Kebijakan Pertahanan
Peningkatan Kerja Sama Pertahanan Indonesia-Perancis: Maksud Strategis di Balik Penjualan Rafale dan Kapal Selam
Indonesia dan Perancis terus memperdalam kerja sama pertahanan strategis, yang dimulai dengan pembelian 42 pesawat tempur Rafale dan diperkuat dengan kesepakatan kerja sama pengembangan kapal selam Scorpene. Konteks global dari kemitraan ini adalah diversifikasi sumber pasokan alutsista Indonesia untuk mengurangi ketergantungan historis pada pemasok tradisional seperti AS dan Rusia, sekaligus upaya Perancis untuk memperluas pengaruh geopolitiknya di Indo-Pasifik. Dinamika aktor menunjukkan Jakarta memanfaatkan persaingan antara negara pemasok senjata (AS, Rusia, Eropa, Korea Selatan) untuk mendapatkan transfer teknologi dan kondisi yang lebih menguntungkan. Perancis, sebagai kekuatan nuklir dan anggota tetap DK PBB, menawarkan pelatihan, interoperabilitas, dan dukungan diplomatik. Implikasi jangka pendek adalah peningkatan signifikan kemampuan proyeksi kekuatan TNI AU dan TNI AL. Jangka panjang, kemitraan ini dapat mengubah postur pertahanan Indonesia menjadi lebih kuat dan kompleks, namun juga menuntut peningkatan anggaran pemeliharaan dan pengembangan SDM. Analisis ini juga melihat bahwa kerja sama dengan Perancis, yang memiliki kepentingan di Indo-Pasifik melalui teritorinya, dapat memperkuat posisi Indonesia dalam isu-isu maritim dan penegakan hukum di laut, meski harus tetap menjaga keseimbangan dengan mitra lainnya.