas, dengan Amerika Serikat dan sekutu tradisionalnya seperti Australia di satu sisi, dan China di sisi lain, memperebutkan hati dan pikiran negara-negara kepulauan. Kecenderungan ini dapat meningkatkan risiko militarisasi kawasan dan memicu siklus aksi-reaksi yang menantang prinsip stabilitas dan zona damai. Bagi tatanan regional, ini mengisyaratkan berakhirnya era Pasifik sebagai 'danau tenang' dan dimulainya babak baru persaingan strategis yang kompleks. Keberhasilan atau kegagalan model kemitraan yang ditawarkan oleh berbagai pihak akan menentukan apakah kawasan ini dapat mempertahankan otonomi kolektifnya atau semakin terperangkap dalam logika persaingan kekuatan besar. Refleksi akhir mengarah pada pentingnya diplomasi inklusif dan multilateralisme yang otentik. Negara-negara dengan kepentingan di Pasifik, termasuk Indonesia, harus bekerja untuk memastikan bahwa institusi regional seperti PIF tetap menjadi wadah utama pengambilan keputusan, bukan sekadar arena proxy bagi persaingan kekuatan besar, sehingga stabilitas dan kemakmuran kolektif kawasan dapat terjaga.

Entitas yang disebut

Organisasi: AUKUS, Forum Kepulauan Pasifik (PIF)

Lokasi: Pasifik, Fiji, Amerika Serikat, Australia, China, Indonesia, Papua, Suva