Kebijakan Pertahanan

AUKUS Perluas Kerja Sama Nuklir: Australia, Inggris, AS dan Dampak ke Indo-Pasifik

05 September 2026 Australia, Indo-Pasifik 20 views

AUKUS mengumumkan fase kedua kerja sama nuklir dengan pengiriman kapal selam bertenaga nuklir ke Australia, memicu protes Tiongkok dan keprihatinan Indonesia terhadap perlombaan senjata. Indonesia menekankan non-proliferasi dan dialog, serta berupaya menjaga netralitas dengan memperkuat diplomasi pertahanan bersama negara non-blok seperti India dan Jepang. Implikasi jangka panjangnya adalah meningkatnya ketegangan AUKUS-Tiongkok yang berpotensi memicu konflik di Laut China Selatan.

AUKUS Perluas Kerja Sama Nuklir: Australia, Inggris, AS dan Dampak ke Indo-Pasifik

Aliansi trilateral AUKUS kembali menegaskan ambisinya dalam peta kekuatan Indo-Pasifik dengan mengumumkan fase kedua kerja sama pertahanan, yang mencakup pengiriman kapal selam bertenaga nuklir ke Australia pada dekade 2030-an serta transfer teknologi propulsi nuklir. Langkah ini bukan sekadar penguatan kapabilitas militer semata, melainkan sinyal strategis yang merefleksikan pergeseran keseimbangan kekuatan (balance of power) di kawasan. Dalam konteks global yang ditandai ketegangan antara kekuatan mapan dan kekuatan baru, AUKUS menjadi instrumen penting bagi Amerika Serikat dan Inggris untuk memperluas proyeksi kekuatan ke Pasifik, sementara Australia berupaya menaikkan kapasitas deterensinya di tengah meningkatnya asertivitas Tiongkok.

Dinamika aktor dalam kerja sama AUKUS menunjukkan adanya pembagian peran yang jelas. AS dan Inggris melihat Australia sebagai titik pijakan strategis yang memungkinkan kehadiran militer yang lebih permanen di kawasan, sementara Australia memanfaatkan aliansi ini untuk memodernisasi armada bawah lautnya dengan teknologi yang sebelumnya hanya dikuasai sedikit negara. Respons langsung datang dari Tiongkok yang menilai langkah tersebut sebagai ancaman terhadap stabilitas regional. Namun, yang lebih menarik adalah sikap Indonesia yang melalui Kementerian Luar Negeri menyatakan keprihatinan terhadap potensi perlombaan senjata nuklir di kawasan. Menteri Pertahanan Prabowo Subianto pun menekankan pentingnya non-proliferasi dan dialog sebagai instrumen utama menjaga keamanan bersama.

Dinamika Aktor dan Implikasinya terhadap Stabilitas Indo-Pasifik

Jika dicermati secara geopolitik, AUKUS bukanlah aliansi pertahanan konvensional biasa. Ia hadir di tengah kontestasi norma dan kepentingan antara blok yang dipimpin AS dan Tiongkok yang semakin tajam. Bagi Australia, perolehan kapal selam nuklir menjadi lompatan kuantum dalam kekuatan naval, tetapi sekaligus menempatkan negara itu pada posisi yang lebih rentan terhadap tekanan Tiongkok. Sementara itu, bagi AS dan Inggris, AUKUS adalah mekanisme untuk mengikat Australia lebih erat ke dalam struktur keamanan Barat, sekaligus merespons perluasan pengaruh Beijing di kawasan. Kombinasi ini memicu eskalasi potensi konflik, terutama di Laut China Selatan yang menjadi arena utama gesekan antara Pasukan Tiongkok dan mitra-mitra AS.

Ketegangan yang meningkat tersebut tidak pelak menempatkan Indonesia dalam posisi yang sulit. Secara geografis, Indonesia berada di garis depan Indo-Pasifik dan menjadi perlintasan utama jalur laut internasional. Keprihatinan Indonesia terhadap perlombaan senjata nuklir bukanlah retorika belaka, melainkan refleksi atas ketidakseimbangan baru yang dapat memaksa negara-negara berdaulat untuk memilih kubu. Dalam kerangka politik luar negeri yang bebas-aktif, Indonesia perlu menjaga jarak dari persaingan blok, tetapi juga tidak bisa mengabaikan kenyataan bahwa perubahan keseimbangan kekuatan akan berdampak langsung pada stabilitas dan keamanan nasionalnya.

Indonesia di Tengah Pusaran AUKUS: Antara Non-Proliferasi dan Netralitas

Bagi Indonesia, ekspansi kerja sama nuklir AUKUS menuntut strategi diplomasi pertahanan yang lebih cermat. Salah satu langkah yang dapat diambil adalah memperkuat hubungan dengan negara-negara non-blok seperti India dan Jepang, tanpa harus keluar dari pola netralitas yang selama ini dijaga. India dengan kapasitas militer dan posisinya sebagai kekuatan samudra Hindia menjadi mitra penting dalam menyeimbangkan pengaruh AUKUS dan Tiongkok secara bersamaan. Jepang, meskipun berafiliasi dengan AS, dapat menjadi pintu dialog konstruktif untuk menjaga stabilitas tata kelola kawasan. Penguatan diplomasi semacam itu tidak berarti menentang AUKUS, tetapi untuk memastikan Indonesia tetap memiliki ruang manuver strategis di tengah meningkatnya polarisasi.

Dalam jangka menengah dan panjang, implikasi AUKUS akan bergantung pada bagaimana aktor-aktor di kawasan meresponsnya. Jika ketegangan antara AUKUS dan Tiongkok terus meningkat, risiko terjadinya insiden di Laut China Selatan akan semakin besar, dan Indonesia berpotensi menjadi salah satu korban langsung dari konflik terbuka tersebut. Oleh karena itu, sikap Indonesia yang menekankan non-proliferasi dan dialog adalah pendirian yang tepat, bukan sebagai bentuk lemah, melainkan sebagai upaya rasional meredam eskalasi. Pada akhirnya, kestabilan Indo-Pasifik tidak ditentukan oleh superioritas satu blok, tetapi oleh keberadaan mekanisme pembatasan dan komunikasi yang efektif di antara kekuatan besar. Indonesia, dengan posisi geostrategisnya, memiliki peluang untuk menjadi fasilitator yang kredibel—jika mampu menjaga konsistensi prinsip dan memanfaatkan diplomasi multiarah secara optimal.

Entitas yang disebut

Orang: Prabowo Subianto

Organisasi: AUKUS, Kementerian Luar Negeri

Lokasi: Australia, Inggris, AS, Indo-Pasifik, China, Indonesia, Pasifik, India, Jepang, Laut China Selatan