Pada Juli 2026, Australia dan Inggris melaksanakan uji bersama kapal selam bertenaga nuklir di Samudra Pasifik selatan, sebuah langkah yang memperdalam implementasi pakta AUKUS. Uji coba ini berlangsung setelah Amerika Serikat menyelesaikan transfer teknologi propulsi nuklir kepada Australia, menandai babak baru dalam kerja sama pertahanan di kawasan Indo-Pasifik. Meskipun digambarkan sebagai upaya memperkuat kapabilitas sekutu, langkah ini langsung memicu reaksi dari China yang menuduh AUKUS mengintensifkan persaingan militer di kawasan. Peristiwa ini tidak hanya berdimensi teknis-militer, tetapi juga mencerminkan pergeseran besar dalam arsitektur keamanan regional dan global.
AUKUS dan Pergeseran Keseimbangan Kekuatan di Indo-Pasifik
Kehadiran kapal selam nuklir Australia yang diuji bersama Inggris merupakan instrumen strategis yang secara langsung mengubah kalkulasi keseimbangan kekuatan di Indo-Pasifik. Dalam kerangka AUKUS, Australia memperoleh akses pada teknologi propulsi nuklir yang selama ini menjadi monopoli negara-negara pemegang senjata nuklir. Hal ini memperluas jangkauan operasi angkatan laut Australia dan secara simbolis menegaskan posisinya sebagai aktor keamanan utama di Pasifik selatan. Bagi China, langkah ini dipandang sebagai upaya pengepungan dan provokasi sistematis oleh aliansi Barat. Tuduhan Beijing bahwa AUKUS mempercepat persaingan militer memiliki dasar rasional: dalam sistem internasional yang anarkis, peningkatan kapabilitas ofensif salah satu pihak akan memicu perlombaan senjata dan memperdalam ketidakpercayaan antarnegara.
Dinamika ini menempatkan kawasan Indo-Pasifik pada risiko tinggi salah perhitungan (miscalculation). Uji kapal selam nuklir di perairan yang dekat dengan jalur laut vital dan area patroli China menunjukkan bahwa AUKUS bukan sekadar perjanjian pertahanan, melainkan alat untuk membentuk ulang tatanan keamanan kawasan. Dalam konteks ini, konsep keamanan kooperatif yang selama ini dijunjung negara-negara Asia Tenggara menjadi semakin tertekan oleh logika persaingan antara kekuatan besar.
Dilema Indonesia: Antara Stabilitas dan Proliferasi
Indonesia berdiri di persimpangan strategis ketika menyaksikan uji kapal selam nuklir di Pasifik selatan. Di satu sisi, kehadiran Australia sebagai mitra keamanan yang kuat dapat memperkuat stabilitas kawasan dengan menyeimbangkan pengaruh China yang semakin ekspansif. Namun, di sisi lain, langkah tersebut meningkatkan risiko proliferasi nuklir dan memicu perlombaan senjata regional, sebuah perkembangan yang bertentangan dengan kepentingan Indonesia dalam menjaga kawasan yang stabil dan tidak dilanda perlombaan senjata. Dilema ini tidak hanya bersifat teknis, tetapi juga politis, karena Indonesia harus mempertahankan otonomi kebijakan luar negerinya di tengah tekanan untuk memilih salah satu blok.
Respons Indonesia selama ini menekankan pentingnya norma kawasan dan pembangunan kepercayaan. Melalui ASEAN, Indonesia terus mendorong agar dinamika Indo-Pasifik dibingkai dalam kerja sama yang inklusif, bukan persaingan eksklusif antar kekuatan besar. Dalam jangka pendek, AUKUS berpotensi menghambat tercapainya konsensus Indo-Pasifik yang inklusif, karena memperkuat polarisasi dan menciptakan garis pemisah baru dalam hubungan internasional. Sementara itu, dalam jangka panjang, Indonesia dan negara-negara kawasan memerlukan rezim transparansi keamanan yang lebih kuat untuk mengurangi risiko salah perhitungan dan mencegah eskalasi konflik.
Pada akhirnya, uji kapal selam nuklir oleh Australia dan Inggris di Pasifik selatan adalah cermin dari tantangan terbesar arsitektur keamanan Indo-Pasifik: bagaimana membangun stabilitas tanpa mengorbankan inklusivitas. Bagi Indonesia, agenda utamanya bukan memilih antara Amerika Serikat dan China, melainkan memastikan bahwa setiap langkah strategis di kawasan tidak mengarah pada fragmentasi yang merugikan semua pihak. Dengan posisi geografis dan peran diplomatiknya, Indonesia memiliki ruang manuver untuk mendorong dialog dan transparansi, sekaligus menjaga agar kepentingan nasionalnya tidak dikorbankan oleh rivalitas global.