Perspektif Global & Regional

Kebangkitan Global Selatan dan Reposisi Indonesia dalam Tata Kelola Dunia

03 April 2026 Global, Indonesia

Kebangkitan Global Selatan sebagai kekuatan negosiasi kolektif menawarkan ruang bagi Indonesia untuk bereposisi dari politik 'bebas-aktif' menjadi 'terlibat dan memimpin' dalam membentuk tata kelola dunia baru. Kesuksesan reposisi ini bergantung pada kemampuan Indonesia mendamaikan kepentingan domestik dengan agenda kolektif serta menghasilkan proposal reformasi konkret, bukan sekadar keikutsertaan dalam forum alternatif.

Kebangkitan Global Selatan dan Reposisi Indonesia dalam Tata Kelola Dunia

Dunia pasca krisis Ukraina mengalami fragmentasi geopolitik yang signifikan, dengan forum seperti G20 menunjukkan perpecahan yang semakin nyata. Dalam konteks ini, kohesi 'Global Selatan'—yang mencakup negara-negara berkembang di Asia, Afrika, dan Amerika Latin—mulai menguat sebagai kekuatan negosiasi kolektif. Aktor-aktor ini secara konsisten menyuarakan agenda reformasi dalam isu-isu sentral seperti reformasi keuangan global, perubahan iklim, dan perdamaian. Dinamika ini merefleksikan ketidakpuasan terhadap struktur tata kelola dunia yang ada, yang sering dianggap tidak representatif dan kurang adil bagi negara berkembang.

Indonesia sebagai Aktor Strategis di Jantung Global Selatan

Indonesia, dengan kekuatan ekonomi menengah dan sejarah kepemimpinan dalam Gerakan Non-Blok (Non-Aligned Movement), secara strategis memposisikan diri di jantung kelompok ini. Positioning ini bukan sekadar retorika; ia merupakan bagian dari reposisi geopolitik yang cermat. Dari politik luar negeri 'bebas-aktif', Indonesia tampak bergerak menuju paradigma 'terlibat dan memimpin' dalam membentuk konsensus baru global. Presidensi Indonesia di ASEAN pada 2025 serta peran aktifnya dalam forum seperti BRICS+ (sebagai mitra dialog) menjadi platform diplomatik yang vital. Melalui platform ini, Indonesia dapat mengartikulasikan agenda-agenda yang sering berbeda dengan blok Barat atau dengan pendekatan unilateral Cina, seperti penekanan pada keadilan dalam transisi energi dan penghapusan subsidi pertanian global yang distortif.

Dinamika Kekuatan dan Implikasi terhadap Keseimbangan Global

Kebangkitan Global Selatan sebagai blok negosiasi kolektif memiliki implikasi mendalam terhadap keseimbangan kekuatan (balance of power) global. Ia menciptakan ruang politik alternatif di luar polarisasi tradisional Barat versus Timur, atau AS versus China. Keberadaan kelompok ini dapat menjadi penyeimbang (balancer) atau bahkan disruptor terhadap struktur tata kelola yang dominan. Dalam konteks regional Asia Tenggara, reposisi Indonesia ini juga memengaruhi dinamika ASEAN. Indonesia yang lebih assertif dalam forum global dapat memperkuat kapasitas ASEAN secara kolektif untuk mengadvokasi kepentingan kawasan, sekaligus menjaga stabilitas regional di tengah persaingan kekuatan besar.

Keberhasilan reposisi strategis Indonesia dalam tata kelola dunia ini tidak akan diukur hanya dari keikutsertaan dalam klub alternatif. Ukuran yang lebih substantif adalah kemampuan Indonesia untuk mendamaikan kepentingan domestik yang kompleks dan beragam dengan suara kolektif Global Selatan. Lebih penting lagi, keberhasilan harus diwujudkan dalam kemampuan menghasilkan proposal konkret yang secara operasional mengubah struktur institusi dan norma global, misalnya dalam reformasi Bretton Woods institutions atau dalam membentuk mekanisme perdamaian yang lebih inklusif. Diplomasi Indonesia harus mampu mentransformasikan posisi moral dan sejarahnya menjadi leverage politik dan ekonomi yang nyata.

Dalam jangka panjang, reposisi ini membawa konsekuensi dan tantangan. Pertama, Indonesia harus menghindari risiko terjebak dalam polarisasi baru atau menjadi proxy bagi kekuatan besar lain. Kedua, kapasitas untuk memimpin konsensus di dalam Global Selatan sendiri akan menjadi test case, karena kelompok ini terdiri dari negara-negara dengan kepentingan ekonomi dan politik yang tidak selalu homogen. Ketiga, implikasi terhadap hubungan bilateral dengan kekuatan tradisional seperti AS dan negara-negara Eropa perlu dikelola dengan hati-hati agar tidak menimbulkan disengagement yang merugikan. Reposisi ini, jika dilakukan dengan bijaksana dan berbasis pada kapasitas substantif, dapat memperkuat posisi Indonesia bukan hanya sebagai 'pemain' dalam geopolitik global, tetapi sebagai 'pengaruh' yang signifikan dalam mendesain arsitektur tata kelola dunia yang lebih multipolar dan adil.

Entitas yang disebut

Organisasi: G20, Non-Aligned Movement, ASEAN, BRICS+

Lokasi: Ukraina, Indonesia, Asia, Afrika, Amerika Latin