Perspektif Global & Regional

Bangkitnya Global South: Peran G20 dan Negosiasi Iklim dalam Arsitektur Governance yang Baru

15 Juli 2026 Global 27 views

Kebangkitan kolektif Global South menandai rekonfigurasi fundamental dalam tata kelola global, dengan G20 sebagai arena utama di mana pengaruh mereka diuji dan agenda reformasi struktural didorong. Bagi Indonesia, momentum ini menawarkan peluang strategis untuk meningkatkan soft power dan membentuk aturan global, khususnya dalam negosiasi iklim dan pembiayaan, sekaligus menghadapi dilema kompleks menjaga keseimbangan di tengah fragmentasi internal dan persaingan kekuatan besar.

Bangkitnya Global South: Peran G20 dan Negosiasi Iklim dalam Arsitektur Governance yang Baru

Pasca-pandemi dan dalam bayang-bayang konflik di Ukraina, arsitektur global governance internasional tengah mengalami rekonfigurasi mendasar yang ditandai dengan kebangkitan kolektif negara-negara Global South. Bangkitnya aktor-aktor seperti Indonesia, India, Brasil, dan Afrika Selatan tidak lagi sekadar mencerminkan ketidakpuasan, tetapi sebuah reposisi geopolitik yang menuntut restrukturasi sistem tata kelola global yang dianggap timpang secara struktural. Ketidakadilan dalam sistem keuangan, respons kesehatan, dan terutama negosiasi iklim global menjadi katalis pergerakan ini, sekaligus manifestasi nyata dari pergeseran balance of power yang mengikis dominasi tradisional Global North. Dorongan ini diperkuat oleh modal demografis, momentum ekonomi, dan keinginan strategis untuk membentuk poros kekuatan alternatif di luar dinamika duopoli Amerika Serikat-Tiongkok, sehingga membentuk lanskap kekuatan baru yang lebih multipolar dan kompleks.

G20: Arena Rekonfigurasi dan Pengujian Pengaruh Global South

Dalam konteks rekonfigurasi ini, forum G20 telah berevolusi menjadi medan perjuangan geopolitik yang krusial sekaligus arena pengujian kohesi dan pengaruh kolektif Global South. Di dalamnya, negara-negara berkembang berhasil mengkonsolidasikan agenda bersama yang berfokus pada reformasi mendasar institusi keuangan multilateral—seperti IMF dan Bank Dunia—serta mendorong komitmen pembiayaan iklim yang lebih konkret, adil, dan dapat diakses. Peran Indonesia selama Presidensi G20 2022 bersifat katalitik dan strategis, memanfaatkan posisi uniknya sebagai ekonomi terbesar di Asia Tenggara, anggota sentral ASEAN, dan negara demokrasi dengan populasi Muslim terbesar untuk bertindak sebagai bridge-builder. Posisi jembatan ini memungkinkan Jakarta tidak hanya menjembatani kepentingan yang sering berseberangan antara Global North dan Global South, tetapi juga secara efektif mengangkat isu strategis nasional dan kawasan, seperti transisi energi berkeadilan, ke dalam pusat negosiasi iklim dan agenda tata kelola dunia.

Dinamika Fragmentasi-Konsolidasi dan Implikasi bagi Keseimbangan Kekuatan

Dinamika yang terbentuk dalam konstelasi baru ini bersifat paradoksal, yaitu terjadi proses fragmentasi sekaligus konsolidasi. Penting untuk dianalisis bahwa Global South bukanlah blok monolitik; variasi kepentingan nasional, tingkat perkembangan ekonomi, dan orientasi geopolitik antaranggota—seperti antara Indonesia dan India—tetap signifikan dan dapat menjadi sumber ketegangan internal. Namun, kesamaan persepsi mendasar mengenai ketidakadilan sistemik dalam struktur global governance yang ada telah menciptakan sebuah platform kerja sama pragmatis dan bersifat situasional. Kekuatan kolektif mereka, yang terekspresikan melalui suara mayoritas di forum-forum seperti G20 dan COP, memaksa aktor-aktor tradisional untuk mengadopsi pendekatan yang lebih inklusif dan responsif dalam proses pengambilan keputusan global. Fenomena ini merepresentasikan koreksi substantif terhadap balance of power yang selama beberapa dekade didominasi oleh negara-negara Barat, sekaligus mengakselerasi transisi menuju multipolaritas yang lebih terkotak-kotak (multipolar fragmentation), di mana aliansi bersifat cair dan berbasis isu.

Implikasi geopolitik dari kebangkitan Global South menawarkan peluang strategis sekaligus dilema kompleks yang mendalam bagi Indonesia. Peluang utama terletak pada peningkatan soft power dan kapasitas agency untuk membentuk rule-making global, khususnya dalam isu pembiayaan pembangunan, transfer teknologi, dan tata kelola iklim, yang lebih selaras dengan kepentingan nasional. Kepemimpinan dalam negosiasi iklim, misalnya, dapat dikonversi secara langsung menjadi akses terhadap pembiayaan hijau untuk transisi energi dan konservasi biodiversitas yang kaya di Nusantara. Namun, tantangan jangka panjangnya adalah potensi keterjepit dalam persaingan strategis antara kekuatan besar dan tekanan untuk selalu menjaga keseimbangan diplomasi yang rumit. Selain itu, fragmentasi dalam tubuh Global South sendiri dapat melemahkan daya tawar kolektif jika kepentingan nasional yang sempit mengalahkan agenda bersama. Bagi stabilitas kawasan Asia Tenggara, peran Indonesia yang semakin sentral dalam tata kelola global dapat memperkuat posisi ASEAN secara kolektif, tetapi juga menuntut kapasitas dan visi yang lebih besar dari Jakarta untuk mengelola ekspektasi dan mengonsolidasikan suara kawasan di panggung dunia.

Kebangkitan Global South melalui forum seperti G20 bukan sekadar fase siklus politik internasional, melainkan gejala struktural dari redistribusi kekuatan dalam sistem dunia. Proses ini akan terus mendefinisikan ulang arsitektur global governance, menciptakan medan pertarungan normatif dan kebijakan yang baru. Bagi Indonesia, momentum ini harus dilihat sebagai peluang untuk memperkuat fondasi kedaulatan dan ketahanan nasional melalui diplomasi yang cerdas dan berbasis kepentingan. Kesuksesan tidak hanya diukur dari kemampuan mengartikulasikan ketidakpuasan, tetapi dari kapasitas mengonversi pengaruh kolektif menjadi tata kelola global yang lebih inklusif, adil, dan mampu menjawab tantangan bersama seperti krisis iklim, di mana peran dalam negosiasi iklim akan menjadi tolok ukur nyata dari efektivitas kepemimpinan baru dunia yang sedang terbentuk.

Entitas yang disebut

Organisasi: G20, ASEAN

Lokasi: Indonesia, India, Brasil, Afrika Selatan, Ukraina, ASEAN