Perspektif Global & Regional

Kebangkitan Diplomasi Global Selatan: Peran Indonesia dalam BRICS+ dan G77

25 April 2026 Global 10 views

Kebangkitan Global South melalui BRICS+ dan G77 menandai pergeseran fundamental menuju tatanan dunia multipolar, menantang dominasi Barat. Indonesia, dengan posisi penjembatan yang unik, menghadapi dilema diplomasi antara mendukung agenda reformis dan menjaga hubungan dengan mitra tradisional. Keberhasilan navigasi ini akan menentukan peran Indonesia dalam membentuk keseimbangan kekuatan baru dan menjaga stabilitas kawasan Asia Tenggara.

Kebangkitan Diplomasi Global Selatan: Peran Indonesia dalam BRICS+ dan G77

Transformasi lanskap geopolitik global dalam beberapa tahun terakhir ditandai oleh artikulasi dan koordinasi kolektif Global South yang semakin kokoh. Kebangkitan ini merupakan respons struktural terhadap ketimpangan mendasar dalam tatanan internasional pasca-Perang Dingin, terutama dalam akses ke tata kelola keuangan global, pembebasan dari beban utang, serta pemerataan teknologi dan pendanaan iklim. Fenomena ini bukanlah gelombang sementara, melainkan pergeseran paradigma fundamental dari konfigurasi dunia yang berpusat pada Barat menuju arsitektur yang lebih multipolar. Saluran institusional utama untuk aspirasi ini adalah BRICS, yang berevolusi menjadi 'BRICS+' melalui ekspansi keanggotaan, dan G77 yang mengalami revitalisasi di forum multilateral seperti UNGA dan COP. Konsolidasi ini merepresentasikan ketidakpuasan material dan strategis yang telah lama terpendam, mengubah dinamika kekuatan global secara permanen.

Posisi Geostrategis Indonesia di Tengah Transformasi Multipolar

Diplomasi Indonesia menghadapi peluang dan tantangan kompleks dalam arus kebangkitan Global South. Sebagai ekonomi terbesar di ASEAN dan pendiri G77, Indonesia memiliki kredensial historis dan kapabilitas material untuk mengklaim kepemimpinan. Posisi uniknya diperkuat oleh kemitraan strategis simultan dengan inti BRICS seperti Tiongkok dan India, sambil mempertahankan hubungan kerja yang erat dengan blok Barat. Konfigurasi ini memposisikan Indonesia secara ideal sebagai 'penjembatan' (bridge-builder), suatu peran yang konsisten dengan rekam jejaknya di ASEAN dan G20. Namun, peran penjembatan ini mengandung dilema diplomasi yang mendalam. Di satu sisi, ia memberikan leverage dan akses ke berbagai forum kekuasaan. Di sisi lain, ia menciptakan tekanan yang bertentangan: antara menjaga hubungan konstruktif dengan negara maju yang merupakan mitra investasi dan keamanan tradisional, dengan mendukung agenda perubahan struktural yang lebih radikal yang didorong oleh sebagian anggota Global South. Konsistensi kebijakan luar negeri dalam menavigasi ketegangan ini menjadi ujian utama bagi kredibilitas strategis Indonesia.

Implikasi terhadap Keseimbangan Kekuatan dan Stabilitas Regional

Konsolidasi Global South melalui BRICS+ dan G77 secara signifikan mempengaruhi kalkulus balance of power global. Blok ini berpotensi berkembang menjadi kutub ketiga yang kohesif, melengkapi—dan terkadang menantang—blok Barat yang dipimpin AS dan blok yang dimotori oleh aliansi Tiongkok-Rusia. Bagi kawasan Asia Tenggara dan Indonesia, implikasi geopolitiknya bersifat dua tingkat. Pada tingkat global, meningkatnya bargaining power kolektif dapat membuka ruang baru bagi negara-negara ASEAN untuk memperjuangkan reformasi dalam tata kelola perdagangan, keuangan, dan iklim dengan suara yang lebih kuat dan terkoordinasi. Namun, pada tingkat regional, dinamika ini justru dapat mempersulit navigasi ASEAN. Jika kohesi internal Global South terpecah oleh loyalitas bersaing atau terpolarisasi oleh persaingan AS-Tiongkok, maka ASEAN berisiko kehilangan pusat gravitasinya. Stabilitas kawasan sangat bergantung pada kemampuan ASEAN, dengan Indonesia sebagai pemimpin de facto, untuk mempertahankan sentralitas dan netralitasnya, mencegah kawasan menjadi ajang proksi dari persaingan antar-blok yang lebih besar.

Dalam jangka menengah dan panjang, kebangkitan Global South akan terus mendefinisikan ulang aturan main hubungan internasional. Keberhasilan BRICS+ dan G77 dalam mendorong reformasi institusi Bretton Woods atau menciptakan mekanisme pembayaran dan pembiayaan alternatif akan menjadi indikator nyata pergeseran kekuatan. Bagi Indonesia, momentum ini menawarkan peluang strategis untuk meningkatkan posisi tawarnya, namun juga menuntut kecerdikan diplomasi tingkat tinggi. Masa depan akan ditentukan oleh kemampuan Indonesia untuk memanfaatkan modal diplomatiknya—sejarah, geografi, dan ekonomi—untuk tidak hanya menjadi penjembatan pasif, tetapi menjadi arsitek aktif dari tatanan multipolar yang lebih adil dan stabil. Kegagalan dalam menavigasi dilema ini dapat mengikis relevansi strategis Indonesia, sementara keberhasilan dapat mengukuhkannya sebagai indispensable power dalam abad Asia yang kompetitif dan penuh ketidakpastian.