Kebijakan Pertahanan

AUKUS Tahap Kedua: Ekspansi Keanggotaan dan Dampaknya Terhadap Stabilitas Keamanan Indo-Pasifik

26 Juli 2026 Indo-Pasifik, Australia, Inggris, Amerika Serikat, Jepang, Korea Selatan 12 views

Ekspansi AUKUS ke fase kedua dengan mengundang Jepang dan Korea Selatan mengubah pakta ini menjadi poros teknologi-militer yang solid, berpotensi memicu polarisasi dan perlombaan senjata di Indo-Pasifik. Perkembangan ini menantang prinsip sentralitas ASEAN dan ZOPFAN, mendorong Indonesia untuk memperkuat kapasitas pertahanan mandiri sekaligus diplomasi agar tidak terseret dalam konfigurasi blok. Masa depan stabilitas kawasan bergantung pada kemampuan negara-negara tengah seperti Indonesia dalam mengadvokasi tatanan keamanan inklusif di tengah persaingan kekuatan besar yang semakin tajam.

AUKUS Tahap Kedua: Ekspansi Keanggotaan dan Dampaknya Terhadap Stabilitas Keamanan Indo-Pasifik

Perkembangan pakta keamanan AUKUS menandai titik balik signifikan dalam arsitektur keamanan Indo-Pasifik. Transisi dari Pillar I yang berfokus pada transfer teknologi kapal selam nuklir ke Australia menuju fase kedua (Pillar II) yang terbuka bagi anggota baru, secara fundamental mengubah karakter aliansi ini dari kesepakatan bilateral-plus menjadi sebuah poros teknologi dan militer yang lebih luas. Pembukaan pintu bagi Jepang dan Korea Selatan sebagai kandidat utama tidak sekadar menambah jumlah negara, melainkan mengkonsolidasikan blok kekuatan maritim dan teknologi maju yang secara eksplisit berorientasi pada penyeimbangan pengaruh Tiongkok. Dinamika aktor ini merefleksikan kegagalan pendekatan engagement konvensional dan menguatnya persepsi ancaman yang mendorong pembentukan aliansi trilateral dan minilateral yang lebih erat, berpotensi menggeser tatanan kawasan dari model ASEAN-centric menuju konfigurasi kekuatan yang terpolarisasi.

Konsolidasi Blok Teknologi dan Pergeseran Keseimbangan Kekuatan

Pillar II AUKUS, yang berfokus pada kerja sama teknologi hipersonik, perang siber, kecerdasan buatan (AI), dan kemampuan bawah laut, menempatkan pakta ini pada inti persaingan teknologi strategis abad ke-21. Inklusi Jepang dan Korea Selatan—dua kekuatan teknologi tinggi dengan basis industri pertahanan yang matang—akan menciptakan sebuah konsorsium teknologi pertahanan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Transfer teknologi yang intensif di dalam blok ini tidak hanya akan mempercepat modernisasi militer anggotanya, tetapi juga menciptakan standar operasi dan interoperabilitas yang eksklusif, sehingga semakin memperlebar kesenjangan teknologi dengan negara-negara di luar lingkupnya. Dari perspektif keamanan Indo-Pasifik, hal ini secara drastis mengubah balance of power, mengubah Laut China Selatan dan perairan sekitarnya dari arena diplomasi ASEAN menjadi zona persaingan langsung antara blok demokratis yang dipimpin AS dan Tiongkok. Respon balik dari Beijing, yang kemungkinan akan berupa pendalaman kerja sama militer dengan Rusia dan Korea Utara serta akselerasi program modernisasi militernya sendiri, berpotensi memicu spiral keamanan (security dilemma) yang sulit dikendalikan.

Dilema Sentralitas ASEAN dan Tantangan bagi Indonesia

Ekspansi AUKUS menghadirkan dilema eksistensial bagi ASEAN dan prinsip sentralitasnya. Pembentukan blok minilateral yang eksklusif dan berkapabilitas tinggi secara faktual menggerogoti peran ASEAN sebagai pengarah utama (primary driver) arsitektur keamanan kawasan. Prinsip ZOPFAN (Zone of Peace, Freedom, and Neutrality) menjadi semakin sulit dipertahankan di tengah kawasan yang terbagi secara geopolitik. Bagi Indonesia, sebagai kekuatan maritim terbesar dan de facto leader di ASEAN, perkembangan ini merupakan tantangan strategis multidimensi. Di satu sisi, Indonesia memiliki kepentingan vital dalam menjaga kedaulatan dan stabilitas di Natuna serta ALKI, yang dapat terpengaruh oleh eskalasi militer antara blok-blok besar. Di sisi lain, Jakarta harus menjaga netralitas strategisnya dan mencegah polarisasi ekstrem yang dapat memecah belah kesatuan ASEAN. Implikasi langsungnya adalah meningkatnya tekanan bagi Indonesia untuk tidak hanya memperkuat kapasitas diplomasinya, tetapi juga secara signifikan meningkatkan kemampuan deterrence mandiri, khususnya di domain maritim, udara, dan bawah laut.

Dalam jangka menengah, ekspansi AUKUS akan menjadi katalisator utama bagi percepatan modernisasi Alutsista TNI, khususnya armada kapal selam, kapal permukaan, dan sistem pengawasan maritim. Logika keamanan akan mendorong Jakarta untuk mencari mitra transfer teknologi dan pengadaan alat utama yang dapat meningkatkan kapabilitas tanpa secara politis mengikatkan diri pada satu blok tertentu. Namun, kompleksitas ini juga membuka peluang diplomatik. Indonesia dapat memposisikan diri sebagai penengah yang konstruktif, menawarkan platform dialog seperti Extended ASEAN Defence Ministers’ Meeting (ADMM-Plus) untuk membahas transparansi dan pencegahan insiden terkait teknologi baru seperti hipersonik dan AI. Kemampuan Jakarta dalam menavigasi dinamika ini akan menguji ketangguhan free and active foreign policy dan menentukan apakah ASEAN dapat tetap mempertahankan relevansinya sebagai kekuatan pemersatu, atau justru terseret menjadi arena proxy dari persaingan kekuatan besar.

Refleksi akhir menunjuk pada sebuah paradoks dalam tata kelola keamanan global: upaya untuk menciptakan stabilitas melalui pembentukan aliansi yang kuat justru seringkali menghasilkan ketidakstabilan yang lebih luas melalui mekanisme balancing dan counter-balancing. Ekspansi AUKUS dengan melibatkan Jepang dan Korea Selatan mungkin dilihat sebagai langkah rasional oleh anggotanya untuk mengonsolidasi deterrence, namun bagi sebagian besar negara Indo-Pasifik, khususnya di Asia Tenggara, hal ini menandai terkikisnya tatanan berbasis konsensus dan menguatnya logika konfrontasi blok. Masa depan stabilitas kawasan akan sangat bergantung pada apakah kekuatan tengah seperti Indonesia dapat mengartikulasikan dan memperjuangkan visi keamanan inklusif yang mengakomodasi kepentingan legitim semua pihak, sekaligus mengembangkan kapasitas mandiri yang cukup untuk menjamin kedaulatannya di tengah gelombang persaingan strategis yang semakin tinggi.