Kebijakan Pertahanan

Eskalasi Ketegangan di Laut China Selatan: Uji Coba Latihan Militer Bersama dan Dampaknya terhadap ASEAN

03 Juli 2026 Laut China Selatan, China, ASEAN, Amerika Serikat 12 views

Eskalasi latihan militer di Laut China Selatan mencerminkan polarisasi geopolitik yang mengancam solidaritas ASEAN dan keseimbangan kekuatan regional. Indonesia menghadapi ancaman langsung terhadap kedaulatan di Natuna dan harus merespons dengan memperkuat deterensi maritim sekaligus memimpin diplomasi untuk menjaga stabilitas kawasan. Kompetisi AS-China yang terkonsentrasi di kawasan ini menuntut negara-negara ASEAN membangun ketahanan strategis untuk navigasi di tengah rivalitas kekuatan besar.

Eskalasi Ketegangan di Laut China Selatan: Uji Coba Latihan Militer Bersama dan Dampaknya terhadap ASEAN

Dinamika geopolitik di Laut China Selatan kembali memasuki fase eskalasi signifikan menyusul pelaksanaan latihan militer skala besar yang saling berhadapan. Satu pihak dipimpin oleh China dengan melibatkan sekutu regionalnya, sementara pihak lainnya diinisiasi oleh Amerika Serikat bersama Jepang, Australia, dan Filipina. Latihan-latihan yang mencakup simulasi anti-access/area denial (A2/AD), pendaratan amfibi, dan pertahanan pulau ini bukan sekadar rutinitas belaka, melainkan manifestasi fisik dari kompetisi strategis yang mendalam. Klaim China bahwa aktivitas tersebut bersifat defensif di wilayah kedaulatannya bertabrakan dengan narasi AS dan sekutu yang menilainya sebagai upaya mengubah status quo dan membatasi kebebasan navigasi. Pertentangan narasi ini mencerminkan perbedaan mendasar dalam interpretasi hukum laut internasional dan visi tatanan kawasan.

Polarisasi Aktor dan Fragmentasi ASEAN

Konstelasi kekuatan di kawasan menunjukkan pola polarisasi yang semakin jelas dan berpotensi mengikis solidaritas ASEAN. Di satu kutub, China secara konsisten mengkonsolidasikan posisi militer dan klaim historisnya, dengan mendapatkan dukungan politik taktis dari anggota ASEAN seperti Kamboja dan Laos. Dukungan ini seringkali terlihat dalam proses pembahasan Code of Conduct (COC), di mana konsensus yang solid sulit tercapai. Di kutub berlawanan, negara-negara klaimant seperti Filipina dan Vietnam semakin intens mengembangkan kerja sama keamanan dengan kekuatan ekstra-regional, tidak hanya dengan Amerika Serikat, tetapi juga Jepang, Australia, dan bahkan Inggris. Fragmentasi internal ASEAN ini menjadikan organisasi tersebut berada dalam posisi dilematis: menjaga netralitas dan sentralitasnya sebagai penggerak diplomasi, sementara secara bersamaan menghadapi tarikan kuat dari rivalitas kekuatan besar. Ketidakmampuan mencapai COC yang efektif dan mengikat semakin melemahkan kredibilitas ASEAN sebagai arsitek utama stabilitas regional.

Implikasi Strategis dan Ancaman terhadap Keseimbangan Kekuatan

Eskalasi latihan militer dan posturing kekuatan di Laut China Selatan memiliki implikasi mendalam terhadap balance of power regional. Pertama, kawasan berisiko menjadi arena proxy competition, di mana ketegangan antara China dan AS diekspresikan melalui sekutu dan mitra mereka. Kedua, normalisasi aktivitas militer skala besar meningkatkan risiko insiden dan kesalahpahaman yang dapat memicu konflik terbuka, mengancam prinsip Zone of Peace, Freedom, and Neutrality (ZOPFAN). Ketiga, upaya China dalam membangun kemampuan A2/AD yang efektif bertujuan membatasi proyeksi kekuatan AS dan sekutunya, yang pada gilirannya dapat menggeser keseimbangan kekuatan secara gradual mendukung Beijing. Situasi ini menciptakan lingkungan keamanan yang tidak pasti, di mana negara-negara kecil terpaksa membuat pilihan strategis yang sulit antara menjalin aliansi atau menempuh jalan netralitas yang rapuh.

Bagi Indonesia, dinamika ini memiliki resonansi langsung dan mendesak. Ancaman paling nyata adalah terhadap kedaulatan dan yurisdiksi di sekitar Kepulauan Natuna yang tumpang tindih dengan klaim China dalam Sembilan Garis Putus. Latihan militer yang intensif meningkatkan probabilitas pelanggaran wilayah dan memperuncing ketegangan operasional. Lebih dari itu, stabilitas kawasan sebagai fondasi pertumbuhan ekonomi ASEAN dan poros maritim Indonesia terancam gangguan. Oleh karena itu, respons Indonesia harus multidimensi dan strategis: memperkuat kapasitas pengawasan dan penegakan hukum di Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia (ZEEI), memimpin diplomasi intra-Melalui diplomasi cerdik, Indonesia dapat mengupayakan rekat kesepakatan ASEAN meski di bawah tekanan rivalitas besar. -ASEAN untuk membangun konsensus yang lebih kohesif dalam menghadapi tekanan eksternal, serta secara bersamaan meningkatkan kemampuan pertahanan maritim secara kredibel. Yang terpenting, Indonesia perlu dengan cermat mengelola hubungan dengan semua pihak—China, AS, dan anggota ASEAN lainnya—tanpa terseret ke dalam logika konfrontasi blok yang justru akan mengurangi ruang manuver diplomatiknya.

Dalam perspektif jangka panjang, eskalasi saat ini di Laut China Selatan mengindikasikan bahwa rivalitas AS-China telah menemukan titik fokus geografis yang tetap. Latihan militer yang saling membalas akan menjadi fitur permanen lanskap keamanan kawasan, sekaligus menjadi barometer tingkat ketegangan. Tantangan bagi negara-negara ASEAN, termasuk Indonesia, adalah mengembangkan ketahanan strategis (strategic resilience)—kemampuan untuk menjaga kepentingan nasional, stabilitas domestik, dan pertumbuhan ekonomi di tengah gejolak kompetisi kekuatan besar. Ini memerlukan investasi berkelanjutan pada diplomasi, deterensi maritim, serta kerangka kerja sama keamanan inklusif yang mencegah dominasi satu pihak. Masa depan tatanan kawasan akan sangat ditentukan oleh apakah pihak-pihak yang bertikai dapat menemukan modus vivendi, atau justru terkunci dalam spiral keamanan (security dilemma) yang semakin dalam.