Perspektif Global & Regional

ASEAN dan Tantangan Kohesi di Tengah Eskalasi Ketegangan di Laut China Selatan

22 Juni 2026 ASEAN, Laut China Selatan 10 views

Tegangan di Laut China Selatan menguji kohesi regional ASEAN melalui fragmentasi respons anggota akibat tarikan pengaruh China dan Amerika Serikat. Implikasi strategisnya mencakup mandegnya diplomasi, ancaman irrelevansi institusi, dan potensi kawasan menjadi arena proxy conflict. Indonesia, sebagai penyeimbang tradisional, dituntut inisiatif diplomatik kreatif untuk memulihkan peran ASEAN sebagai regulator ketertiban dan mencegah erosi stabilitas kawasan.

ASEAN dan Tantangan Kohesi di Tengah Eskalasi Ketegangan di Laut China Selatan

Peta dinamika keamanan di kawasan Indo-Pasifik saat ini didominasi oleh intensifikasi persaingan strategis di Laut China Selatan. Di tengah klaim teritorial yang tumpang tindih dan eskalasi aktivitas militer, baik dari China yang melakukan penguatan postur maupun Amerika Serikat bersama sekutunya yang meningkatkan patroli kebebasan navigasi, posisi ASEAN sebagai institusi penjaga stabilitas menghadapi ujian berat. Tantangan fundamental yang mengemuka bukan lagi sekadar mengenai penyelesaian sengketa secara bilateral, melainkan bagaimana kohesi regional yang menjadi landasan ASEAN mampu bertahan di bawah tekanan geopolitik kekuatan besar yang saling bersaing. Fragmentasi ini mengancam prinsip sentralitas ASEAN dan berpotensi menggeser kawasan dari zona diplomasi menjadi arena konfrontasi proxy.

Dinamika Internal dan Fragmentasi Akibat Tarikan Kekuatan Besar

Struktur konsensus ASEAN yang selama ini menjadi kekuatan sekaligus kelemahannya, kini terekspos dalam polarisasi respons terhadap ketegangan di Laut China Selatan. Analisis geopolitik menunjukkan pola yang jelas: negara-negara anggota dengan ketergantungan ekonomi dan investasi besar dari Beijing, seperti Kamboja dan Laos, cenderung mengambil posisi yang lebih lunak dan menghindari pernyataan kolektif yang dianggap konfrontatif terhadap China. Sebaliknya, negara dengan klaim langsung seperti Filipina dan Vietnam, yang juga memiliki pakta pertahanan atau kerja sama keamanan yang erat dengan Washington, mendorong respon yang lebih tegas dan terukur dari ASEAN. Dinamika internal ini bukanlah sekadar perbedaan pendapat biasa, melainkan manifestasi langsung dari persaingan pengaruh antara Amerika Serikat dan China, yang secara sistematis menggerogoti kapasitas ASEAN untuk bertindak sebagai satu suara yang solid.

Implikasi Strategis: Ancaman terhadap Sentralitas ASEAN dan Stabilitas Kawasan

Implikasi dari melemahnya kohesi regional ini bersifat multidimensional dan strategis. Dalam jangka pendek, hambatan paling nyata adalah mandegnya proses negosiasi Code of Conduct (CoC) yang efektif dan mengikat. Tanpa kesatuan posisi internal, daya tawar ASEAN dalam perundingan dengan China menjadi sangat lemah, berpotensi menghasilkan dokumen yang sarat dengan ambiguitas dan tidak mampu mencegah insiden militer. Perspektif jangka menengah dan panjang jauh lebih mengkhawatirkan. Jika fragmentasi ini berlanjut, ASEAN berisiko mengalami institutional irrelevance, di mana keputusan-keputusan penting mengenai keamanan kawasan akan semakin banyak diambil di luar mekanisme ASEAN, baik melalui aliansi minilateral seperti AUKUS maupun melalui tekanan bilateral langsung dari kekuatan besar. Scenario terburuk adalah transformasi Asia Tenggara menjadi arena proxy conflict, di mana ketegangan antara AS dan China dimanifestasikan melalui konflik terbatas atau kompetisi militer antar negara anggota ASEAN, sehingga meruntuhkan fondasi stabilitas dan integrasi ekonomi yang telah dibangun selama puluhan tahun.

Bagi Indonesia, situasi ini merupakan tantangan diplomatik dan strategis yang kompleks. Sebagai kekuatan pemimpin dan penyeimbang tradisional di ASEAN, serta negara yang memiliki kepentingan vital pada stabilitas alur pelayaran di Laut China Selatan, Indonesia tidak bisa berdiri di pinggir. Posisi strategis Indonesia menuntut peran aktif yang tidak hanya reaktif tetapi juga visioner. Kepentingan nasional Indonesia jelas terancam oleh dua hal: pertama, eskalasi konflik yang dapat mengganggu keamanan maritim dan perdagangan; kedua, marginalisasi ASEAN yang akan mengurangi ruang manuver diplomatik Indonesia di kawasan. Oleh karena itu, Indonesia dituntut untuk menginisiasi dan menggalang diplomasi kreatif, yang mungkin perlu beroperasi di luar kerangka formal yang tersumbat. Inisiatif seperti konsultasi terbatas (minilateral) dengan pihak-pihak kunci di ASEAN, atau pendekatan track-two diplomacy yang melibatkan kalangan pemikir dan mantan pejabat, dapat menjadi saluran alternatif untuk menjembatani perbedaan dan membangun kepercayaan. Tujuannya harus jelas: mempertahankan peran ASEAN sebagai regulator ketertiban regional, bukan sekadar spectator yang pasif menyaksikan erosi kedaulatan dan stabilitas kawasannya sendiri.

Refleksi akhir dari dinamika ini menggarisbawahi sebuah paradoks dalam tata kelola keamanan kontemporer. Di satu sisi, institusi regional seperti ASEAN dibutuhkan lebih dari sebelumnya untuk mengelola kompleksitas persaingan kekuatan besar. Di sisi lain, institusi tersebut justru paling rentan dilemahkan oleh persaingan itu sendiri. Ketegangan di Laut China Selatan dengan demikian bukan semata ujian bagi hukum internasional atau kekuatan militer, melainkan sebuah tekanan uji (stress test) terhadap ketahanan dan relevansi arsitektur keamanan yang dibangun berdasarkan konsensus dan netralitas. Masa depan kawasan akan sangat ditentukan oleh apakah ASEAN dapat menemukan kembali kohesi regional-nya, atau akan terpecah oleh tarikan magnetik dari China dan Amerika Serikat, yang pada akhirnya akan mentransformasi Asia Tenggara dari subyek menjadi obyek dalam peta geopolitik global.

Entitas yang disebut

Organisasi: ASEAN, Reuters, China, AS

Lokasi: Indonesia, Beijing, Laut China Selatan