Perspektif Global & Regional

Ekspansi BRICS+ dan Mencairnya Hegemoni Barat: Peluang dan Tantangan bagi Tata Kelola Global dan Posisi Indonesia

02 Agustus 2026 Global 1 views

Ekspansi BRICS+ menandai fase konkret transisi menuju multipolaritas dengan menantang tata kelola global yang didominasi Barat, namun dihadapkan pada ujian kohesi internal akibat rivalitas antaranggota. Indonesia menghadapi dilema strategis antara bergabung untuk meningkatkan pengaruh dalam Selatan Global atau mempertahankan fleksibilitas diplomatik, dengan pilihannya akan menentukan kemampuan Jakarta dalam membentuk, bukan sekadar menyesuaikan diri, dengan arsitektur internasional baru.

Ekspansi BRICS+ dan Mencairnya Hegemoni Barat: Peluang dan Tantangan bagi Tata Kelola Global dan Posisi Indonesia

Ekspansi substansial BRICS, yang kini mengakomodasi kekuatan ekonomi dan geopolitik dari Timur Tengah, Asia, dan Afrika, merepresentasikan sebuah transformasi struktural dalam arsitektur hubungan internasional. Koalisi yang berkembang ini telah melampaui wacana ekonomi menjadi entitas dengan ambisi normatif untuk mereformasi tata kelola global. Dengan menguasai porsi signifikan populasi dunia, PDB global, dan cadangan energi strategis, blok BRICS+ memiliki bobot material untuk secara langsung menantang rezim institusional yang selama ini didominasi Barat, seperti IMF dan Bank Dunia. Perkembangan ini bukan fenomena insidental, melainkan manifestasi dari proses mendasar: pencairan bertahap hegemoni Barat pasca-Perang Dingin dan kebangkitan aspirasi kolektif Selatan Global untuk memperoleh agensi politik dan ekonomi yang lebih setara. Ini menandai fase baru dalam transisi menuju multipolaritas yang lebih nyata, di mana pusat-pusat kekuatan baru semakin vokal menuntut hak suara dan representasi.

Dinamika Internal dan Ujian Kohesi dalam BRICS+

Meskipun potensi kolektifnya besar, viabilitas BRICS+ sebagai blok geopolitik yang koheren dihadapkan pada ujian kohesi internal yang kompleks. Perbedaan kepentingan strategis mendasar antara anggota pendiri, terutama persaingan perbatasan dan pengaruh regional antara Tiongkok dan India, berpotensi menjadi penghambat utama dalam penyusunan kebijakan luar negeri yang terpadu. Dinamika ini semakin diperumit dengan masuknya anggota baru yang memiliki rivalitas bilateral historis dan mendalam, seperti Arab Saudi dan Iran. Tantangan krusial bagi koalisi ini adalah mengelola ketegangan internal tersebut sambil secara bersamaan membangun agenda bersama yang substantif—melampaui retorika anti-Barat. Tata kelola global alternatif memerlukan fondasi institusional yang kredibel. Oleh karena itu, kemampuan BRICS+ untuk mengonversi kapasitas material menjadi pengaruh normatif yang efektif sangat bergantung pada pembentukan institusi finansial alternatif dan mekanisme penyelesaian sengketa yang dapat dipercaya. Tanpa kemajuan konkret dalam ranah kelembagaan ini, BRICS+ berisiko tetap menjadi forum aspirasional tanpa daya ubah yang signifikan dalam pergeseran kekuatan global.

Dilema Geostrategis Indonesia dalam Arsitektur Global yang Berubah

Bagi Indonesia, evolusi BRICS+ menyajikan kalkulasi strategis yang pelik namun menentukan posisi jangka panjangnya. Sebagai kekuatan menengah terkemuka di Asia Tenggara, anggota G20, dan suara berpengaruh di Selatan Global, Indonesia memiliki legitimasi dan kepentingan substantif untuk terlibat aktif dalam pembentukan norma dan aturan tata kelola global baru. Opsi bergabung dengan koalisi yang mewakili sebagian besar dunia berkembang menawarkan potensi peningkatan pengaruh diplomatik di meja pengambilan keputusan yang sedang dibentuk. Namun, langkah strategis ini sarat dengan risiko geopolitik yang nyata. Bergabung dapat membawa Indonesia ke dalam pusaran rivalitas internal blok, khususnya persaingan Tiongkok-India, yang pada gilirannya dapat membatasi atau bahkan membajak prinsip politik luar negeri bebas-aktif Jakarta. Lebih jauh, keanggotaan dapat ditafsirkan sebagai pergeseran yang terlalu jelas ke satu kutub dalam tatanan multipolaritas yang masih cair, berpotensi merenggangkan hubungan strategis dengan mitra tradisional seperti Amerika Serikat, Jepang, dan Uni Eropa—mitra yang masih krusial bagi transfer teknologi, investasi, dan keamanan maritim Indonesia.

Di sisi lain, memilih untuk tetap menjadi pengamat kritis dan mitra eksternal mempertahankan fleksibilitas strategis yang menjadi ciri diplomasi Indonesia. Posisi ini memungkinkan Jakarta untuk terlibat secara selektif dalam inisiatif BRICS+ yang selaras dengan kepentingan nasionalnya—seperti pembiayaan pembangunan infrastruktur alternatif—tanpa harus terikat secara politis pada agenda kolektif yang mungkin kontradiktif. Namun, strategi menunggu dan melihat juga mengandung risiko tersendiri, yaitu keterpinggiran secara progresif dari proses pembentukan aturan main baru. Dalam jangka panjang, ketiadaan suara di dalam forum dapat membatasi kemampuan Indonesia untuk membentuk norma yang menguntungkan posisinya sebagai negara kepulauan dan ekonomi berkembang. Refleksi akhir mengarah pada kebutuhan Indonesia untuk merumuskan pendekatan yang tidak biner. Diplomasi yang lincah, mampu menjembatani berbagai blok, dan fokus pada penguatan kapasitas institusional serta ekonomi domestik mungkin adalah jalan tengah terbaik. Pilihan strategis Jakarta akan menjadi penanda seberapa jauh negara ini bersedia untuk secara aktif membentuk, daripada sekadar bereaksi terhadap, arus besar multipolaritas dan pencairan hegemoni yang mendefinisikan era geopolitik kontemporer.

Entitas yang disebut

Organisasi: BRICS, IMF, Bank Dunia, G20

Lokasi: Indonesia, Timur Tengah, Asia, Afrika, Tiongkok, India, Arab Saudi, Iran, Selatan Global