Geo-Ekonomi

Kebangkitan BRICS+ dan Pergeseran Arsitektur Governance Global: Peluang dan Tantangan bagi Indonesia

18 Juli 2026 Global 10 views

Ekspansi BRICS menjadi BRICS+ merepresentasikan pergeseran geopolitik menuju tatanan dunia yang lebih multipolar, menantang dominasi Barat melalui inisiatif seperti sistem pembayaran berbasis mata uang lokal. Bagi Indonesia, partisipasi menawarkan peluang strategis untuk memperkuat otonomi dan kepemimpinan di Global South, namun juga menghadirkan tantangan kompleks dalam menjaga keseimbangan di tengah rivalitas internal anggota dan merumuskan kontribusi substantif dalam governance global yang baru.

Kebangkitan BRICS+ dan Pergeseran Arsitektur Governance Global: Peluang dan Tantangan bagi Indonesia

Ekspansi signifikan BRICS yang baru-baru ini mengintegrasikan kekuatan ekonomi kunci dari Global South—Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Iran, Mesir, dan Ethiopia—tidak sekadar menambah jumlah anggota. Transformasi ini merupakan pergeseran geopolitik substantif yang merekonfigurasi arsitektur governance global. Kehadiran blok yang kini mencakup produsen energi utama, pusat logistik global, dan ekonomi dengan populasi besar, secara langsung menantang hegemonik tradisional Barat dan menandai percepatan menuju tatanan dunia yang lebih multipolar. Inisiatif seperti pengembangan sistem pembayaran alternatif berbasis mata uang lokal dan pembentukan institusi keuangan baru bukan lagi wacana, melainkan proyeksi nyata dari keinginan kolektif untuk membentuk sistem tata kelola ekonomi internasional yang paralel dan otonom.

Dinamika Internal dan Tantangan Kohesi: Sebuah Lab Geopolitik Kompleks

Meskipun narasi kolektif BRICS+ mengusung platform anti-hegemoni Barat, dinamika internalnya merefleksikan kompleksitas balance of power yang baru. Forum ini menjadi wadah bagi rivalitas geopolitik yang mendalam, seperti kompetisi strategis antara India dan Cina di Samudra Hindia dan Asia Tengah, serta persaingan tradisional dan ketegangan keamanan antara Iran dan Arab Saudi di Timur Tengah. Keragaman kepentingan nasional yang ekstrem ini menghadirkan tantangan kohesi yang fundamental. Keberhasilan atau kegagalan BRICS+ dalam mengelola friksi internal akan menjadi indikator krusial bagi viabilitas blok-blok alternatif dalam sistem global yang multipolar. Ini bukan hanya soal ekonomi, tetapi merupakan ujian terhadap kapasitas diplomasi dan manajemen konflik di antara negara-negara yang seringkali memiliki agenda keamanan yang saling bertentangan.

Relevansi Strategis bagi Indonesia: Antara Peluang Otonomi dan Dilema Aliansi

Bagi Indonesia, partisipasi aktif dalam BRICS+ membuka dimensi strategis baru yang selaras dengan prinsip politik luar negeri bebas-aktif dan aspirasi kepemimpinan di Global South. Dari perspektif geopolitik, forum ini menawarkan platform untuk mendiversifikasi ketergantungan ekonomi dan keamanan, sekaligus memperkuat daya tawar dalam menghadapi tekanan dari kekuatan besar tradisional. Akses yang lebih stabil ke pasar dan rantai pasok energi dari anggota-anggota baru, misalnya, dapat meningkatkan ketahanan nasional. Namun, peluang ini datang dengan dilema kebijakan yang mendalam. Indonesia harus menjaga keseimbangan yang sangat hati-hati agar tidak terperangkap dalam dinamika persaingan antar-anggota, khususnya dalam persaingan AS-Cina, sambil tetap secara konsisten merumuskan kontribusi substantif untuk membentuk agenda, bukan sekadar mengikutinya. Posisi Indonesia akan diuji kemampuannya untuk menjadi penyeimbang (honest broker) dan pemikir strategis di dalam blok yang kompleks ini.

Implikasi jangka panjang dari kebangkitan BRICS+ terhadap stabilitas kawasan dan tatanan global bersifat transformatif. Pergeseran menuju sistem pembayaran berbasis mata uang lokal dan bank pembangunan alternatif berpotensi mengurangi dominasi dolar AS dan lembaga keuangan Barat, secara gradual mengubah landscape keuangan dan perdagangan global. Hal ini dapat membentuk keseimbangan kekuatan (balance of power) yang lebih terfragmentasi namun juga lebih kompetitif. Bagi kawasan Indo-Pasifik dan ASEAN, hal ini berarti semakin kompleksnya lingkungan strategis, di mana negara-negara anggota harus bernavigasi di antara berbagai pusat gravitasi kekuatan. Konsekuensinya, diplomasi multilateral yang lincah dan kapasitas analisis geopolitik yang mendalam menjadi prasyarat mutlak bagi Indonesia untuk memanfaatkan peluang dan memitigasi risiko dalam era multipolar yang sedang terbentuk ini. Masa depan governance global kemungkinan besar akan ditandai oleh koeksistensi dan kompetisi antara berbagai blok dan sistem tata kelola, dan BRICS+ telah memposisikan diri sebagai salah satu aktor utama dalam menentukan kontur akhir tatanan tersebut.

Entitas yang disebut

Organisasi: BRICS, BRICS+, IMF, Bank Dunia

Lokasi: Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Iran, Mesir, Ethiopia, India, China, Indonesia