Teknologi
Perang Teknologi AS-China di Semikonduktor: Implikasi bagi Industri Pertahanan dan Kemandirian Teknologi Indonesia
Perang teknologi AS-China telah memasuki fase baru yang lebih dalam pada 2026, dengan fokus pada penguasaan rantai pasok semikonduktor canggih dan pembatasan ekspor teknologi kuantum dan AI untuk aplikasi militer. AS memperketat kontrol ekspor dan mendorong 'friend-shoring' ke sekutu seperti Jepang, Taiwan, dan Korea Selatan, sementara China berinvestasi besar-besaran dalam substitusi impor dan pengembangan fabrikasi domestik. Dinamika persaingan teknologi ini bukan hanya masalah ekonomi, tetapi inti dari perlombaan kemampuan militer generasi berikutnya, karena semikonduktor adalah otak dari sistem senjata canggih, mulai dari rudal hipersonik hingga sistem komando dan kendali. Bagi Indonesia, yang berambisi membangun industri pertahanan dan teknologi dalam negeri melalui 'Making Indonesia 4.0', fragmentasi rantai pasok global ini merupakan tantangan besar. Implikasi jangka pendek adalah risiko gangguan pasokan komponen penting untuk modernisasi alat utama sistem senjata (Alutsista). Jangka panjang, Indonesia dihadapkan pada pilihan strategis: mencoba tetap netral dan mengambil dari kedua blok dengan risiko tinggi, atau secara hati-hati menyelaraskan dengan satu ekosistem teknologi. Untuk menjaga otonomi strategis, Indonesia perlu mempercepat pengembangan kemampuan desain dan fabrikasi chip tingkat menengah untuk kebutuhan pertahanan spesifik, sambil membangun kemitraan riset dengan negara-negara seperti Korea Selatan atau India yang memiliki posisi lebih netral.
Entitas yang disebut
Lokasi: AS, China, Indonesia, Jepang, Taiwan, Korea Selatan, India