Perspektif Global & Regional

Dinamika Peran ASEAN di Tengah Ketegangan Amerika-China: Mampukah 'Centrality' Bertahan?

16 Juni 2026 ASEAN, Indo-Pasifik 13 views

Ketegangan strategis Amerika Serikat-China menguji ketangguhan 'ASEAN Centrality' dengan menciptakan arsitektur keamanan paralel yang berpotensi meminggirkan peran organisasi kawasan. Kohesi internal ASEAN yang terancam oleh perbedaan pandangan dan kepemimpinan proaktif Indonesia melalui mekanisme seperti AOIP menjadi kunci mempertahankan relevansi. Kegagalan ASEAN bertindak kolektif dan menawarkan nilai tambah konkrit berisiko memfragmentasi kawasan ke dalam 'sphere of influence' kekuatan besar, mengancam kedaulatan dan kepentingan strategis negara-negara anggota seperti Indonesia.

Dinamika Peran ASEAN di Tengah Ketegangan Amerika-China: Mampukah 'Centrality' Bertahan?

Konsep 'ASEAN Centrality' telah lama menjadi pilar utama tata kelola keamanan dan kerjasama di kawasan Indo-Pasifik, berfungsi sebagai prinsip pemandu yang menempatkan ASEAN sebagai kekuatan pemersatu dan penjaga stabilitas utama. Namun, fondasi konsep ini kini menghadapi tekanan eksistensial dari persaingan strategis antara Amerika Serikat dan Republik Rakyat China yang semakin intens dan bersifat zero-sum. Dinamika ini bukan hanya sekadar perebutan pengaruh ekonomi, melainkan sebuah kompetisi menyeluruh yang mencakup dimensi keamanan, teknologi, dan tata nilai, sehingga secara langsung menguji ketangguhan dan relevansi peran sentral ASEAN.

Fragmentasi Kawasan dan Tantangan Kohesi Internal

Amerika Serikat dan China secara aktif mengembangkan arsitektur keamanan dan kerjasama yang bersifat eksklusif, berpotensi meminggirkan institusi kawasan yang dipimpin ASEAN. Inisiatif seperti QUAD (Quadrilateral Security Dialogue) dan pakta pertahanan AUKUS yang digalang AS, serta berbagai forum ekonomi dan keamanan yang diinisiasi China, mencerminkan upaya kedua negara untuk membentuk 'sphere of influence' masing-masing. Aliansi-aliansi ini, meski tidak secara eksplisit dimaksudkan untuk menggantikan ASEAN, pada praktiknya menciptakan jalur diplomasi dan keamanan paralel yang dapat mengikis otoritas dan 'centrality' organisasi tersebut. Di sisi lain, kohesi internal ASEAN sendiri terancam oleh perbedaan pandangan mendasar di antara negara-negara anggotanya menyangkut isu sensitif seperti sengketa kedaulatan di Laut China Selatan dan respons kolektif terhadap krisis di Myanmar. Fragmentasi pandangan ini melemahkan kapasitas ASEAN untuk berbicara dengan satu suara, yang merupakan syarat mutlak bagi efektivitas diplomasi kawasannya.

Posisi Strategis dan Diplomasi Proaktif Indonesia

Sebagai salah satu pendiri dan kekuatan pendorong utama ASEAN, Indonesia menghadapi tantangan sekaligus peluang besar dalam mempertahankan relevansi organisasi ini di tengah turbulensi geopolitik. Kepentingan strategis Indonesia sangat jelas: sebagai negara kepulauan terbesar dan ekonomi utama di kawasan, stabilitas dan keseimbangan kekuatan di Indo-Pasifik adalah prasyarat bagi pembangunan nasional dan kedaulatan negara. Oleh karena itu, Indonesia secara konsisten mendorong mekanisme yang inklusif dan berbasis pada konsensus, dengan ASEAN Outlook on the Indo-Pacific (AOIP) sebagai instrumen kunci. AOIP dirancang untuk menawarkan nilai tambah konkrit melalui kerangka kerjasama yang terbuka, transparan, dan inklusif, menekankan penyelesaian sengketa secara damai dan kerjasama di bidang nontradisional seperti keamanan maritim, ekonomi digital, dan pembangunan berkelanjutan. Peran Indonesia sebagai 'honest broker' dan tuan rumah bagi berbagai dialog tingkat tinggi yang melibatkan semua pihak mencerminkan upaya diplomatik yang proaktif untuk menjaga ASEAN tetap berada di pusat percaturan geopolitik kawasan.

Analisis geopolitik menunjukkan bahwa masa depan 'ASEAN Centrality' tidak terletak pada retorika belaka, melainkan pada kemampuan kolektif negara-negara anggotanya, dengan kepemimpinan Indonesia, untuk menawarkan solusi nyata atas tantangan regional. Nilai strategis ASEAN akan bertahan hanya jika organisasi ini dapat menunjukkan kapasitasnya dalam mengelola ketegangan antara kekuatan besar, memfasilitasi dialog yang produktif, dan menghasilkan kerjasama yang memberikan manfaat nyata bagi seluruh pemangku kepentingan. Kegagalan dalam menjaga netralitas yang proaktif dan bertindak secara kolektif berisiko tinggi membawa konsekuensi jangka panjang yang serius bagi kawasan, yaitu fragmentasi permanen ke dalam blok-blok pengaruh yang dikendalikan kekuatan besar. Skenario seperti itu akan sangat merugikan negara-negara kecil dan menengah seperti Indonesia, karena akan membatasi ruang gerak kedaulatan mereka, memicu instabilitas keamanan, dan pada akhirnya mengikis kemakmuran ekonomi yang dibangun selama puluhan tahun. Oleh karena itu, ujian terhadap 'ASEAN Centrality' hari ini adalah sekaligus ujian terhadap visi dan kapasitas strategis Indonesia serta mitra-mitranya di ASEAN dalam membentuk masa depan kawasan yang lebih mandiri dan stabil.