Perspektif Global & Regional

ASEAN di Tengah Persaingan AS-China: Ketegangan Laut China Selatan dan Ujian Konsensus

08 Juni 2026 Asia Tenggara, Laut China Selatan 15 views

Persaingan AS-China di Laut China Selatan menguji konsensus dan sentralitas ASEAN, dengan risiko eskalasi militer dan erosi pengaruh kolektif. Ketidakmampuan ASEAN menghasilkan mekanisme penyelesaian sengketa yang efektif dapat mendorong anggotanya mencari jaminan keamanan eksternal, mengancam stabilitas kawasan. Posisi Indonesia sebagai penjaga keutuhan ASEAN dan kekuatan tengah menjadi krusial dalam memimpin upaya diplomasi yang berimbang dan substantif.

ASEAN di Tengah Persaingan AS-China: Ketegangan Laut China Selatan dan Ujian Konsensus

Dinamika geopolitik di Laut China Selatan terus mengkristal sebagai manifestasi paling nyata dari persaingan strategis antara Amerika Serikat dan Republik Rakyat China pada abad ke-21. Kawasan ini, yang menyimpan kepentingan ekonomi vital berupa jalur pelayaran global dan sumber daya energi, telah bertransformasi menjadi teater kontestasi kekuatan yang menentukan struktur kawasan Indo-Pasifik. Dalam konteks ini, Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara (ASEAN) menemui ujian paling berat terhadap relevansi dan kohesinya. Dilema antara menjaga consensus-based diplomacy dan merespons secara efektif klaim-klaim unilateral, khususnya dari China, telah menempatkan organisasi regional ini pada posisi yang semakin sulit dipertahankan.

Lanskap Strategis dan Dinamika Kontestasi Dua Kekuatan Besar

China secara konsisten menerapkan strategi asertif untuk menegaskan klaim nine-dash line-nya melalui peningkatan aktivitas militer, pembangunan fasilitas militer di gugusan karang, dan patroli maritim yang kerap dinilai agresif oleh negara-negara pantai seperti Filipina dan Vietnam. Pendekatan ini tidak hanya bertujuan mengonsolidasikan kontrol de facto, tetapi juga menguji ketahanan hukum internasional, khususnya putusan Permanent Court of Arbitration tahun 2016. Di sisi lain, Amerika Serikat, melalui doktrin Indo-Pasifik dan komitmen pada Free and Open Indo-Pacific (FOIP), menjadikan penegakan kebebasan navigasi dan penerbangan sebagai inti dari postur strategisnya. Pelaksanaan Freedom of Navigation Operations (FONOPs) oleh Angkatan Laut AS, serta pendalaman kerja sama pertahanan bilateral dengan sekutu seperti Filipina, Australia, dan Jepang, merupakan respons terhadap ekspansi pengaruh China yang dianggap mengganggu balance of power dan tatanan berbasis aturan.

Ujian Kohesi dan Sentralitas ASEAN di Tengah Tekanan

Tekanan dari persaingan AS-China ini secara langsung menguji konsensus dan sentralitas ASEAN. Kelompok ini dihadapkan pada paradoks mendasar: kebutuhan untuk berbicara satu suara demi efektivitas diplomasi kolektif, berhadapan dengan kepentingan nasional yang beragam dan bahkan bertolak belakang di antara negara anggotanya. Upaya panjang untuk menyusun Code of Conduct (COC) di Laut China Selatan mandek, sebagian besar karena perbedaan prioritas dan tingkat ketergantungan ekonomi terhadap China di antara anggota ASEAN. Ketidakmampuan menghasilkan mekanisme penyelesaian sengketa yang mengikat dan efektif bukan hanya mengikis kredibilitas ASEAN, tetapi juga berpotensi memicu security dilemma di kawasan, dimana negara-negara merasa terpaksa meningkatkan kapabilitas militer secara unilateral.

Implikasi terhadap stabilitas kawasan bersifat multidimensi. Dalam jangka pendek hingga menengah, ketegangan dapat memicu insiden militer yang tidak diinginkan, meningkatkan risiko eskalasi, dan memaksa negara-negara ASEAN untuk membuat pilihan strategis yang semakin dikotomis. Dalam jangka panjang, jika ASEAN gagal menunjukkan kepemimpinan kolektif yang tegas, relevansi sentralitasnya—yakni prinsip bahwa arsitektur keamanan kawasan harus dipimpin oleh ASEAN—akan tergerus. Hal ini berpotensi mendorong negara-negara anggota untuk mencari jaminan keamanan di luar kerangka ASEAN, baik melalui aliansi bilateral yang diperdalam dengan AS atau kekuatan lain, maupun dengan mendukung terbentuknya arsitektur keamanan baru yang mungkin didominasi oleh kekuatan besar eksternal.

Posisi Indonesia dalam dinamika ini bersifat krusial dan paradigmatik. Sebagai de facto kekuatan pemimpin dan penjaga keutuhan ASEAN, Indonesia dituntut untuk menampilkan diplomasi kreatif dan berimbang. Jakarta harus mempertahankan prinsip netralitas aktif dan kedaulatan—termasuk atas Zona Ekonomi Eksklusif di sekitar Kepulauan Natuna—sambil mendorong proses COC yang substansial. Di saat yang sama, Indonesia harus mengelola hubungan ekonomi-politiknya yang kompleks dengan kedua kutub kekuatan: China sebagai mitra dagang utama dan AS sebagai mitra strategis dan keamanan tradisional. Keberhasilan Indonesia memimpin ASEAN keluar dari kebuntuan ini akan menentukan tidak hanya stabilitas kawasan, tetapi juga legitimasi Indonesia sendiri sebagai kekuatan tengah yang berpengaruh dalam tata kelola geopolitik global.

Entitas yang disebut

Organisasi: ASEAN

Lokasi: Laut China Selatan, China, Amerika Serikat, Filipina, Vietnam, Indonesia