Geo-Politik

Ketegangan di Laut Tiongkok Selatan: Upaya Filipina dan Vietnam Melawan 'Grey-Zone Tactics' Beijing

25 Mei 2026 Laut Tiongkok Selatan, Asia Tenggara 12 views

Ketegangan di Laut Tiongkok Selatan merefleksikan transformasi geopolitik global, dengan grey-zone tactics Tiongkok mengaburkan batas operasi militer dan sipil. Respon diferensial Filipina (transparansi koersif berbasis aliansi) dan Vietnam (pembangunan kapasitas mandiri) serta intervensi kekuatan ekstra-regional menginternasionalisasi sengketa, menciptakan dilema bagi ASEAN dan Indonesia dalam menjaga stabilitas regional dan kepentingan strategisnya di tengah persaingan hegemoni yang semakin intens.

Ketegangan di Laut Tiongkok Selatan: Upaya Filipina dan Vietnam Melawan 'Grey-Zone Tactics' Beijing

Laut Tiongkok Selatan telah berevolusi menjadi arena konflik geopolitik paling kompleks di Asia Timur, menandai titik kritis dalam transformasi tatanan maritim global dari konsep berbasis aturan ke persaingan kekuatan. Sengketa multisegi ini kini ditransformasi melalui grey-zone tactics Tiongkok yang sistematis, menggunakan milisi maritim, penjaga pantai yang dimiliterisasi, dan infrastruktur sipil-militer ganda (civil-military fusion) untuk mengaburkan batas antara operasi damai dan militer. Metode ini menciptakan tantangan hukum dan strategis mendalam bagi prinsip maritim internasional, mengancam stabilitas yang diperlukan untuk perdagangan global dan keamanan energi.

Strategi Diferensial Filipina dan Vietnam dalam Menghadapi Grey-Zone Tactics

Respon dari negara klaiman, khususnya Filipina dan Vietnam, menunjukkan pola perlawanan yang semakin terstruktur terhadap ekspansi unilateral Beijing, namun dengan paradigma berbeda. Filipina, yang terikat Pakta Pertahanan Bersama dengan Amerika Serikat, mengadopsi strategi transparansi koersif. Manila secara konsisten mendokumentasikan dan mempublikasikan insiden di Laut Tiongkok Selatan, menggiring isu ke ranah diplomasi publik dan hukum internasional untuk mengerahkan tekanan normatif. Pendekatan ini berusaha memperbesar biaya reputasi bagi Tiongkok dan menguatkan legitimasi klaimnya sendiri. Di sisi lain, Vietnam menempuh jalan pembangunan kapasitas mandiri dan diplomasi diam-diam yang lebih hati-hati. Hanoi memperkuat armada kapal selam dan patrolinya secara substansial, sekaligus membangun hubungan keamanan dengan berbagai mitra tanpa terikat aliansi formal. Perbedaan ini mencerminkan perhitungan risiko geopolitik yang mendasar: Manila memanfaatkan jaminan aliansi dengan kekuatan besar, sementara Hanoi berusaha menjaga otonomi strategis sembari menyeimbangkan kekuatan eksternal.

Intervensi Kekuatan Besar dan Dilema Fragmentasi ASEAN

Konflik di Laut Tiongkok Selatan diperdalam oleh intervensi kekuatan ekstra-regional, yang menginternasionalisasi sengketa lokal menjadi arena persaingan hegemoni global. Kembalinya akses Amerika Serikat ke pangkalan militer strategis di Filipina melalui Enhanced Defense Cooperation Agreement (EDCA) mengubah kalkulasi militer di kawasan secara signifikan. Paralel, kemitraan keamanan AS-Vietnam yang terus meningkat, meski belum menjadi aliansi formal, menunjukkan konvergensi kepentingan untuk membendung dominasi maritim Tiongkok. Fenomena ini menciptakan dilema struktural bagi negara-negara ASEAN, termasuk Indonesia: memanfaatkan kehadiran Amerika Serikat untuk menyeimbangkan pengaruh Beijing, namun berjuang keras untuk tidak terjebak dalam dinamika persaingan AS-Tiongkok yang dapat merusak solidaritas regional dan sentralitas ASEAN. Munculnya arsitektur keamanan mini-lateral, seperti koordinasi patroli dan latihan gabungan, mengindikasikan fragmentasi potensial dari tatanan keamanan berbasis ASEAN.

Posisi Indonesia dalam dinamika ini sangat sensitif, mengingat kepentingan strategisnya di Laut Tiongkok Selatan sebagai jalur perdagangan dan sumber daya energi. Kecenderungan perimbangan kekuatan (balance of power) yang semakin terbentuk melalui intervensi ekstra-regional menuntut Jakarta untuk melakukan penilaian ulang terhadap doktrin kebijakan luar negeri dan pertahanannya. Sebagai anggota ASEAN dan kekuatan maritim utama, Indonesia menghadapi tekanan untuk mempertahankan integritas zona ekonomi eksklusifnya di Natuna, yang juga bersinggungan dengan klaim Tiongkok, sambil menjaga stabilitas regional. Peningkatan aktivitas grey-zone di laut China selatan dapat memiliki efek spillover terhadap keamanan maritim Indonesia, meningkatkan risiko konfrontasi tak terduga dan mengganggu navigasi bebas.

Implikasi jangka panjang dari ketegangan di Laut Tiongkok Selatan berpotensi membentuk rekonfigurasi permanen tatanan keamanan Indo-Pasifik. Jika grey-zone tactics Beijing terus berhasil tanpa penalti normatif atau koersif yang signifikan, hal itu dapat mendorong normalisasi pendekatan ambigu yang mengabaikan hukum internasional, merusak prinsip yang mendasari UNCLOS. Respon diferensial Filipina dan Vietnam, serta intervensi kekuatan besar, mungkin mengarah pada skenario di mana kawasan terpolarisasi lebih jelas, dengan negara-negara memilih jalur aliansi atau otonomi. Hal ini akan menempatkan ASEAN pada posisi yang semakin dilematis, menguji kapasitasnya sebagai pengatur keamanan regional. Untuk Indonesia, dinamika ini menekankan kebutuhan untuk memperkuat kapasitas maritim sendiri, mengembangkan strategi diplomasi yang lebih aktif dalam forum ASEAN dan internasional, serta merumuskan posisi yang jelas namun fleksibel dalam menghadapi kompleksitas keseimbangan kekuatan yang baru.

Entitas yang disebut

Organisasi: ASEAN, Angkatan Laut Indonesia

Lokasi: Laut Tiongkok Selatan, Filipina, Vietnam, Beijing, Tiongkok, Amerika Serikat, Indonesia, Kepulauan Natuna