Kebijakan Pertahanan

Analisis: Diplomasi Pertahanan Indonesia-Tiongkok dalam Bingkai Autonomi Strategis

21 September 2026 Indonesia, Tiongkok, Asia-Pasifik 12 views
Analisis: Diplomasi Pertahanan Indonesia-Tiongkok dalam Bingkai Autonomi Strategis
Kunjungan Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin ke Beijing pada 17 September 2026 menjadi penanda pergeseran mendalam hubungan pertahanan Indonesia-Tiongkok dari sekadar komunikasi politik menuju kerja sama terstruktur yang menyentuh kemampuan inti. Pertemuan dengan Wakil Ketua Central Military Commission (CMC) Tiongkok membahas penguatan Alpalhankam, dukungan logistik, perluasan latihan bersama, transfer teknologi, dan pertukaran informasi strategis. Konteksnya diperkuat dengan kehadiran Sjafrie dalam Beijing Xiangshan Forum yang mengusung tema stabilitas keamanan regional, menunjukkan dialog bilateral ini terintegrasi dalam wacana tata kelola keamanan Asia-Pasifik yang lebih luas. Dinamika ini tidak dapat disederhanakan sebagai pergeseran poros, melainkan perlu dianalisis melalui lensa strategi 'autonomi strategis' (strategic autonomy) Indonesia. Konsep ini, sebagaimana dikemukakan akademisi seperti Dewi Fortuna Anwar, menekankan upaya Indonesia mempertahankan agency dengan melibatkan berbagai kekuatan untuk memaksimalkan manfaat dan meminimalkan risiko. Kerja sama pertahanan dengan Tiongkok, khususnya melalui mekanisme dialog 2+2 yang semakin terinstitusionalisasi, dinilai memiliki nilai strategis jika secara nyata memperbesar kapasitas industri pertahanan domestik, ketahanan rantai pasok, dan profesionalisme TNI, sehingga memperkuat kemampuan Indonesia untuk menentukan pilihan strategisnya sendiri. Implikasi jangka pendeknya adalah pendalaman saluran komunikasi dan kerja sama teknis yang dapat meningkatkan interoperability tertentu. Namun, dalam jangka panjang, ujian sesungguhnya terletak pada kemampuan Indonesia menjaga kerja sama ini sambil secara konsisten mempertahankan posisi hukumnya di Laut China Selatan, yang berseberangan dengan klaim 'nine-dash line' Tiongkok. Keberhasilan mengelola kompleksitas ini—memperoleh manfaat kapabilitas tanpa mengorbankan prinsip kedaulatan—akan menjadi tolok ukur konkret dari autonomi strategis Indonesia di tengah persaingan kekuatan besar.

Entitas yang disebut

Orang: Sjafrie Sjamsoeddin, Dewi Fortuna Anwar

Organisasi: Central Military Commission (CMC), TNI, Beijing Xiangshan Forum

Lokasi: Jakarta, Beijing, Indonesia, Tiongkok, Laut China Selatan, Asia-Pasifik